Ada Apa dengan Tinta?

0
338

Barusan ngetweet iseng: Ada apa dengan tinta? Macet menuliskan cinta.

lovewriting

Berkisah soal cinta memang datangnya seolah tak terduga. Namun, pasti ada benih yang ditebar lebih dulu, sadar atau tidak sadar dan bertumbuh. Kadang tumbuh seperti tanaman liar atau kadang tumbuh bagus karena dipupuk terus. Atau layu sebelum berkembang.

Tapi, apa hubungannya tinta dengan cinta? Bagi para pujangga pastilah terhubung dengan “mesra” antara tinta dan cinta.

Sebab cinta bukan tinta maka tetesnya tak membekas tanda. Sebab tinta bukan cinta maka yang tertulis tidak melampaui makna. Maka tinta dan cinta harusnya berpadu memberi tanda dan melampaui makna. — Hai begitulah kata para pujangga.

Tinta memang sejak dahulu kala menjadi penghantar kata-kata yang kadang bermuatan cinta. Ada yang tersampaikan dan ada yang tetap tersimpan. Cinta orangtua pada anaknya; cinta anak pada orangtuanya. Cinta kekasih pada pujaan hatinya. Cinta hamba pada Sang Maha Pencipta.

Kini kita tidak lagi memerlukan tinta karena tergantikan dengan huruf-huruf digital yang muncul seketika. Hanya karena jika kita ingin tetap melihatnya pada kertas, tinta pun berwujud menyatu sebagai “nyawa” dari mesin pencetak. Tercetaklah kata-kata dari tinta dan kadang mengabadikan cinta.

Tinta berjasa mengalirkan kata-kata. Kata-kata tersusun dari olah pikir dan terutama olah rasa maka mampu menghasilkan sesuatu yang berdaya cinta. Karena itu, orang harus berhati-hati dengan kata-kata sebelum mengeksekusinya di ujung tinta. Sebab apa? Kata-kata juga bisa melukai cinta dan pabila sudah tertuliskan dengan tinta, sulit menghapusnya kembali dengan fakta-fakta.

Ada apa dengan tinta?/ Tersendat menuliskan cinta/ Benarkah telah habis kata-kata?/ Rindu pun tak lagi menyiratkan fakta/ Dan kenangan terkepung menyempurnakan derita/ Semua tentang kita/ Tak lagi tertulis pada tinta/ Tersedak dalam cinta/ Terlampaui meninggalkan cita/ Menulislah tanpa tinta.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here