Buku Melanglangbuanakan Aku

4
919

Dari “obrolan” di layanan pesan blackberry, seorang teman meminta saya bercerita tentang pengalaman-pengalaman ke luar negeri. Duh, tentu saya mengingat momen-momen saat ke sana, tetapi tidak semuanya terekam dengan baik dalam memori kepala. Ada saja yang terlupakan.

Ada satu peristiwa saat kuliah yang membuat saya dulu yakin betul soal law of attraction alias hukum ketertarikan walau kemudian saya lebih percaya itu sebagai takdir yang baik karena ikhtiar dan renjana yang saya miliki. Peristiwa itu adalah saat mengikuti kuliah Ibu Sofia Mansoor ketika beliau berkisah tentang Frankfurt Book Fair. Hal yang membuat kagum ketika beliau selalu memberikan cendera mata untuk mahasiswa terbaiknya berupa barang dari pameran di luar negeri itu. Namun, saya tak pernah mendapatkan cendera mata itu karena tidak selalu menjadi yang terbaik. Di atas langit masih ada langit. 🙂

Tebersitlah saat kuliah itu sebuah niat dan tekad bahwa saya suatu saat harus bisa ke Frankfurt. Wah, uang dari mana? Itu kan Jerman, negeri di Eropa yang tentunya mahal sekali untuk pergi ke sana. Ya, namanya juga bermimpi dan saat itu ada acara populer di televisi swasta seperti mengolok-olok: mimpi kali yee ….

Namun, sejak 1999 impian saya itu pun terwujud. Ya, ke luar negeri dan kota yang pertama saya kunjungi adalah Frankfurt!

Frankfurt, Impian yang Menjadi Nyata

Plesiran keluar dari Bandung dan bisa pergi ke daerah lain pada awal-awal saya meniti karier rasanya saja sudah luar biasa, apalagi ke luar negeri. Karier saya sebagai editor memang melejit saat bergabung dengan Penerbit Grafindo Media Pratama di Bandung.

Mengapa karier saya bisa melejit? Karena saya juga menulis buku tidak sekadar menjadi editor. Itulah mengapa kelak saya mendorong dan mengompori begitu banyak editor untuk menulis dan tentunya menulis buku. Bukulah yang akan menjadi titian kita untuk melejitkan karier dan berbeda dari editor-editor lainnya.

Waktu itu, sosok saya “mulai dilirik” direktur tempat saya bekerja tersebab buku saya dinyatakan lolos dalam penilaian buku teks (NTEC) yang didanai Bank Dunia. Saya menulis buku bahasa Indonesia untuk SMP. Prestasi ini cukup mengejutkan bagi orang yang tidak terlalu dikenal seperti saya.

Saya terpilih bersama manajer saya kala itu (Ibu Evy) sebagai tim pertama yang diberangkatkan ke Frankfurt Book Fair tahun 1999. Itu terjadi setelah empat bulan saya menikah dan bukti bahwa rezeki memang ditambah setelah menikah :). Lalu, satu hal yang tidak pernah saya impikan, saya berangkat bersama Ibu Sofia Mansoor sebagai konsultan untuk memandu kami di Frankfurt.

Inilah keberangkatan saya pertama ke luar negeri, langsung menuju kota yang bandaranya tersibuk di dunia yaitu Frankfurt. Kami bertiga menumpang pesawat Lufthansa. Dalam rombongan yang dikelola Ikapi itu ada pula tokoh penulis Goenawan Mohammad, turut serta–waktu itu saya tak berani menyapa beliau saking segannya.

Di Frankfurt saya benar-benar menikmati bekerja menelusuri delapan gedung (hall) yang terdapat areal pameran seluas 38 kali lapangan sepak bola itu. Saya seperti menemukan “surga buku-buku” dan begitu takjub dengan suasana internasional di sana. Saya ingat, tahun itu yang menjadi tamu kehormatan adalah Hungaria.

Setiap hari dari hotel, pagi-pagi saya sudah menuju Messe–sebutan populer untuk arena pameran di Frankfurt. Sampai-sampai tawaran Ibu Sofi untuk jalan-jalan ke Heidelberg tidak saya amini. Saya sendirian kemudian berbaur dengan para pengunjung di Frankfurt Book Fair itu. Bekal kemampuan bahasa Inggris seadanya lumayan untuk sekadar bertanya dan menjawab pertanyaan.

