Optimistis Indonesia #1

2
434

Lepas silaturahim ke rumah abang di daerah Bandung Timur, putri saya meminta singgah di sebuah plaza untuk bermain pump it up–permainan kelincahan kaki yang ia tekuni setahun lalu.

Okelah sembari shalat maghrib dan makan malam, istri saya yang kemudian menemaninya. Saya lebih memilih ke TB Gramedia untuk mencari “sesuatu”. Begitu banyak buku, tetapi terkadang saya skeptis dengan isi buku-buku itu yang senada. Tidak ada sesuatu yang baru, kecuali perwajahan isi dan kover yang memang keren.

Apa ada buku motivasi yang bisa menyuguhkan konten lain? Di rak psikologi populer yang juga berarti tempat buku-buku motivasi berada, mata saya langsung tertumbuk pada buku Good News From Indonesia. Dari kovernya, semula saya kira buku ini berkisah ala butiran tentang prestasi-prestasi anak bangsa, tetapi isinya lebih beragam dari itu.

GNFI

Di sisi lain saya juga menimang-nimang buku 101 Inovasi Indonesia terbitan Gramedia yang juga berpola butiran dengan menyajikan inovasi berbagai bidang yang dihasilkan anak bangsa. Bagus saya kira mulai banyak buku-buku yang menampilkan kepercayaan diri bangsa ini dan tidak terus bertungkus lumus dengan keadaan merasa menjadi bangsa inferior.

Buku GNFI adalah karya Akhyari Hananto terbitan Galang Press. Sejenak ingatan saya melayang ke Mas Julius  Felicianus, pemilik Galang Press. Sudah lama sekali saya tak mendengar kabar penerbit Jogja ini setelah buku Gurita dari Cikeas yang disusul buku Susno Duadji. Terakhir, saya dengar dari Mas M. Arief Budiman (CEO Petak Umpet) bahwa buku terbarunya juga akan terbit di Galang Press yaitu Tuhan Sang Penggoda.

Saya mengenal selera Galang Press dalam menerbitkan buku maka saya tak ragu untuk memasukkan buku GNFI ini ke daftar buku yang akan saya beli. Sesampai di rumah seperti kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, enam buku yang saya beli saya boyong ke tempat tidur untuk dibaca sekenanya demi menstimulus ide. Namun, GNFI membuat saya harus tidur lebih larut hingga pukul 00.30.

Good News From Indonesia

Berhentilah mengabarkan pesismistis tentang Indonesia. Begitulah kira-kira pesan seorang Akhyari Hananto yang pernah didaftarkan majalah Marketeers sebagia netizen paling berpengaruh di Indonesia. Buku GNFI ini memang berisikan esai-esai “perlawanan” Akhyari bahwa Indonesia bukanlah negara yang tengah terseok di dalam kancah persaingan global dan harus dicibiri terus-menerus, bahkan oleh bangsa sendiri.

Buku GNFI diterbitkan 2013, sayang tidak ada keterangan bulannya. Isinya memang kebanyakan menyajikan fenomena Indonesia pada 2011 dan 2012, saat sang penulis menyajikan esai-esainya. Gambaran kebanggaan Akhyari dengan sejumlah data memang begitu menyenangkan paling tidak bagi saya yang juga orang Indonesia.

Kini sudah lewat satu semester dari tahun 2013,  Ada catatan Akhyari tentang Pertamina yang belumlah sekelas dengan Petrobras milik Brazil. Namun, Juli 2013, Pertamina akhirnya masuk jajaran 500 perusahaan terbaik di dunia versi majalah Fortune dan menempati peringkat 50. Angka “keramat” itu kemudian disyukuri dengan mengundang 5.000 anak yatim untuk berbuka puasa bersama beberapa waktu lalu.

Pada malam saya membeli buku GNFI, 11 Agustus 2013, tim ganda campuran dan ganda putra bulu tangkis Indonesia kembali menorehkan prestasi sebagai juara dunia setelah kita mengalami “paceklik” juara bertahun-tahun. Ivana Lie mengatakan bahwa Indonesia telah mengonfirmasi kepada dunia saat ini bulu tangkisnya belumlah tamat.

Pada bidang lain yaitu sepak bola baru-baru ini walau banyak yang mencemooh mengapa harus mempermalukan diri sendiri dengan mengundang tim “raksasa” dunia sehingga tim PSSI menjadi bulan-bulanan gol, tetap saja seorang Erick Tohir mampu membeli 75% saham Intermilan. Sepakbola Indonesia memang “memalukan” dalam banyak hal, tetapi pencintanya yaitu orang-orang Indonesia tetap setia menantikan satu momentum dahsyat: PSSI juara.

