Sang Penjelajah Cerita

1
537

Terinspirasi dari karakter kanak-kanak Dora The Explorer, saya pun coba mengonsep bahan-bahan untuk meningkatkan literasi anak-anak dalam hal baca-tulis. Program ini saya lengserkan di Penerbit TS dengan nama The Story Explorer yang kemudian berhasil menerbitkan beberapa judul buku karya anak-anak. Lalu, saya pun meningkatkannya menjadi sebuah konten digital berbahasa Indonesia “Sang Penjelajah Cerita”.

Senang sekali melihat tampilan awal buku interaktif yang dikerjakan Mas Erwin Skripsiadi sudah menampakkan wujudnya. Buku interaktif ini akan menjadi satu paket program yang sementara bernama GEBRAK LITERASI. Gebrak Literasi adalah program menginstall daya literasi anak-anak mulai usai 7-12 untuk cergas dalam hal baca-tulis. Program ini dibuat dengan kegiatan menyenangkan, termasuk menyisipkan kegiatan bermusik lewat mencipta lagu dan puisi.

Memang program ini juga akan diikuti dengan workshop offline yang dapat diselenggarakan berbagai kalangan dan kami akan membantu metode pelatihan agar anak-anak mau serta mampu menulis dengan baik, terutama dalam hal bercerita. Tiga materi yang menjadi muatan konten adalah menulis cerita, menulis puisi, dan menulis surat berunsur cerita serta puisi.

Buku interaktifnya sendiri siap dijalankan di PC, atau ditanam dalam perangkat tablet, seperti iPad, Samsung Galaxy Tab, ataupun Blackberry Playbook. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun dapat memulai belajar bagaimana menulis cerita.

Ya, program ini semua bermula dari kegelisahan atau bahasa populernya sekarang kegalauan ketika melihat kemampuan literasi sebagian besar anak-anak kita yang rendah. Padahal, Indonesia kaya akan kearifan lokal yang dapat menjadi bahan dasar (ide) literasi. Bayangkan, jika mau sedikit meriset dan berimajinasi, kita dapat mengembangkan dongeng atau cerita tentang pulau-pulau terdepan (terluar) di Indonesia atau mungkin kisah keindahan bawah laut di Raja Ampat, Papua.

Kegelisahan ini memperlihatkan momentumnya bagaimana kemudian para calon sarjana dibuat waswas dengan surat edaran dari Dikti tentang kewajiban harus menulis makalah/karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal ilmiah. Waswas karena para calon sarjana minim atau bahkan tidak sama sekali pernah mendapatkan pelajaran alur berpikir standar dalam menulis: prewriting-drafting-revising-editing-publishing.

Karena itu, keandalan literasi harus menjadi keandalan daya saing bangsa ini. Literasi juga berguna untuk mengontruksi mindset generasi kita seperti yang dilakukan Jepang lewat kisah Kapten Tsubasa sehingga sepak bola Jepang dapat naik prestasinya ke tingkat internasional.  Saya pun teringat akan gagasan KPK untuk menerbitkan karya literasi anak dengan topik antikorupsi. KPK sedang mengontruksi perikehidupan antikorupsi kepada anak-anak lewat karya literasi. Keberhasilannya sangat bergantung pada seberapa besar anak-anak mampu mengapreasiasi sebuah karya literasi–artinya seberapa mampu anak-anak beradaptasi dengan alam literasi itu sendiri, terutama basic literacy (membaca-menulis-berbicara-menyimak).

Semoga buku interaktif plus buku konvensional yang berfungsi sebagia modul workshop ini dapat rampung secepatnya. Lalu, program GEBRAK LITERASI pun akan bergulir menjadikan anak Indonesia cergas menulis….

 

:: catatan kreativitas Bambang Trim

© 2012 oleh Bambang Trim

 

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here