Kami pulang tidak membawa target penerjemahan atau membeli copy right buku asing seperti lazimnya kunjungan penerbit ke sana. Kami hanya membawa begitu banyak katalog berikut buku-buku dan beberapanya diposkan, kemudian berbagi soal inovasi buku maupun bagaimana sebuah pameran buku digelar. Inovasi ini kelak banyak mewarnai kiprah Grafindo di kancah industri buku pelajaran nasional.

Bergaya di depan Hauptbanhof, stasiun kereta di pusat Frankfurt
Bergaya di depan Hauptbanhof, stasiun kereta di pusat Frankfurt

Tahun 2003 saya diberangkatkan kembali oleh Grafindo. Kali ini saya berangkat bersama dua rekan sekantor dan keluarga pemilik perusahaan. Saya diberangkatkan kembali sebagai orang yang dianggap punya konsep pengembangan buku, padahal saya baru kembali masuk ke Grafindo setelah sebelumnya hengkang dari sana pada tahun 2000.

Keberangkatan tahun tersebut sungguh istimewa karena kali pertama juga saya menginjakkan kaki ke Paris, Prancis. Itu memang kelebihan kalau berangkat sama para boss. Mereka berbaik hati mengajak kita juga turut serta plesiran ke negara lain di Eropa yang memang ditempuh cukup singkat dari Jerman.

Saya dengan rekan sekantor akhirnya bisa juga menikmati Menara Eiffel dan berjalan-jalan di pusat pertokoan Paris. Namun, tidak bisa membeli apa pun karena harga-harga di sana seperti Louis Vuitton ataupun Lacoste bukanlah untuk ukuran kantong kami yang hanya karyawan ini.

Beruntung kami bisa menikmati City Tour dengan bus wisata dan akhirnya singgah di Menara Eiffel. Namun, kesan pertama saya pada Paris adalah kota yang jorok di beberapa sudutnya, banyak pengemis (cenderung kurang aman), dan juga penduduknya kurang ramah, terutama jika ditanya dengan bahasa Inggris, mereka malah menjawab dengan bahasa Prancis.

Hasil jepretan saya, Paris kota yang kotor dan kurang bersahabat
Hasil jepretan saya taman di depan Menara Eiffel
Bangunan di Paris seperti melemparkan kita ke masa lalu.
Bangunan di Paris seperti melemparkan saya ke masa lalu.

Tahun 2009 saya kembali berangkat ke Frankfurt bersama direktur saya di Salamadani–saya sempat berkarier di PT MQS, lalu mengundurkan diri tahun 2008 dan kembali bergabung di perusahaan lama dengan membentuk penerbit baru bernama Salamadani. Di Frankfurt saya kebetulan sekamar dengan Pak Santo Manurung, pemilik usaha literary agent bernama Maxima. Dari beliau saya banyak mendapat informasi tentang negosiasi copy right dengan penerbit asing.

Saya membawa serta buku-buku terbitan Salamadani untuk dipajang di stan Indonesia. Buku saya berjudul Business Wisdom of Muhammad saw. ternyata diminati penerbit dari Inggris. Sayang saya tidak dapat memenuhi permintaan mereka untuk mengirimkan kopi terbitan dalam bahasa Inggris. Di sinilah saya melihat peluang betapa sebenarnya buku-buku berkonten religi Islam Indonesia dapat berterima juga untuk dijual hak ciptanya ke penerbit asing.

Jalan-jalan sore di sebuah sudut kota Frankfurt.
Jalan-jalan sore di sebuah sudut kota Frankfurt tahun 2009.
Buku-buku Salamadani, di antaranya karya Yusuf Mansur, dipajang di FBF 2009.
Buku-buku Salamadani, di antaranya karya Yusuf Mansur, dipajang di FBF 2009.
Hasil jepretan saya, Pak Santo tengah bernegosiasi dengan salah satu penerbit asing.
Hasil jepretan saya, Pak Santo tengah bernegosiasi dengan salah satu penerbit asing.

Kali ketiga ke Frankfurt membuat saya begitu akrab dengan kota ini. Direktur saya bersama suaminya menyempatkan diri ke Milan, Italia. Saya pun tinggal sendiri di Frankfurt meneruskan tugas. Saya mendadak jadi pemandu untuk Pak Santo berplesir ke tempat wisata kota. Wahana transportasi publik yang mudah, cepat, serta jelasnya panduan, membuat turis seperti saya tak gampang tersesat.

