Profesi Tersembunyi Dunia Penulisan-Penerbitan Buku

12
1404

Secara umum banyak orang pasti tahu siapa saja yang terlibat dalam proses penulisan-penerbitan buku. Namun, mungkin ada juga yang belum mengetahui lebih jauh tentang dunia ini. Pengalaman sejak 1991 masuk dalam dunia penerbitan buku ketika studi di Program D3 Editing Unpad, lalu menjadi editor membawa saya menemukan banyak profesi tersembunyi di bidang penulisan-penerbitan. Artinya, tidak banyak yang mengenal bahwa ini sebuah profesi.

Ringkas saja saya tuliskan dalam blog ini.

  • Ghost Writer, profesi penulis yang akhir-akhir ini sering disebut dan dipadankan dengan kata penulis bayangan. Istilah ini memang mengacu pada pola kerja samanya yang seperti ‘hantu’. Seseorang atau sebuah penerbit merekrut seorang ghost writer demi membantu mewujudkan sebuah ide menjadi buku. Ghost writer memang menjual jasa kemampuannya mengeksplorasi ide, lalu menuliskannya yang bagi seseorang tanpa pengalaman penulisan sulit sekali. Karena itu, banyak tokoh penting yang merekrut ghost writer. Bayaran mereka boleh dibilang tidaklah kecil karena bisa seharga mobil atau paling tidak seharga motor Kawasaki Ninja. Ghost writer dapat dibayar per halaman ataupun per proyek, bahkan ada juga yang menetapkan bayaran per kata dari naskah yang ditulisnya. Nama seorang ghost writer layaknya ‘hantu’ tidak akan disebut-sebut di dalam sebuah karya.
  • Co-Writer merupakan profesi penulisan yang lebih sinergis dibandingkan ghost writer karena nama penulis akan dicantumkan di dalam karya setelah nama pemilik gagasan (author). Co-writer direkrut karena keahliannya menata tulisan sangat diperlukan, sedangkan sang pemilik gagasan tidak memiliki kemampuan atau waktu untuk menuliskannya. Contoh kolaborasi penulisan yang panjang seperti ini adalah antara Jack Canfield dan Mark Victor Hansen dalam serial Chicken Soup. Co-writer biasanya mendapatkan imbalan berupa pembagian persentase royalti dari penulis utama.
  • Acquiring/Acquisition Editor adalah seorang editor yang tugasnya menemukan penulis sekaligus naskah-naskah potensial untuk diterbitkan. Editor yang sering disebut editor akuisisi ini memang harus memiliki jejaring terhadap sumber-sumber naskah, baik itu orang maupun lembaga. Setiap hari tugasnya menelusuri gagasan-gagasan baru, mengamati tren, dan selanjutnya mencari penulis-penulis bertalenta untuk dipertemukan dengan penerbit. Profesi ini termasuk mengasyikkan bagi mereka yang berjiwa petualangan sekaligus suka menulis. Editor akuisisi juga akrab dengan penggunaan insting ketika harus berhadapan dengan para editor naskah dan marketing untuk mengegolkan sebuah naskah agar diterbitkan. Insting mereka menuntun keyakinan sebuah naskah akan sukses diterbitkan meskipun ini bisa berisiko terhadap jabatannya. Jika seorang editor akuisisi salah memprediksi penulis dan menolak naskahnya, lalu naskah tersebut diterbitkan penerbit lain dan sukses, tentu ia pun akan nangis bombay.
  • Copy editor yang lebih umum dikenal sebagai editor saja. Tugas utamanya memeriksa naskah dan memperbaikinya apabila terdapat kesalahan ataupun kelemahan. Copy editor umumnya berlatar belakang pendidikan kebahasaan karena pekerjaannya tidak lepas dari memperbaiki dan menyelaraskan bahasa pada naskah. Copy editor freelance atau lepas biasanya dibayar per karakter ataupun per kata pada setiap halaman naskah (manuskrip). Ada editor yang dibayar Rp7.500 per halaman, bahkan lebih. Masih ada juga beberapa penerbit yang membayar editor di bawah tarif semestinya yaitu Rp3.000 per halaman. Tarif sangat bergantung pada tingkat kesulitan naskah dan juga bidang naskah. Editing buku-buku sains tentu lebih mahal dibandingkan buku-buku ilmu sosial.
