Ramadhan Menulis

2
548

Ruang Ramadhan memang lengang dan tak boleh terlewatkan bagi seorang penulis untuk menggoreskan kata-kata. Ramadhan selalu meninggalkan kesan sulit dilupakan, kesan yang menghunjam hati terdalam maka kata-kata menjadi untaian yang berima. Seperti kali ini saya menikmati Ramadhan tanpa lagi mendengar suara papa (ayah) saya. Ramadhan pertama tanpa beliau dan tinggallah lirih suara mama nun jauh di seberang sana. Kami mengiramakan kesyahduan Ramadhan kali ini.

Saya tetap larut dalam tulis-menulis seperti biasanya. Namun, di satu sisi juga terkadang hampa untuk menulis tentang kehidupan yang bergulir. Rasa kehilangan menghentikan semangat kreatif; inginnya larut dalam lamunan yang tak menghasilkan kata-kata. Ramadhan justru menghentakkan. Dalam ruang yang lengang dan syahdu oleh lantunan ayat-ayat suci, menulis adalah sebuah penuntasan. Bahwa hidup harus menerima kehilangan karena saat itu pun akan ada yang datang. Sesungguhnya bersamaan kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya bersamaan kehilangan itu ada kedatangan.

Akhir Juni lalu, usia saya menginjak kepala empat dan sebuah penuntasan yang pernah saya ucapkan bahwa saya akan lepas dari segala rutinitas kantor sebagai karyawan pada usia 40 tahun. Dan Januari 2012 saya benar-benar  lepas dari rutinitas kantoran itu serta menikmati rutinitas rumah kreatif yang ditangani sendiri. Pada Juni pula saya mendapat kabar istri tercinta kembali mengandung anak kami kedua. Sebuah kedatangan setelah kehilangan.

Maka pada Ramadhan, selain membaca, saya tetap menulis dan menulis. Saya melarutkan diri dalam kesyahduan, mengukir kata-kata pada naskah dan memimpikannya menjadi buku. Tidak ada buku yang tidak bermula dari impian, kecuali buku-buku instan yang kini banyak bertebaran. Pikiran dan rasa menjelajah pada ruang-ruang hikmah yang disediakan Ramadhan secara berlimpah.

Jika ditanya soal kelelahan, Ramadhan adalah penawarnya. Inilah saat melabuhkan berbagai kegundahan dan melangitkan doa-doa. Gundah dengan dunia tulis-menulis yang saya geluti saat ini. Gundah dengan dunia penerbitan yang saya ceburi hingga hari ini. Gundah dengan berita-berita di media massa. Gundah dengan orang-orang yang menjadikan kata-kata sebagai jeratnya. Saya hanya melangitkan doa terlepas dari gundah dan memikirkan dunia karut marut ini. Dan hari esok adalah doa saya untuk bertemu kembali Ramadhan serta kembali larut dalam tulisan. Aamiin.

Ba(ha)sa Basi Bambang Trim

©2012 oleh Bambang Trim

Hanya5Alinea pada Malam Ramadhan 1433 H.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

  1. # Saya kdg malu untuk menyatakan diri sbg penulis. Faktnya sy spt petualang. Dari satu bidang ke bidang lain biasanya sy bertahan sekitar 3 tahun. Tapi di dunia penulisan ini saya sdh lebih dari 4-5 tahun.
    # Akhir 2008, sy juga telah meninggalkan rutinitas kantor (penerbit), dan mulai merintis rumah kreatif penulisan bersama istri dan teman2 sebagai tenaga freelance.
    # Akhir 2009+2010, alhamdulillah, melalui karya2 penulisan itu Allah melapangkan rezeki shg memenuhi standar (kelayakan) hidup keluarga (jakarta)
    # Tapi hingga kini, rumah kreatif penulisan itu belum berdiri kokoh, mengingat produktivitasnya rendah. Entah jobnya kurang atau krn speed-nya rendah, atau krn kedua2nya.
    # Kini tengah di persimpangan jalan, mau terus memperkuat bangunan rumah kreatif penulisan, atau (berpaling) merintis (awal) lagi rumah produksi lain (non penulisan) yang sifatnya riil.
    # Alhamdulillah ‘ala kulli hal, kebimbangan ini tengah mengembalikan kesadaran saya untuk semakin mendekat kepada-Nya, hanya bergantung dan berharap pada-Nya.
    # Smg kebaikan dan keberkahan ramadan ini dapat mengantarkan kebaikan dan keberkahan pada jalan berikutnya, dan bertemu dengan orang-orang yang menguatkan. Amin YRA.
    # Trimksh ats tulisan Bpk yg inspiratif

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here