Tahun 2010 lagi-lagi saya kembali ke Frankfurt untuk kali keempat dan kali ini saya sudah berada di Penerbit Tiga Serangkai (TS), Solo, mengemban serangkaian tugas negosiasi. Baru kali ini agenda saya penuh dengan pertemuan negosiasi karena saya didampingi mentor saya di TS, Mr. Erwin Michael. Orang tua yang sudah berkiprah di TS sejak lama ini memang bule keturunan Belgia. Ia fasih berbahasa Jerman, Belanda, Belgia, dan tentu saja Inggris. Kami banyak memborong copy right di sana.

Di stan Indonesia bersama Mr. Erwin (berjas hitam) dan rekan-rekan Ikapi serta Polimedia
Di stan Indonesia bersama Mr. Erwin (berjas hitam) dan rekan-rekan Ikapi serta Polimedia

Itulah pengalaman saya ke Eropa dan impian ke Frankfurt telah menjadi nyata. Namun, saya masih tetap memiliki impian untuk dapat menginjakkan kaki lagi ke Frankfurt 2015, saat Indonesia resmi menjadi tamu kehormatan di sana.

Perjalanan ke Negeri Jiran

Malaysia tentu menjadi negeri jiran yang patut dikunjungi. Saya coba mengingat-ingat tahun berapa saya kali pertama mengunjungi Kuala Lumpur Book Fair. Ya, tahun 2003, beberapa bulan sebelum saya berangkat ke Frankfurt untuk kali kedua. Saya berangkat bersama dua orang rekan sekerja dari Grafindo.

Mejeng di depan stan Ikapi bersama kru dari Diandra dan Mbak Diana dari Dian Rakyat.
Mejeng di depan stan Ikapi bersama kru dari Diandra dan Mbak Diana dari Dian Rakyat.
Menyempatkan diri meniti jejantas udara di Menara Petronas.
Menyempatkan diri meniti jejantas udara di Menara Petronas.

Tahun berikutnya saya sudah berpindah kerja ke MQ Publishing milik Aa Gym. Dalam usia 31 tahun itulah saya sudah memegang jabatan direktur di MQ Publishing, lalu kemudian menjadi direktur di Mutiara Qolbun Saliim (MQS). Di Grafindo jabatan terakhir saya adalah Division Head of Publishing (setara GM). Di MQ-lah sepanjang 2003 s.d. 2008 saya beberapa kali mengunjungi Kuala Lumpur dan Singapura, terkait pameran buku maupun urusan bisnis dengan penerbit PTS Publishing di Kuala Lumpur dan juga dengan seorang pengusaha Malaysia.

Lawatan pertama bersama MQ adalah paket wisata ke Kuala Lumpur dan Putra Jaya. Saya pergi berkaitan dengan buku Aa Gym Apa Adanya: Sebuah Qolbugrafi yang mencapai sukses kala itu. Sebagai apresiasi, saya juga memberangkatkan seorang staf, Yopy Hendra yang banyak membantu saya pada awal-awal pembentukan MQ Publishing. Saya pun mengajak istri turut serta dengan biaya sendiri dari hasil royalti buku. Jadi, tahun 2003 tersebut saya tiga kali ke LN, yaitu Malaysia, Jerman, dan Malaysia lagi.

Istri saya di depan stan MQ, acara pameran yang digelar di Putra Jaya.
Istri saya di depan stan MQ, acara pameran yang digelar di Putra Jaya.
Di salah satu sudut bangunan Putra Jaya.
Di salah satu sudut bangunan Putra Jaya.
Aa Gym menyerahkan qolbugrafinya kepada salah seorang pejabat Malaysia.
Aa Gym menyerahkan qolbugrafinya kepada salah seorang pejabat Malaysia.

Selama di MQS, saya setiap tahun pergi ke Malaysia untuk menghadiri Kuala Lumpur Book Fair dan sempat juga melakukan perjalanan pertama ke Singapura lewat darat dari Kuala Lumpur bersama rombongan rekan dari Niaga Swadaya. Saya juga sempat ke Pukhet, Thailand, menghadiri sebuah acara peluncuran buku. Lumayan juga melihat satu sisi elok negara tetangga ini.

Tahun 2008 saya juga kembali mengunjungi KLBF dan membawa serta keluarga, istri dan putri saya Valya (kala itu 2 thn) serta dua orang staf dari MQS. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama putri saya ke luar negeri yang kemudian kami lanjutkan ke Singapura berwisata di sana. Saya membiayai perjalanan keluarga saya sekali lagi dengan royalti buku. Saya sendiri tetap gratis dibiayai kantor.