  • Proof reader atau pembaca pruf adalah profesi yang sangat diperlukan para penerbit, terutama mereka yang sangat peduli terhadap kualitas dan target error free. Pembaca pruf bekerja pada pruf (cetak coba) awal dan pruf akhir atau dummy. Proof reader bertugas menemukan kesalahan tik, kesalahan tataletak seperti penempatan gambar, juga terkadang kesalahan pencantuman data/fakta. Jadi, mereka bekerja setelah editor naskah bekerja memperbaiki naskah sehingga menjadi garda terakhir lolosnya naskah untuk diterbitkan atau dicetak. Proof reader biasa dibayar per karakter ataupun per kata yang dikoreksinya. Padanan lain proof reader yang sering kita dengar adalah korektor. Apa yang perlu diluruskan bahwa proof reader tidak sama dengan editor naskah atau copy editor. Proof reader bekerja pada naskah yang sudah ditataletak (pruf) dan berkonsentrasi terhadap typographical error (typo).
  • Indexer, profesi ini termasuk yang jarang dikenal di Indonesia yaitu profesi penyusun indeks (penjurus). Hal ini mungkin karena buku-buku di Indonesia jarang yang menggunakan indeks, di samping banyak orang pula yang tidak paham kegunaan sebuah indeks di dalam buku. Buku-buku referensi seperti ensiklopedia tentu sangat mementingkan adanya indeks sebagai panduan bagi pembaca mencari topik tertentu. Ada indeks tokoh, indeks lembaga, indeks momentum/tanggal tertentu, indeks geografi, dan tentunya indeks istilah. Bagi banyak penulis maupun editor, pekerjaan menyusun indeks ini termasuk melelahkan dan menyulitkan sehingga kemudian ada orang yang menawarkan diri menjadi indexer. Seorang indexer, tarifnya dibayar per kata yang diindeks. Dengan bantuan teknologi seperti software penerbitan In-Design saat ini, pekerjaan mengindeks dapat lebih mudah dilakukan. Namun, ya itu, memilih kata yang perlu dan harus diindeks butuh keterampilan tersendiri.
  • Book Packager, profesi yang satu ini sempat dibahas di dalam blog ini secara lebih luas. Ini merupakan profesi yang menggabungkan keterampilan menggagas dan mengemas tulisan menjadi buku siap cetak atau tercetak. Book packager kadang bermitra dengan para editor, layouter, desainer, dan ilustrator untuk menghasilkan buku pesanan ataupun buku garapan yang kelak ditawarkan ke penerbit. Book packager dibayar secara flat fee (jual putus) yang nilai sebuah buku bisa berharga jutaan, hingga puluhan, bahkan ratusan juta.
  • Book Publisist, ini juga profesi yang jarang terdengar di Indonesia yaitu profesi yang mendedikasikan dirinya untuk mengangkat sebuah buku ataupun beberapa buku dari penerbit atau dari seorang penulis/pengarang. Book publisist akan bekerja mengerahkan kemampuannya dalam komunikasi, termasuk public speaking. Tugasnya adalah melejitkan sebuah buku berikut penulis/pengarangnya hingga publik pun tertarik untuk membeli dan membaca buku tersebut. Tampaknya book publisist seperti seorang staf promosi, namun sebenarnya ia lebih dari itu. Book publisist juga orang yang terampil menulis sehingga ia dapat mengendalikan blog ataupun web seorang penulis ataupun yang dikelolanya dengan tulisan-tulisannya yang memikat. Book publisist juga menguasai pola pemasaran gerilya (guirella marketing) sehingga ia pun piawai memanfaatkan social media di internet. Seorang book publisist bekerja berdasarkan kontrak dari penerbit dalam rentang waktu tertentu.
  • Literary agent atau agen sastra, profesi yang juga jarang dilakoni orang-orang di Indonesia ini. Analogi kerjanya seperti manajer artis yang mengelola beberapa orang artis untuk ditawarkan dalam dunia entertainment. Literary agent mengelola atau mengageni beberapa penulis, membina mereka untuk menulis buku yang marketable, lalu menawarkannya ke berbagai penerbit mayor. Literary agent akan mendapatkan fee, biasanya dari persentase royalti yang diterima penulis. Jadi, literary agent ini seperti promotor penulis. Lakon literary agent biasanya dilakukan oleh para mantan editor penerbit yang kemudian mendirikan agensi penulis. Karena itu, mereka dapat memberikan nasihat-nasihat terhadap para penulis untuk memperkuat naskahnya, termasuk juga mereka punya insting yang baik mengenali calon penulis bertalenta.

