Meniru Menari Kata

0
340

Jelang pemilihan walikota di kota tempat tinggal saya, Cimahi, ada pemandangan menarik. Salah satu kandidat mencoba meniru gaya Jokowi dan Ahok dengan baju kotak-kotaknya. Rupa-rupanya strategi dikenali dengan kemeja bermotif unik ini mengilhami mereka juga untuk meniru cara serupa. Motif meniru memang untuk mendulang kesuksesan yang sama.

Dalam dunia kata-kata atau tulisan tiru-meniru sudah menjadi kelaziman. Peniruan paling parah adalah penjiplakan alias plagiat sehingga peniru sudah tidak lagi berpikir untuk membuat hal yang sama, tetapi mengakui suatu karya sebagai punyanya. Peniruan tak kentara adalah peniruan dengan mengadopsi ide-ide penulisan dan lahirkan dalam bentuk baru. Ada juga peniruan kamuflase lainnya dengan menarikan kata-kata sedemikian rupa sehingga orang menyangka itu memang karya yang sama sekali baru dan tidak mirip dengan yang ditirunya.

Mudah bagi seseorang yang terbiasa menulis untuk menyusun dan merangkai kata-kata. Namun, tidak mudah bagi seorang penulis untuk memunculkan formula gagasannya. Contohnya, seorang Aa Gym pada masa jayanya sangatlah kreatif menciptakan formula dari jembatan keledai kata-kata. Ada pola yang disingkat seperti 5 S (senyum-salam-sapa-sopan-santun) dan ada pula yang dikemas menjadi akronim seperti BEBAS KOMIBA (berantakan, rapikan; basah, keringkan; kotor, bersihkan; miring, luruskan; bahaya, amankan). Dengan meniru pola berpikir Aa Gym ini maka saya pun membantu beliau menuliskan buku-bukunya dengan formula pula. Misalnya, dalam buku Saya Tidak Ingin Kaya tapi Harus Kaya, saya menyodorkan formula kaya GIGIH (kaya ghirah, kaya ilmu, kaya gagasan, kaya iman, dan kaya hati).

Pembaca dapat menjejaki sebuah keandalan pemikiran penulis memang dari formula atau konsep. Robert Kiyosaki memenangkan hati pembacanya tak sekadar karena ia terampil menarikan kata-kata, tetapi juga membuat formula yang disebutnya Cashflow Quadrant. Begitupun Ippho Santosa menggunakan formula 7 Keajaiban Rezeki. Karena laris, ide dasarnya pun cepat ditiru. Setidaknya kemudian muncul buku soal rezeki, eufemisme dari kata ‘kaya’ setelah suksesnya buku Ippho Santosa.

Banyak tulisan ataupun buku yang dibuat memang sekadar meniru dan menarikan kata-kata. Ada tarian kata-kata tanpa bentuk dan tanpa makna. Ada tarian kata-kata yang dibuat sedemikian rupa; diindah-diindahkan dan dianggap sebagai motivasi paling bergizi. Namun, pembaca yang cerdas dapat mendeteksinya bahwa tarian kata-kata itu adalah peniruan dari yang sudah ada, apalagi tiada formula dan konsep baru yang dibawakan. Penulis yang sekadar meniru dan menarikan kata-kata memang tidak akan pernah eksis dengan tulisannya sendiri, bahkan tidak pula memberi pengaruh besar. Paling-paling mereka berharap mendulang sukses seperti pendahulunya. Dan mereka memang enggan berkreativitas menciptakan sesuatu yang mudah dikenali seperti halnya Jokowi-Ahok dengan baju kotak-kotaknya yang fenomenal.

 

Ba(ha)sa Basi Bambang Trim

Hanya5Alinea ©2012 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here