10K Topik Buku Prospektif di Indonesia

0
1112

Sering saya ditanya ketika tahun akan berganti: Tema atau topik buku apa yang akan laku tahun depan? Berkernyitlah kening saya karena memang saya bukan cenayang yang tahu akan masa depan. Namun, sebenarnya dari sebuah tren dan kecenderungan pada 2-3 tahun sebelumnya bisa dirasakan buku-buku yang tetap bertahan dan tetap dicari calon pembaca.

Ada dua hal pandangan saya dalam soal jenis Fiksi, Faksi, dan Nonfiksi. Fiksi dan Faksi cenderung dibaca orang karena KEINGINAN. Sekali orang ingin maka buku pun akan booming. Nonfiksi cenderung dibaca orang karena KEBUTUHAN. Siapa yang mampu menelisik orang lagi butuh apa, tentu paling siap untuk berjaya.

Soal tren lihat saja dalam social media. Bersamaan dengan tren penggunaan twitter yang makin meraja, beberapa penerbit dan penulis pun berpikir untuk membukukan kumpulan tweet mereka. Muncullah tren buku kumpulan kicauan di social media ini. Kicauan ini dalam kategori campur aduk, bisa fiksi, faksi, atau nonfiksi. Orang beli juga sulit untuk diprediksi, apakah memang ingin atau memang perlu/butuh?

Kalau saya tentu merasa tidak ingin dan tidak butuh membeli buku yang isinya tweet-an meski dengan dalih pencerahan. Mengapa? Karena memang kumpulan kata-kata itu terlalu pendek untuk diajak berpikir dan kita pun cepat langsung berpindah ke tweet lain dan berpikir lagi. Ini membuat lelah. Namun, tentu saja seseorang bisa berkilah tweet-an itu bukan untuk dipikirkan. Lha, terus untuk apa? Dikoleksi dan nanti suatu waktu di-copas? Hehehe saya belum merasa ingin dan perlu.

Kembali soal tema/topik buku yang bakal laku. Saya lebih suka menggunakan kata prospektif–bersifat menjanjikan untuk masa depan atau punya harapan. Ya, ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan; terakhir saya berkiprah di dua penerbit buku umum skala nasional yang harus menggenjot produksi front list (judul baru) itu lebih dari 100 setahunnya atau rata-rata per bulan 15-20 judul.

Saya coba susun TOPIK 10K yang selalu memberi harapan daya jual memuaskan jika digarap menjadi buku.