Paling akhir kunjungan saya bersama keluarga adalah ke Selangor dalam rangka memenuhi undangan Persatuan Editor Malaysia tahun 2011 untuk mengisi seminar editor di sana. Saya berangkat dari Solo. Akomodasi serta transportasi untuk saya pribadi sepenuhnya ditanggung pihak panitia. Dari Selangor, saya mengunjungi kakak ipar di Johor yang menjadi dosen di UTM. Rencana perjalanan ke Singapura gagal total karena saya tidak diperbolehkan masuk oleh imigrasi di sana dengan alasan yang tak pernah mereka sebutkan.

Mungkin untuk selanjutnya saya akan menghindari Singapura karena diharuskan melapor ke kedutaan mereka jika ingin masuk ke sana. Tahun 2012 saya pun terpaksa urung mewakili Ikapi kunjungan ke Singapura karena alasan tadi. Saya sudah mengunjungi negeri Merlion itu tiga kali dan kunjungan terakhir kala mengiringi Aa Gym bedah buku Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya di hadapan komunitas pengusaha Melayu di sana.

Seminar perdana Persatuan Editor Malaysia, saya menjadi pemakalah di sana.
Seminar perdana Persatuan Editor Malaysia, saya menjadi pemakalah di sana.
Bersama Valya di kawasan wisata Mines, Selangor, Malaysia.
Bersama Valya di kawasan wisata Mines, Selangor, Malaysia.

Filipina Boleh Juga

Ada kesempatan untuk berangkat ke Filipina tawaran dari Ikapi Pusat. Akomodasi selama di sana akan ditanggung pihak pengundang yaitu Penerbit REX. Senyampang digelar perhelatan Manila Book Fair 2010, Penerbit REX yang terbesar di Filipina itu mengundang beberapa orang untuk menghadiri Ikapi-REX Editor Forum. Saya pun tidak melewati kesempatan untuk menghadiri momen ini bersama rekan-rekan dari Ikapi.

Di depan stan Indonesia, Manila International Book Fair.
Di depan stan Indonesia, Manila International Book Fair.
Bersama rekan-rekan dari Ikapi: Kang Hikmat Kurnia (Agromedia), Mas JB (Gramedia), dan Kang Djadja (Yudistira).
Bersama rekan-rekan dari Ikapi: Kang Hikmat Kurnia (Agromedia), Mas JB Sudaryanto (Gramedia), dan Kang Djadja (Yudistira).
Nampang di depan hotel tempat menginap di Filipina.
Nampang di depan hotel tempat menginap di Filipina.

Perjalanan Spiritual

Hal tak terlupakan ketika berkiprah di MQS adalah perjalanan spiritual umroh dan haji. Saya sebenarnya berkesempatan umroh pada tahun 2003. Namun, jatah umroh itu saya berikan kepada staf di MQ Publishing kala itu (Yopy Hendar) karena saya merasa belum siap melakukan perjalanan spiritual.

Tahun 2004 saya pun berangkat umroh kali pertama sebelum kelahiran putri saya. Saya hanya diberi tahu dua minggu sebelum keberangkatan. Jadi, benar-benar minim persiapan. Untungnya, saya hanya bertugas sebagai asisten kepala rombongan (askarom). Umroh pertama ini alhamdulillah lancar jaya sekaligus kesempatan berdoa agar dikaruniai anak segera.

Tahun 2006, saya berangkat kali kedua sebagai kepala rombongan (karom) umroh dari MQ. Jemaah yang saya pandu adalah para pemenang kuis Ramadan Telkomsel. Waktu itu hampir semua pucuk pimpinan di MQ Corp pergi. Keberangkatan umroh kali kedua ini juga menjadi spesial karena bertepatan saat awal Ramadan. Jadi, saya merasakan juga Ramadan di Makkah dan Madinah, sekaligus menikmati juga kerja melayani para jamaah.

Lucunya para jamaah memang tidak tahu bahwa hampir semua karom di MQ itu adalah para direktur perusahaan. Saya malah dibelikan kurma dari seorang ibu jamaah yang baik hati. Mungkin tampang saya kala itu memang harus dikasihani :). Tapi, benar pengalaman mengangkat koper jamaah dan mencari-cari koper yang hilang sungguh sangat berkesan.

