Tidak Ada Habisnya Menuliskan “Indonesia”

0
398

Poster Launch2

Sore dengan guyuran hujan lebat di daerah Srengseng Sawah tidak mengurungkan niat 150 orang lebih menghadiri Seminar Penulis Kreatif: Writerpreneur 3.0 yang digagas Writers Incubator (WritInc) dan didukung oleh Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia), Qbaca Telkom, serta anak-anak muda dari D!Yours. Pukul 16.00, seminar Minggu, 10/2/13 itu pun dimulai di Kampus Polimeda dan dibuka langsung dengan kata sambutan dari Direktur Polimedia, Bapak Bambang Wasito Adi.

Indonesia ini surga konten, tetapi negeri yang “miskin” sekali mengambil peduli soal penulisan dan penerbitan buku, demikianlah papar Direktur Polimedia. Ia pun menyampaikan tentang visi Indonesia menjadi guest of honour Frankfurt Book Fair 2015–sebuah ajang pameran buku terbesar, tertua, dan paling bergengsi di dunia. Namun, guest of honour sebagai sebuah kebanggaan bangsa yang besar dengan kekayaan literasi yang tinggi alih-alih hanya menjadi sebuah mimpi manakala kita tidak siap memajukan dunia penulisan dan penerbitan secara serius.

Di tengah kemajuan yang seret untuk membangun masyarakat menulis dan masyarakat membaca (writing & reading society), tentu upaya seperti seminar kepenulisan yang diselenggarakan WritInc ini ibarat setetes embun di tengah kemarau bimbingan kreativitas penulisan yang profesional. Mengapa profesional? Kita memerlukan muatan profesional karena kita pun sedang menghadapi persaingan secara profesional.

Profesional ini pula yang dicontohkan seorang Zulfikar Fuad dengan mengambil spesialisasi penulisan biografi/autobiografi. Perusahaan penulisan yang dipimpinnya telah mengantongi omzet 2-3 M hanya dari menjual jasa ide dan pengembangan penulisan untuk para tokoh. Zulfikar yang juga mantan murid langsung dari maestro biografi, Ramadhan KH, bahkan menantang para peserta yang sebagian besar berusia muda tersebut dengan rekrutmen jika mereka serius masuk industri penulisan.

Lain lagi paparan Yunus Kuntawi Aji yang mewakili kaum muda dari Generasi Y yang menyatakan bagaimana social media saat ini sangat berpengaruh mendorong persebaran tulisan dalam masyarakat internet yang didominasi kaum muda (Gen Y yang lahir pada tahun 1980-1990-an). Tulis-menulis sebagai salah satu pilihan kreativitas bagi Gen Y bisa memberikan dampak yang positif untuk kaum muda, apalagi jika sang penulis memiliki followers dengan jumlah signifikan hingga jutaan orang. Yunus yang juga menulis buku kali pertama dengan self-publishing ini membeberkan fakta bagaimana bukunya justru melanglang ke berbagai belahan dunia disebabkan eksistensinya di social media.

Puncak seminar ditutup paparan saya sendiri, Bambang Trim, tentang Writerpreneur 3.0 yang saya sebut sebagai langkah enlightment (pencerahan), explore (penggalian potensi), dan empower (pemberdayaan). Saya mengambil sebuah persepsi dari kegetolan negara seperti Australia mempelajari segala sesuatu tentang Indonesia. Sampai-sampai muatan tentang Indonesia dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan mereka, terutama materi tentang bahasa Indonesia. Sebagian dari kita mungkin bangga bahwa muatan Indonesia dipelajari negara lain. Namun, di satu sisi seperti yang saya kemukakan tetap tersirat kekhawatiran bahwa mereka kelak akan sangat mengetahui tentang Indonesia, termasuk kekuatan literasinya–sementara kita sendiri abai terhadapnya.

Indonesia adalah surga konten yang tidak akan ada habisnya untuk dituliskan. Jika ada bangsa lain yang menaruh minat terhadap konten tersebut dengan pengembangan serius terhadap kemampuan literasinya, merekalah yang akan menuliskan tentang Indonesia dengan sangat baik dan profesional kelak–bukan kita!

Penulisan dan penerbitan sebagai industri kreatif di negeri ini pun akan menghadapi sesuatu yang tidak kita bayangkan. Bagaimana jika Amazon.com berminat juga masuk ke Indonesia ketika eBook juga bertumbuh pesat di sini? Amazon pun akan mengumpulkan sekian konten dari Indonesia untuk diproduksi dalam bentuk eBook. Jika para penulis Indonesia tidak mampu menyiapkan karyanya secara profesional, mereka pun akan mencari siapa yang mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan menulis dengan baik. Mereka siap bersaing dengan eBook store lainnya dalam lokal Indonesia. Namun, yang lebih menyedihkan jika mereka mampu bersaing dari sisi konten, bukan hanya teknologi.

Karena itu, Ardian Syam dari Qbaca Telkom juga mengingatkan soal ini dan bagaimana Qbaca Telkom juga serius mendukung kegiatan pengembangan literasi, terutam dalam melahirkan para penulis profesional. Qbaca Telkom berminat memberikan beasiswa penulisan bagi mereka yang ikut program WritInc dan salah satu targetnya adalah menerbitkan eBook karya peserta.

Jalan menulis adalah jalan intelektual bagi mereka yang hendak membagikan ilmunya ke sebanyak mungkin orang. Jalan menulis adalah jalan kearifan bagi mereka yang ingin mewariskan sebuah kebajikan kepada generasi penerusnya. Jalan menulis adalah jalan fakta sesungguh bagi mereka yang ingin mewariskan sejarah yang lurus. Jalan menulis dan menerbitkan harusnya juga menjadi jalan bangsa yang besar dengan segala kekuatan sumber dayanya. Itulah sebabnya sebuah kerja kecil semacam Writers Incubator sebagai pusat penjinakan bakat dan pemanasan para penulis profesional perlu dikembangkan. Mengapa? Karena tidak akan ada habisnya menuliskan Indonesia dari generasi ke generasi. []

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here