5 Kedahsyatan Menulis Buku

3
481

BT-5

Dalam ranah akademis, kriteria buku dipatok adalah lembaran tercetak dan terjilid, bukan berkala, dengan ketebalan isi minimal 49 halaman. Dalam hal ketebalan ini jelas buku melampui ketebalan tulisan pendek semacam artikel atau esai, bahkan juga tulisan menengah seperti makalah.

Meskipun masih kurang dari 100 halaman, tetap saja para akademisi masih sulit menuliskan dan menerbitkan bukunya.  Banyak yang masih terkungkung pada pola pikir lama bagaimana menyajikan buku. Alhasil, untuk membuat buku setebal 56, 64, ataupun 72 halaman masih banyak yang kesulitan.

Buku itu memang dahsyat sehingga dianggap sulit karena buku dapat menjadi wahana peningkatan derajat kefasihan seorang guru/dosen/widyaiswara. Berikut kami sajikan 5 kedahsyatan menulis buku bagi para akademisi.

  1. Menulis buku meniscayakan pengawetan gagasan, pengetahuan, dan pengalaman si penulis sehingga pembaca dari berbagai zaman dapat mengoneksinya. Penulis pun meninggalkan sesuatu yang bermanfaat dan dapat digunakan banyak orang.
  2. Menulis buku  menjadi cermin kemajuan sang penulis manakala ia menjadikan buku sebagai refleksi terhadap perkembangan ilmu dan kompetensinya. Boleh jadi si penulis telah menulis buku pada tahun 2010, lalu pada tahun 2013 ketika ia kembali membaca bukunya, ia pun menemukan kenaifan dirinya. Tentu hal ini menjadi pemelajaran berharga untuk kemajuan diri.
  3. Menulis buku menghimpun banyak benefit, termasuk dalam bentuk uang ataupun dalam bentuk yang tidak ternilai dengan uang. Hal yang tidak ternilai itu salah satunya adalah ketika buku menjadi sarana perubahan diri bagi seorang pembaca. Bentuk terima kasih pembaca kadang terwujud dalam hal-hal yang tidak terduga.
  4. Menulis buku menguatkan eksistensi si penulis sebagai pengakuan atas ilmu dan praktik yang dikuasainya. Untuk itu, penulis pun layak diundang mengisi sebuah seminar, lokakarya, ataupun pelatihan. Selain itu, buku juga akan menguatkan eksistensi penulis di jagat maya, khususnya social media.
  5. Menulis buku dapat menyebarluaskan pengetahuan dan wawasan melampaui batas negara dan batas bangsa. Bayangkan jika suatu saat buku Anda terpampang di arena pameran buku internasional seperti Frankfurt Book Fair, lalu ada pembaca internasional yang mengapresiasinya. Buku pun menjadi wahana mengharumkan nama bangsa.

Itulah lima kedahsyatan yang dihasilkan apabila para akademisi menulis buku dan melakukan lompatan dalam kariernya. Kami di perajinbuku selalu siap membantu para akademisi mewujudkan mimpinya menerbitkan buku.[BT]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here