Di depan Masjid Nabawi tahun 2006.
Di depan Masjid Nabawi tahun 2006.
Hotel Trident, Jeddah
Hotel Trident, Jeddah
Malam hari di masjid terapung, Jeddah.
Malam hari di masjid terapung, Jeddah.

Perjalanan haji juga sangat mengesankan bagi saya. Hampir saja nama saya dicoret dan tidak jadi diberangkatkan. Pasalnya, karena kesibukan luar biasa di MQS, saya jarang hadir dalam manasik karena diposisikan juga sebagai karom. Dari informasi yang saya ketahui akhirnya saya diloloskan karena Aa Gym melarang nama saya dicoret dan saya diberangkatkan sebagai jemaah biasa. Alhamdulillah, takdir saya akhirnya bisa melaksanakan haji.

Perjalanan haji 2007.
Perjalanan haji 2006.
Jepretan kenangan, Aa Gym berhaji menuju Arafah pada 2007.
Jepretan kenangan, Aa Gym berhaji menuju Arafah pada 2006.
Usai berhaji di Jabal Magnet.
Usai berhaji nampang di Jabal Magnet.

Haji tahun 2006 itu unik karena saat itu kami berangkat di tengah gunjingan soal poligami Aa Gym. Pada tahun itu pula muncul masalah haji “kelaparan” karena ketidakberesan pengelolaan katering. Saya tidak mengalami kelaparan tersebut karena melakukan perjalanan kaki dari Makkah ke Arafah. Di tengah jalan, ada saja penduduk yang membagikan makanan dalam bentuk paket. Jadilah ransel saya penuh dengan makanan ayam goreng, apel, air, dan roti. Saat terjadi bencana kelaparan itu, kami terselamatkan oleh bekal yang diberikan para dermawan tadi.

Pada perjalanan haji ini pula saya menderita sakit begitu tiba di Makkah. Dua minggu lamanya saya tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Itu salah satu ujian dari Allah dan untungnya teman-teman satu bilik mau mengurusi saya. Allah juga menempatkan saya satu grup bersama Yopy Hendra, mantan staf saya di MQS yang kemudian berwirausaha. Dialah yang merawat saya selama sakit dan membelikan makan saya. Saya kira ini balasan Allah Swt. karena jatah umroh saya pada 2004 itulah yang saya berikan kepada Yopy. Alhamdulillah, menjelang pelaksanaan ibadah haji, kondisi saya berangsur-angsur membaik.

Ke Negeri Fir’aun

Perjalanan ke luar negeri yang juga sangat membekas adalah ke Mesir, negeri para Fir’aun. Tahun 2009 sebelum ke Frankfurt, saya berkesempatan mengunjungi Kairo International Book Fair bersama salah seorang staf di Grafindo dan juga pemilik Grafindo, Pak H. Syaifullah Sirin.

Kunjungan ke Mesir terasa spesial karena digabung dengan napak tilas novel Ayat-ayat Cinta yang dipandu Kang Abik sendiri (Habiburrahman El-Shirazy). Perjalanan ke Alexandria penuh kenangan karena ulah sopir yang tak hafal jalan. Kami kesasar beberapa kali. Pulangnya malah bus yang kami tumpangi mogok sebelum sampai ke mess tempat menginap. Alhasil, kami benar-benar napak tilas dengan berjalan kaki menuju mess yang lumayan jauh.

Kairo International Book Fair sendiri memang besar dan menjadi surga buku di kawasan Timur Tengah. Saya waktu itu didampingi pemandu Kang Cecep Faturohman, mahasiswa yang tinggal di sana. Tentulah fungsi Kang Cecep sangat berarti untuk membacakan judul dan ringkasan isi buku dalam bahasa Arab, sedangkan saya memainkan intuisi untuk membawanya pulang ke Indonesia dengan maksud diterbitkan. Kami melakukan negosiasi naskah langsung di stan-stan.

“Sama orang-orang Mesir ini harus tegas. Omongannya susah dipegang,” begitu canda Kang Cecep mengingatkan. 🙂

Kesan saya Mesir memang indah meskipun Kairo bukanlah kota yang bersih. Keributan bisa muncul dari hal-hal sepele, termasuk pelanggaran lalu lintas–banyak mobil di sana penyok-penyok, mirip juga di Makkah dan Madinah. Selain itu, kesan “mencekam” juga muncul dari banyaknya tentara yang berjaga, terutama ketika saya mengunjungi Masjid Al-Azhar. Alhamdulillah, saya sempat shalat Jumat di sana meskipun terkaget-kaget melihat toilet masjid yang begitu kumuh. Lepas shalat Jumat ada sekelompok orang yang berteriak-teriak sepertinya tengah memprotes sesuatu. Di luar tentara sudah berjaga-jaga.