Itulah beberapa profesi tersembunyi di dalam dunia penulisan-penerbitan buku yang kadang kurang diketahui awam. Namun, dalam dunia penerbitan global, mereka sudah eksis dan menawarkan jasanya di berbagai media. Semoga menambah wawasan Anda di dunia buku.

© oleh Bambang Trim

Bambang Trim, praktisi penulisan-penerbitan Indonesia yang telah berkiprah di dunia perbukuan sejak 1994. Berkarier awal sebagai copy editor, lalu memimpin beberapa penerbitan mayor di Indonesia. Ia juga telah menulis 130+ buku sejak 1994 hingga kini.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

12 KOMENTAR

    • Perensi atau resensor dari dulu juga sudah ada di Indonesia. Itu bukan profesi, hanya pekerjaan saja yang dapat dilakukan oleh siapa pun yang bisa menulis dan mereview. Profesi di sini tentu ada standar tarifnya, ada kode etiknya, ada ilmunya, dan ada pula standar kerjanya (SOP).

    • Indonesia tidak memiliki lembaga pendidikan formal penerbitan setingkat S1, hanya baru D3. Adapun negara seperti Malaysia sudah memiliki hingga tingkat S3. Profesi editor pun baru eksis sekitar akhir 1980-an. Kalau dibilang maju, perbukuan kita mungkin lebih maju daripada Malaysia. Hanya sokongan pemerintah terhadap industri kreatif ini minim sekali. Di pihak lain, para penerbit yang berdiri pun kebanyakan autodidak alias tidak memahami betul industru buku sejatinya, kecuali berharap untung dari bisnis ini, terutama proyek pemerintah. Alhasil, profesi-profesi tadi kurang dipedulikan keberadaannya.

    • Oh iya, Dixi sudah masuk kategori book packager meskipun awalnya kita mulai dari publishing service. Belakangan kita mulai membuat buku sendiri tanpa pesanan dari penerbit, lalu ditawarkan dalam bentuk dummy sudah jadi.

  1. Di antara profesi yang dijabarkan di atas, baru kali ini saya mengetahui ada orang yang menjadi indexer. Sependek pengetahuan saya, rata-rata penerbit di Indonesia menyerahkan tugas ini kepada copy-editor atau proof-reader. Mungkin karena itu juga, hingga sekarang saya belum pernah mendengar tokoh penekun profesi tersebut yang dapat dibilang terkenal. Wallahu a’lam.

    Terlepas dari semua itu, tulisan Pak Bambang begitu mencerahkan. 🙂

    • Iya betul, pekerjaan mengindeks biasanya dilakukan para copy editor meskipun selayaknya dilakukan penulis karena penulis yang paling paham isi bukunya. Hehehe, pastilah; profesi ini menuntut ketekunan, sama halnya dengan proof reader.

  2. assalamualaikum,, saya nur nadhirah dari uitm shah alam…saya nak tanya encik, dimana saya nak dapat nama dan nombor telefon pembaca pruf untuk tugasan saya

    • Tingkatan copy editing; bukan copy editor ringan, melainkan copy editing ringan. Copy editor itu orangnya. Tiap copy editing itu terbagi atas ringan, sedang, dan berat berdasarkan beban pekerjaan dan kondisi naskah. Ada yang hanya memerlukan edit ejaan berarti ringan Adapun yang memerlukan edit paragraf, struktur tulisan, dan penyajian, itu termasuk kategori sedang dan berat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here