Drunken Writer

3
383

Alkisah seorang pemuda wara wari di toko buku Gramedia. Entah buku apa yang dicarinya, terkadang matanya justru lebih banyak memperhatikan pengunjung yang berseliweran daripada buku yang berjejeran. Sebuah kilatan membinarkan matanya.

“Aku harus menjadi penulis buku. Kelihatannya sesuatu sekali!”

Pemuda tadi bergegas pulang sambil mengingat-ingat sesuatu. Mengingat-ingat nama para penulis tentang bagaimana menulis buku yang dihafalnya. Ia enggan membeli buku itu karena merasa sayang “membuang” uangnya. Untung ada hp berkamera yang sempat digunakan memotret lembar biografi penulisnya. Nomor hp dan email sudah tersimpan.

Sang pemuda mengecek di Google dengan kata kunci penulis yang sudah diingatnya dan kata kunci ‘pelatihan menulis’. Waduh, banyak sekali, mana yang mau dipilih. Ya, tentu yang paling murah atau syukur ada yang gratis, yang paling bombastis boleh juga, atau yang paling bekenlah penulisnya. Namun, tiada satu pun yang menarik hatinya.

Ia mengingat-ingat satu orang penulis yang tinggal sekota dengannya. Penulis tanpa nama. Tampaknya boleh juga untuk diuji kedigjayaannya.

“Aku ingin belajar menulis,” ujarnya kepada sang penulis tanpa nama.

“Untuk apa?” tanya sang penulis.

“Biar terkenal!”

“Hmmm, cukup engkau melakukan kezaliman untuk terkenal, tidak perlu menulis!”

“Biar kaya raya!”

“Korupsilah selagi ada kesempatan, kamu akan kaya raya!”

“Aku tak punya kesempatan itu, apalagi jabatan,” kilah sang pemuda.

“Apa kamu lihat aku sudah kaya sebagai penulis?”

Sang pemuda terdiam. “Kalau begitu, ajarkan aku menulis saja!”

“Tanpa alasan dan tujuan?” selidik sang penulis.

“Ya sekadar menuntaskan kepenasaran. Ada apa dengan menulis?”

Sessi berlatih kanuragan menulis pun dimulai. Bukannya dilatih soal tema, topik, kata, kalimat, dan paragraf, sang pemuda malah diajak memetik daun. Sang pemuda diajak mencangkul ladang dan menanam. Lalu selepas siang, mereka berdua menikmati nasi panas, ikan asin, lalab, dan sambal terasi. Sang pemuda setelah kenyang menunggu sessi menulisnya.

Sang penulis malah menyerahkannya sebuah buku lusuh. “Coba baca buku ini! Kalau ada kata yang tak kaumengerti, cari artinya dalam kamus. Kalau ada kata yang salah ketik, tandai! Awas jangan sampai ada yang terlewat!”

“Pelatihan yang aneh…,” pikir sang pemuda.

Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, sang pemuda hanya disuruh memetik, menanam, makan, dan membaca, sekaligus mencari-cari makna dan salah ketik kata. Apa artinya semua ini? Dipikir-pikir sang penulis mirip drunken master, maksud hati belajar kungfu, yang diajarkan malah menyapu. Sang pemuda protes keras hingga ia tidak mendapatkan jawaban yang cukup memuaskannya. Dan tiga bulan telah berlalu tanpa menulis.

Ia merasa kapok berlatih menulis dengan orang yang tidak jelas. Penulis yang tidak ngetop; tidak punya akun fb, tidak punya akun twitter, apalagi blog, dan tidak sedikit pun memotivasi dengan kata-katanya, kecuali menyuruhnya melakukan ini dan itu. Ia pun meninggalkan sang penulis tanpa nama dengan kekesalan yang memuncak karena sudah menghabiskan waktu untuk hal tiada berguna.

Alkisah sang pemuda kemudian menemui banyak penulis beken. Ikut pelatihan mereka dan begitu bangga bisa berfoto bersama. Ia terlibat euforia, menerbitkan karya bersama-sama dalam antologi bermacam tema. Semakin hari ia semakin percaya diri, apalagi setelah satu naskahnya dinyatakan layak oleh penerbit antah berantah. Editor sang penerbit yang menyatakan karyanya oke banget dan pas dihargai Rp1,5 juta. Gembira bukan alang kepalang, sang pemuda memproklamasikan dirinya di mana-mana, tak lupa jejaring social media.

Tibalah saatnya. Tibalah masanya. Sang pemuda pun merasakan dirinya mampu untuk menjadi seorang master dalam menulis buku. Air matanya menitik ketika membayangkan masa-masa awal ia hendak menulis buku hingga ditipu sang penulis tanpa nama dengan jurus dewa mabuknya. Ia begitu berterima kasih pada keluarganya yang mendidiknya menjadi cinta membaca dan menulis, dan ia pun berterima kasih beribu untuk para guru-guru sejatinya yang memotivasinya: “menulis atau mati!”

Pelatihannya diminati para penulis pemula. Kata-katanya menyihir para penulis belia. Sampai salah seorang muridnya bertanya, “Apakah para penulis harus menjadi pembaca yang baik?”

Sang pemuda pun berpikir sejenak seperti mengingat sesuatu, “Oh ya, sebelum menulis saya memulainya dengan berlatih membaca dan menyenangi membaca!”

“Apa yang bisa kita dapatkan dari membaca itu?” tanya muridnya lagi.

“Belajar dari banyak penulis tentang menyusun kata-kata,” kata sang pemuda lagi.

“Caranya?”

“Menyelami kata per kata seperti mencari sesuatu. Bisa saja mencari suatu kata yang bermakna atau salah ketik!” jawabnya sekenanya. Alam bawah sadar sang pemuda membawanya pada apa yang dilakukannya bersama penulis tanpa nama.

“Apa lagi?”

Pemuda tadi tersenyum seperti mendapatkan ide. “Membaca itu bukan hanya membaca buku. Tapi bisa juga membaca alam sekitar. Merasakan sejuknya angin, mengenali tumbuhan dan hewan di sekitar kita, dan juga menikmati rasa pada setiap masakan. Kamu semua harus menggunakan panca indramu untuk menulis,” ujar sang pemuda bak seorang filosof sambil mengenang pengalamannya memetik daun, menanamnya, merebusnya, dan melahapnya bersama sambal terasi. Nikmat sekali.

Para murid sang pemuda sumringah. Puas dengan jawaban sang guru tanpa ragu. Sang pemuda tadi menutup sessi pelatihannya. Lalu, ia segera membuka fb kalau-kalau ada inbox atau komentar pada note yang baru dibuatnya tadi pagi. Namun, matanya tersangkut pada note yang di-tag seseorang. Judulnya: Drunken Writer. Ia pun membaca dengan saksama. Beberapa menit kemudian wajahnya berubah menjadi merah saga. Note itu dikutip salah seorang muridnya dan di akhir tulisan terpampang akun penulis tanpa nama….

Sang pemuda berada di antara hiruk pikuk para pengunjung Gramedia, nelangsa. Rupanya sedang ada bedah buku yang tengah menjadi buah bibir: DRUNKEN WRITER. Buku konyol penuh banyol tentang seorang pemuda yang ingin menjadi penulis lewat “jalan tol”. Sekian

 

Ba(ha)sa Basi Bambang Trim

©2012 by Bambang Trim

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

3 KOMENTAR

  1. semakin banyak yang dibaca, maka penulis akan semakin mampu memahami dan membandingkan karya-karya penulis yang sudah ada. dari sini, penulis akan mengetahui dimana sebaiknya dia memposisikan tulisannya di dalam masyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here