Sebuah lelucon juga muncul ketika Persib Bandung menjadi klub terbaik di dunia dari hasil voting di www.thetoptens.com. Hehehe betapa sebuah mandala bernama Jawa Barat bisa begitu berpengaruh “mengatur” suara dunia tentang siapa yang terbaik. Jawa Barat adalah provinsi terpadat dengan penduduk berjumlah 40,7 juta (hampir dua kali lipat jumlah penduduk Malaysia).

Satu lagi yang ingin saya tuliskan tentang infrastruktur penerbangan bahwa Akhyari memang pasti belum menuliskan tentang Kuala Namu International Airport yang baru saja diresmikan saat buku terbit. Sebagian besar dari kita memang mengutuki banyak bandara di Indonesia, termasuk Bandara Soekarno-Hatta yang tidak memadai. Mulailah kita kemudian membanding-bandingkannya dengan KLIA di Malaysia atau Changi di Singapura. Kita tidak tahu apakah semangat “anak Medan” akan mampu mengantarkan KNIA paling tidak menjadi bandara bergengsi di Asia Tenggara dalam waktu tidak lama lagi.

Pada kesempatan lain, saya mendengar akhir Agustus 2013 ini PT Angkasa Pura I tengah mempersiapkan peresmian Bandara Ngurah Rai versi baru hasil renovasi besar-besaran. Seorang teman yang ke Bali pernah berujar sulit membedakan bandara di Bali dan pasar, sangat memalukan.  Namun, sebuah tim penulis buku yang digagas N. Syamsuddin Haesy (pemred Jurnas) telah mengumpulkan data perjalanan sejarah bandara Ngurah Rai ini dan satu hal yang membanggakan bahwa proses renovasi untuk menyambut kedatangan para pemimpin dan delegasi KTT APEC Oktober nanti dikerjakan hampir seluruhnya oleh anak bangsa.

Buku momentum yang disusun dan diberikan sebagai souvenir pada peresmian bandara itu akan memuat rentetan kebanggaan dan kecanggihan putra-putri terbaik Indonesia yang bagi orang seperti Akhyari pasti membungakan hati, termasuk saya. Tidak sampai di KNIA atau NRIA, dalam waktu dekat juga renovasi Bandara Sepinggan, Kalimantan, akan dikelarkan tentu juga dengan seluruh daya yang memperlihatkan kebesaran bangsa.

Sedikit demi sedikit, mungkin dalam pandangan awam seperti saya, atau boleh disebut sebuah kelajuan konstan tengah diperlihatkan Indonesia untuk membangun infrastruktur  dan memperbaiki karut marut di negeri ini. Persoalan politik memang menyita perhatian, apalagi menjelang 2014.

Saya bersetuju dengan Akhyari bahwa Indonesia bukan soal bisa atau tidak bisa menjadi kekuatan ekonomi dunia yang diperhitungkan, apalagi siap atau tidak siap. Persoalannya adalah mau atau tidak mau, itu saja.

Tulisan kedua dari judul ini akan saya bawa ke industri buku yaitu bagaimana seolah-olah “bermalas-malasan” akhirnya Indonesia ditetapkan juga menjadi Guest of Honor alias tamu kehormatan Frankfurt Book Fair 2015–pameran buku terbesar di dunia yang menjadi ajang transaksi hak cipta. Jika Anda membaca buku GNFI, saya tengarai salah satu alasan Jerman tertarik menjadikan Indonesia sebagai tamu kehormatan karena ada sejumlah alasan ekonomi dan mereka melihat Indonesia adalah “raksasa konten” literasi yang sedang leyeh-leyeh. Wallahu’alam bis shawab. [BT]

©2013 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

  1. Yah itulah kenyataannya boss; karena pernah hidup di negara tetangga Indonesia (baik di selatan maupun di utara-nya), bisa ngasih cerita dikit. Mereka khawatir dengan kemunculan kekuatan asli Indonesia: populasi besar, rakyatnya biasa susah tapi kreatif, keragaman agama-budaya-bahasa, usia relatif muda apalagi bakal dapat bonus demografi; kombinasi ini akan membuat mereka susah bersaing dengan kita. Jangan ditanya dengan potensi ekonomi, kena sabetan krismon paling parah lima belas tahun lalu tidak membuat negara ini hancur. Memang masih ada pekerjaan rumah yang besar dan mendesak: membereskan birokrasi.

    • Betul Mas, kekhawatiran yang beralasan untuk negeri yang begitu besar; pulau-pulaunya berserakan, tetapi kok bisa nyatu. “Harapannya” pas pecah reformasi, Indonesia bisa terbagi-bagi dan ada yang memisahkan diri, tetapi ternyata nggak kejadian. Ada satu harapan 2014, berganti pemimpin yang tegas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here