  1. Kesalehan. Ini topik yang kagak ade matinye selama masih banyak orang yang ingin menghidupkan religiusitas dan menjadikan keberagamaan sebagai gaya hidup hakiki. Topik ini di Indonesia selalu juara untuk buku-buku religi Islam. Nah, masalahnya ada kecenderungan epigon ketika sebuah buku sukses mengangkat topik tertentu, akan muncul buku-buku lainnya bertopik sama. Alhasil, meskipun laku, penerbit buku religi harus terus mencari tahu topik apa yang kira-kira akan diperlukan calon pembaca dan berusaha menjadi trend setter. Buku tentang doa, shalat, shaum, dan haji telah membanjiri pasar. Tinggal bagaimana mengemasnya berbeda dari yang lain. Kadang-kadang suka senewen juga melihat penulis buku religi menulis topik yang sama di beberapa penerbit tanpa ada perbedaan berarti, kecuali judulnya diutak-atik.
  2. Kependidikan. Ini kategori buku edukasi di luar buku pelajaran. Topiknya beragam sesuai dengan bidang keilmuan. Buku-buku jenis ini jelas punya pangsa pasar yang luas yaitu para pelajar dan mahasiswa.  Konsistensi untuk menggarap pasar ini juga dapat memberikan keuntungan berarti.
  3. Kanak-kanak dan Kawula. Buku dengan topik khas anak-anak ataupun remaja (kawula) selalu laris manis manakala bisa mencuri perhatian pembaca sasarannya. Topik kanak-kanak dan kawula sangat luas karena penulis dapat menggunakan imajinasi yang juga sangat luas, baik dalam konteks keseharian maupun yang fantastik. Larisnya kategori ini menyebabkan banyak penerbit besar yang mengadakan imprint (lini) penerbitan buku anak dan remaja. Buku-buku ini juga menyasar calon pembeli para orangtua, terutama ibu rumah tangga yang paling banyak membelikan buku untuk anaknya. Jadi, selain daya pikat untuk anak sendiri, buku anak-anak pun harus mampu memikat orangtuanya.
  4. Kewirausahaan-Kekayaaan. Topik yang selalu menjadi magnet banyak orang usia produktif adalah dalam bidang bisnis dan entrepreneurship. Kadang-kadang terkesan sangat bombastis dan menggampangkan soal menjadi kaya. Namun, ternyata itu yang disukai banyak orang di Indonesia–senang dengan iming-iming, mimpi, motivasi, dan kisah-kisah heroik sekaligus menakjubkan tentang orang-orang sukses. Topik ini juga dipicu peningkatan jumlah kelas menengah Indonesia yang rata-rata memiliki latar belakang pendidikan serta ekonomi cukup baik. Mereka senang dengan tantangan baru, terutama di dunia bisnis. Beberapa tahun ke belakang, peminat buku-buku jenis ini adalah para member MLM yang juga memicu terjualnya secara laris buku-buku semacam Rich Dad Poor Dad dan The Secret.
  5. Kesehatan-Kecantikan. Ini buku dengan pembaca sasaran yang luas pada kaum wanita. Mereka orang-orang yang peduli pada kesehatan dirinya dan keluarganya sehingga buku-buku kesehatan kerap menjadi incaran mereka, apakah itu tentang terapi jus, khasiat buah manggis, atau food combining. Selain itu, topik-topik cantik juga tetap menjadi kebutuhan kaum wanita. Perhatikan saat ini banjirnya buku-buku hijaber yang menyasar wanita Muslim kelas menengah tersebab mereka ingin tampil gaya dengan balutan hijab (jilbab) di kepala dan lehernya.
  6. Keluarga. Sama halnya dengan buku kesehatan, pasar utama buku keluarga atau parenting ini adalah ibu rumah tangga. Buku-buku kategori pendidikan anak biasanya laris manis, termasuk buku yang spesifik seperti pendidikan dan pengasuhan anak berkebutuhan khusus. Kasus-kasus anak yang mengalami gangguan sejak lahir dan dialami sebuah keluarga menjadi topik yang juga pantas diangkat sebagai solusi kehidupan keluarga modern kini.
  7. Kesenangan-Keterampilan. Ini buku yang kadang ditekuni penerbit-penerbit tertentu sebagai buku hobi atau buku keterampilan. Ada hobi pertanian, hobi memelihara hewan, hobi otomotif, dan hobi-hobi lainnya yang tidak pernah sepi peminat. Hobi juga melahirkan tren seperti hobi memelihara tumbuhan daun “gelombang cinta” (anthurium) yang sempat menggila. Meskipun dianggap tidak rasional, itulah tren yang pada waktu tertentu bisa begitu mengasyikkan bagi para penyukanya. Nah, Anda tentu harus menceburi diri dalam bidang hobi dan keterampilan ini sebelum memanfaatkan tren untuk menuliskannya. Siapa tahu bakal ada bunga liar kelak yang awalnya tak berharga tiba-tiba menjadi primadona dengan harga puluhan juta hingga ratusan juta rupiah. Nah, beberapa tahun silam, ingatkah Anda fenomena buku cara beternak jangkrik?
  8. Kisah. Inilah buku yang masuk ranah fiksi berupa cerpen, novel, atau drama. Satu lagi masuk ranah faksi berupa biografi, autobiografi, atau memoar. Dua-duanya selalu menarik apabila mampu mengetengahkan kisah yang mengharu biru pembaca seperti halnya Ayat-Ayat Cinta atau faksi bertajuk Habibie dan Ainun. Para penulis bidang ini harus jeli melihat sebuah cara baru menyajikan kisah dengan topik-topik yang sudah pernah ada, seperti cinta, persahabatan, pendidikan, pertentangan budaya, atau petualangan. Dalam ranah faksi, temukanlah para tokoh yang kisah hidupnya layak dibukukan, baik dalam bentuk biografi/autobiografi maupun novel sebagai fiksi berbasis kisah nyata.
  9. Komputer. Sejak lebih dua puluh tahun lalu, komputer telah menarik perhatian orang untuk dipelajari dan dikuasai. Selama itu masa terus berganti dan teknologi bersicepat menawarkan berbagai kemudahan dan kecanggihan. Buku komputer pun tetap eksis meski umurnya sangat pendek antara 1-2 tahun sebelum muncul lagi teknologi paling baru. Bagaimana sebuah buku petunjuk tentang iPad dapat bertahan lebih dari setahun ketika kemudian muncul lagi produk iPad II? Begitulah teknologi yang cepat berubah memang berisiko, tetapi buku komputer tetap “seksi” sebagai produk pendamping bari para user yang ingin menjadi master.
  10. Kontroversial. Buku yang satu ini memang harus memenuhi satu syarat: Penulis dan Penerbit sama-sama berani menerbitkannya. Buku kontroversial bisa saja berisiko digugat orang atau kelompok lain. Buku kontroversial juga bisa saja ditentang orang dan secara radikal dibakar, tetapi di sisi lain bisa dijawab pula dengan buku. Semakin kontroversial maka akan semakin dicari orang dan bersiaplah Anda “merayakannya” karena akan tersebar bajakannya di jalan-jalan. Kontroversi memang selalu menarik hati: apakah itu dengan cara membongkar sebuah kejahatan, meluruskan sejarah yang bengkok, atau mengajukan satu pendapat yang melawan keyakinan banyak orang selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Itulah Topik 10K yang dalam penewarangan saya–meskipun saya bukan cenayang–akan tetap dicari calon pembaca, tentu dengan syarat-syarat buku baik yang harus terpenuhi, yaitu andal dalam CONTENT, andal dalam CONTEXT, dan andal dalam CREATIVITY, sekaligus mampu membangun sebuah kekuatan COMMUNITY. Kalau ditanya detail lagi, rahasia ada pada pelatihan-pelatihan yang saya selenggarakan dan buku-buku yang saya tulis tentang hal ini. Selamat berkarya.[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here