Di bandara Abu Dhabi, menunggu keberangkatan ke Kairo.
Di bandara Abu Dhabi bersama rekan-rekan penggiat buku, menunggu keberangkatan ke Kairo.
My beautiful picture
Bergaya sejenak di perpustakaan Alexandria, Mesir.
My beautiful picture
Hasil jepretan saya: Kang Abik di Alexandria.
Tak melewatkan kunjungan ke Piramid dan Patung Sphinx.
Tak melewatkan kunjungan ke Piramid dan Patung Sphinx.

Hampir saja saya tidak mengunjungi piramid kalau saja waktu itu tidak memaksakan diri menyewa mobil, lalu minta diantar mahasiswa di sana. Kami menempati mess mahasiswa Jawa Timur yang lumayan bagus di Kairo. Bermobil saya dan rekan dari Grafindo diantar ke kawasan wisata Piramid Mesir. Di sana saya benar-benar takjub melihat salah satu dari tujuh keajaiban dunia itu.

Kami juga sempat ke museum, tempat mumi Fir’aun diawetkan. Sayang biaya masuk untuk melihat mumi itu mahal sekali. Kami hanya bisa melihat barang-barang peninggalan sejarah yang luar biasa itu.

Buku Melanglangbuanakan Aku

Ya bukulah yang menjadi sebab saya bisa bepergian ke luar negeri dan hampir seluruhnya dibiayai tanpa harus mengeluarkan uang dari saku sendiri. Dunia buku memang dunia yang dinamis dengan agenda pamerannya di mancanegara. Karena itu, saat saya berkiprah di dunia ini, saya punya kesempatan mengunjungi negeri-negeri yang punya sejarah perbukuan dalam peradabannya.

Saya sebelumnya hanya bermimpi, tak memiliki bekal apa pun untuk ke luar negeri. Namun, ternyata dunia buku memang ajaib karena mempertemukan saya dengan banyak orang yang menginspirasi kehidupan saya selanjutnya. Saya bisa melanglang buana karena dibiayai untuk keahlian dan gagasan yang saya miliki.

Ada rencana kalau tidak ada aral, saya akan mengunjungi Guangxi, Nanning City, awal September 2013 untuk menghadiri China-ASEAN Expo 2013. Saya mewakili delegasi dari Ikapi.

Negara lain yang ingin saya kunjungi terkait buku dalam niat dan tekad (semoga ditakdirkan ke sana) adalah Amerika, Inggris, India, Turki, Jepang, dan Korea. Ya, paling tidak salah satunya bisa kesampaian ke sana. Walaupun demikian, saya tetap bersyukur hingga usia ke-41 ini sudah mengunjungi beberapa negara dan sudah pula dapat membawa keluarga meski hanya liburan kecil ke negara tetangga.

Menulis buku itu memang sesuatu. Jangan tanggung untuk bermimpi hanya diterbitkan. Sekalian bermimpi untuk bisa menjadikannya kendaraan melanglang buana. Aamiin. [BT]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

4 KOMENTAR

  1. subhanallah,,menyenangkan sekali tampaknya perjalanan mas trim ke luar negeri dengan menjadi utusan kantor..semoga kelak saya juga bisa demikian..sejauh ini baru dua negara yang saya kunjungi dengan biaya kantor: malaysia dan singapura (2011)..ke sanalah saya kali pertama naik pesawat..ironisnya,,ke jakarta saya justru belum pernah!! 😀 insya allah november 2013 saya dan staf jawa pos akan gathering ke hongkong dan tiongkok..saya ingin juga menjejakkan kaki ke eropa seperti anda.. 🙂

      • amin-amin..itu pula tujuan pak bos dahlan iskan dulu me-ngelencer-kan seluruh karyawannya di jp group ke mancanegara dua tahun sekali..supaya bisa belajar dan mendapatkan makna serta hikmah dari majunya negeri orang..hahaha,,ya ya,,kota pak jokowi..semoga saja nanti mampir dulu di jakarta.. 😀

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here