Tersedia E-Book Rp0

1
452

Bisnis eBook memang baru menunjukkan tanda-tanda menggeliat di Indonesia seiring bertumbuhnya juga penjualan device berupa tablet. Sekitar tahun 2008-an, sebuah eBook store lokal bernama Papataka.com mencoba mengenalkan perangkat eBook reader yang mirip Kindle keluaran Amazon. Namun, masa itu perangkatnya masih berharga sekitar Rp2 jutaan dengan layar hitam putih dan memang hanya berfungsi sebagai eBook reader.

Papataka.com sendiri mulanya menjual eBook berbahasa Inggris dengan harga rata-rata cukup tinggi di atas seratus ribuan. Namun, buku-buku lokal juga kemudian diadakan dengan harga rata-rata Rp20.000-Rp30.000-an.

Akankah bisnis eBook bertumbuh kembang juga di Indonesia seperti yang terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika? Revolusi bisnis eBook memang dipicu oleh Amazon.com yang awalnya sebagai online book store. Ketika melihat perkembangan penjualan eBook dan device seperti Kindle menaik, Amazon.com pun mengambil keputusan yang membuat jengah para penerbit yaitu mendirikan Amazon Publishing untuk memproduksi eBook.

Tidak tanggung-tanggung Amazon merekrut seorang praktisi perbukuan yang terkenal “bertangan dingin” melahirkan buku-buku best seller. Amazon pun memberlakukan advance fee (uang muka royalti) yang tinggi untuk mengakuisisi naskah-naskah bagus dari para penulis. Dan eBook pun melenggang memasuki pasar yang sudah mulai menaik dari tahun ke tahun seiring juga munculnya teknologi tablet yang menjadi gaya hidup.

E-book memang didengung-dengungkan sebagai sebuah revolusi dalam dunia penerbitan yang mengancam eksistensi buku kertas. Walaupun demikian, persentase penjualan eBook yang meningkat dari tahun ke tahun, belum signifikan mengimbangi penjualan paper book (pBook). Namun, harga eBook yang lebih efisien memang menarik banyak hal.

Dari sisi penerbit, eBook telah memangkas biaya cetak dan biaya distribusi. Dalam eBook hanya tinggal biaya royalti, biaya editorial, dan biaya promosi. Biaya cetak yang biasanya memakan persentase 20%-25% menjadi 0%. Biaya distribusi dan gudang juga menjadi tiada. Hanya eBook store tetap memberlakukan diskon sebagai jasa mereka menyediakan platform dan memajang buku hingga terkadang 50%. Namun, dengan biaya 50% untuk penerbit, penerbit bisa menaikkan royalti penulis ke angka >15%–sesuatu yang tidak mungkin dilakukan penerbitan tradisional pBook saat ini.

Dengan asumsi hilangnya biaya sekitar 30%, penerbit dapat menetapkan harga eBook tiga perempat, bahkan setengah dari pBook. Misalnya, sebuah pBook dijual di pasaran seharga Rp50.000 maka eBook-nya dapat berharga Rp30.000 atau Rp25.000. Namun, pada buku-buku front list alias judul baru, harga eBook dapat dipertahankan pada harga standar pBook disebabkan adanya minat yang tinggi dari pembaca. Hal itu tampak pada laporan yang dikeluarkan Digital Book World.

Pandangan masyarakat awam bahwa harga eBook harus lebih murah dari pBook sebenarnya didasarkan pada produk-produk back list yang umumnya out of print (sudah tidak tersedia lagi versi cetaknya). Buku back list tentu sudah menihilkan juga biaya produksi editorial (editing + layout + desain kover + ilustrasi) karena biaya tersebut sudah dikeluarkan pada saat terbit versi cetaknya. Dengan demikian, penerbit dapat menetapkan harga eBook lebih murah. Dengan demikian, 50% dari komponen biaya yang menjadi milik penerbit hanya tinggal dialokasikan untuk royalti penulis serta biaya promosi tentunya.

Jadi, untuk sebuah produk front list, para penerbit tentu masih pe-de menjualnya dengan harga yang tinggi. Inilah juga yang mendorong para pelaku self-publishing di Eropa dan Amerika makin bersemangat untuk menghasilkan lebih banyak lagi dollar dari penerbitan bukunya. Mereka punya kesempatan memajang bukunya di daftar best seller dan bersaing dengan penerbit besar, tentu dengan harga eBook yang juga bersaing.

Namun, ada pilihan lebih hebat yang sempat diulas oleh Chris Anderson dalam bukunya FREE: The Future of Radical Price (telah diterjemahkan Gramedia dengan judul Gratis). Ebook ditetapkan dengan harga Rp0 alias gratis! Kok bisa? Ya, memang bisa ketika eBook menihilkan banyak biaya dan yang tinggal adalah sebuah konten penuh daya.  Konten inilah yang dijual dengan Rp0 dan sang penerbit ataupun sang penulis berharap ada efek samping yang luar biasa terjadi. Itulah yang kemudian disebut sebagai harga Freemium.

Kini telah mulai menggeliat para eBook store, seperti Wayang Force, Qbaca Telkom, XL Baca, dan tentu yang terjadi yaitu Gramediana. Di antara mereka ada yang menyebut layannnya sebagai ekosistem buku digital. Ekosistem ini akan menarik perhatian orang untuk berkunjung jika di sana ada fitur-fitur dan ada gimmick yang tersedia, salah satunya produk dengan harga Rp0.

Bagi saya yang juga seorang penulis sekaligus pengembang buku (content and book developer) tentu juga ada kecenderungan akan  menciptakan berbagai produk buku dengan Rp0 dan kemudian ditawarkan kepada banyak eBook store sebagai gimmick. Penulis dan penerbit akan mendapat benefit dari iklan atau dampak positif lainnya, termasuk branding. Yang gratis ini memang selalu menarik dan harus benar-benar gratis tanpa ada tanda * (syarat dan ketentuan berlaku).[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here