Salah Kaprah (Catatan Praterbit)

4
378

Dunia penulisan-penerbitan Indonesia tidak luput dari kasus salah kaprah seperti halnya juga banyak terjadi dalam penggunaan bahasa Indonesia. Alkisah sebuah penerbit di daerah Jawa Timur sulit mendapatkan izin usaha karena kantor dinas perindustrian di sana enggan mengeluarkan izin tersebut sebelum sang penerbit memiliki mesin cetak. Inilah kasus salah kaprah pertama soal definisi penerbit dan pencetak. Kemenperin sendiri sudah menetapkan bahwa industri penerbit dan pencetak adalah dua dari 14 industri kreatif yang dikembangkan di Indonesia.

Penerbit jelas berbeda dengan pencetak. Penerbit memiliki unsur utama unit kerja editorial yang terdiri atas editor, penata letak, ilustrator, dan penata sampul (desainer) dan ditambah unit marketing maupun unit lain yang biasa ada di dalam sebuah perusahaan. Penerbit biasanya memiliki perangkat kerjadesktop publishing. Keluaran penerbit biasa disebut pruf (cetak coba) yang siap dikirim ke pencetak.

Tidak demikian halnya dengan pencetak yang memang memiliki alat kerja mesin pracetak, mesin cetak, dan mesin pascacetak. Unit kerjanya adalah unit kerja produksi yang terdiri atas operator pracetak, operator cetak, dan operator pascacetak ditambah unit marketing. Apa yang disebut proses kreatif sebenarnya hampir tidak ditemukan di pencetak karena semua dikerjakan dengan mesin.

Jadi, penerbit belum tentu punya mesin cetak. Sebaliknya, pencetak juga belum tentu punya tim penerbitan (editorial). Kedua institusi ini jelas berbeda. Saya mengibaratkan penerbit seperti desainer fesyen, sedangkan pencetak adalah tukang jahit. Keduanya bisa berada dalam dua perusahaan yang berbeda. Kita berharap perbedaan ini lebih diperjelas setelah keluarnya UU Perbukuan Nasional yang sedang digodok DPR RI agar tidak ada lagi yang salah kaprah.

Demikianlah salah satu topik yang saya bahas di dalam buku Tak Ada Naskah yang Tak ‘Retak’: Panduan Profesional Editing Naskah yang akan diterbitkan TrimKom Maret 2012 ini. Penulisan buku ini memang didorong untuk memupuskan salah kaprah dalam dunia penulisan-penerbitan kita, seperti kasus prakata vs pengantar, recto vs verso, editor vs korektor (proof reader), self publisher vs vanitiy publisher, terjemahan vs saduran, gaya penulis vs gaya selingkung, dan deadline vs dateline.

Tidak tertinggal dalam buku ini saya paparkan teknik editing nas (teks) yaitu mechanical editing dan substantive editing agar pembaca dapat langsung mengenali dan dapat mempraktikkannya. Siapa pembaca sasarannya? Buku ini pas untuk dibaca para penulis, editor, guru, dosen, widyaiswara, mahasiswa, staf humas, jurnalis, dan staf komunikasi marketing.

Soal salah kaprah lagi, tentu tidak lengkap jika buku ini tidak menampilkan berbagai kasus kebahasaan yang menyebabkan karya tulis banyak mengandung kesalahan. Satu per satu kasus pun dibedah, terutama kasus yang berulang terjadi sehingga dianggap sebagai suatu kebenaran seperti kasus kata merubah yang seharusnya mengubah. Di samping itu, banyak pernak pernik kebahasaan yang saya ungkap, termasuk soal nilai rasa dalam pilihan kata (diksi).

Ada aneka tulisan yang menjadi objek bahasan buku ini, seperti artikel, berita, features, esai, makalah, dan laporan. Artinya, memang fokus pada naskah-naskah format pendek yang setiap hari mungkin menghiasi pekerjaan kita, baik sebagai penulis maupun editor. Walaupun demikian, untuk editing naskah lebih tebal lagi seperti buku, apa yang termuat di dalam buku ini dapat diterapkan.

Saya juga terdorong menulis buku ini memang karena literatur tentang editing miskin sekali di Indonesia. Hanya ada beberapa buku karya praktisi editing maupun akademisi yang dapat kita temukan, seperti karya Pamusuk Eneste, Sofia Mansoor, Mula Harahap, Dadi Pakar, Frans M. Parera, Sugihastuti, Wahyu Wibowo, dan Kunjana Rahardi. Akibatnya, kerja editing dianggap asing dan kurang penting. Saya sendiri sebelumnya telah menulis buku Memahami Copyeditingyang diterbitkan IKAPI DKI dan Taktis Menyunting Buku yang diterbitkan Maximalis.

Editing itu penting. Karena itu, editor adalah makhluk penting dalam jagat penulisan-penerbitan di mana pun. Seorang editor senior bernama David Rosenthal dari Random House menyebutkan bahwa editor seperti layaknya jenderal berbintang lima bagi setiap buku yang diterbitkannya. Editing juga menyentuh wilayah-wilayah yang menjadi mitos atau salah kaprah di dalam masyaraka penulis sehingga kemudian meluruskannya.

Tak Ada Naskah yang Tak ‘Retak’ galibnya memang demikian bahwa tidak ada naskah yang 100% error free. Dalam masyarakat yang masih gagap menulis ini dan juga masyarakat yang kurang menaruh perhatian terhadap perawatan bahasa, penerapan bahasa, maupun tata tulis, cenderung naskah-naskah yang dihasilkan masih diliputi banyak kesalahan, termasuk kesalahan elementer. Karena itu, rasanya perlu memandu para penulis mahir dalam swasunting (self editing) dan juga menguatkan kemampuan para editor (yang umumnya autodidak) untuk mahir dalam mechanical editing maupun substantive editing.

___________

Anda berminat memesan buku ini?

Prosedur pemesanan, transfer biaya sesuai dengan harga buku Rp48.000 + plus ongkos kirim Rp5.000 (Jabodetabek); Rp15.000 (Pulau Jawa) ke Rekening a.n. Bambang Trimansyah 2821405361 BCA KCP Maranatha atau Bank Mandiri 130-00-0572968-9.

Konfirmasi bukti transfer ke HP 081320200363 (Irma) atau email ke trimcomm@yahoo.com

Spesifikasi: 120 halaman; book paper; 14 x 21 cm; perfect binding. Cetakan terbatas 500 eksemplar.

 

 

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

4 KOMENTAR

  1. Definisi Penerbit dan Percetakan ala DPR:

    Penerbit: institusi yang bikin kita-kita di Senayan ini mengorbit dengan jor-joran gosip dan perilaku tak eloknya.
    Percetakan: Lha ini kan yang bikin kita jadi begini di Senayan, dan mengharuskan kita kejar setoran?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here