Sekali Lagi Tentang Seni Menuangkan Ide

2
710

Banyak ide, tetapi sulit menuangkannya ke dalam tulisan. Jelas, itu masih mending daripada hanya punya satu-satunya ide, tetapi tetap saja sulit menuangkannya ke dalam tulisan. Namun, keduanya meskipun ada yang lebih mendingan daripada yang lainnya, tetap saja sama-sama bermasalah.

Keadaannya boleh dibilang lebih kurang sama dengan punya uang (modal), tetapi bingung mau buka usaha apa. Alhasil, niat berdagang pun tidak pernah mengejawantah.

Ide pasti terlintas dari pikiran yang awalnya bisa dari apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasakan, dan apa yang dipikirkan. Ide itu masih merupakan gambaran besar (big picture), lalu kemudian seorang penulis akan mencoba menjabarkannya menjadi gambaran-gambaran kecil. Gambar kecil itulah yang merupakan bagian-bagian pembentuk sebuah tulisan. Gambar kecil harus disusun runtut berdasarkan urutan ruang, urutan waktu, urutan sebab-akibat, atau urutan umum-khusus dan sebaliknya.

Kalau tidak bisa memecah gambaran besar menjadi gambaran kecil, lalu memilihkan kalimat yang tepat untuk memulainya, pastilah ada sesuatu yang “kurang beres” dalam pikiran kita. Sesuatu itu bisa berupa keruwetan berpikir, kesulitan mengolah kosakata, atau bisa juga berupa ketidakpercayaan diri secara berlebihan.

Perhatikan foto berikut ini.

IMG_6694

Gambaran besar apa yang kira-kira terlintas di benak Anda? Pastilah kosakata semacam pengemis, orang tua, miskin, kaum dhuafa berseliweran di benak Anda. Ya, mungkin topiknya atau temanya “Seorang Pengemis Tua”. Anda pun bisa memulai kalimat seperti ini.

Dengan pertanyaan: Apa kira-kira yang terlintas di benak pengemis tua ini? Adakah ia tengah menerawang masa depannya?

Dengan data: BPS mencatatkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2013  di Indonesia mencapai 28,07 juta orang. Pastilah bapak pengemis ini salah satu di antara 28,07 juta penduduk Indonesia yang kurang beruntung itu.

Dengan pernyataan: Makin hari tampaknya pengemis di kota ini makin bertambah saja. Tidak hanya yang berusia lanjut, tetapi anak-anak pun juga meramaikan “bisnis” meminta-minta ini.

Jadi, sebenarnya ada banyak cara menuangkan ide Anda ke dalam tulisan dengan tentunya pembukaan yang “mencekam” atau bahasa sederhananya “menarik perhatian” pembaca untuk terus mau membaca. Kalimat-kalimat pembuka tadi memang “kendaraan” untuk mengalirkan ide Anda.

Jelaslah kemahiran Anda menuangkan ide ke dalam kalimat-kalimat dengan pilihan kata yang bernas ini adalah masalah kebiasaan dulu. Kebiasaan akan menimbulkan kepekaan atau intuisi dalam berbahasa. Karena itu, jika ada yang bertanya bagaimana menuangkan ide ke dalam tulisan, saya akan bertanya kebiasaan atau keseringannya dulu dalam membaca dan menulis.

Apakah seseorang sering menulis atau memiliki catatan harian dan mendokumentasikan apa yang dilihat, apa yang didengar, dan apa yang dirasakannya ke dalam tulisan? Apakah seseorang memiliki blog atau situs dan ia rutin menuliskan sesuatu di sana?  Apakah seseorang sering membaca dan dari sana ia terpengaruh untuk menuliskan sesuatu? Apakah seseorang memiliki bacaan favorit dan sekaligus memiliki penulis favorit?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting untuk menampakkan sosok Anda sebagai orang yang sama sekali kesulitan menulis atau seseorang yang sudah akrab dengan kegiatan menulis. Orang yang enggan menuliskan secuil pengalaman hidupnya, tentu akan sulit menulis. Orang yang enggan membaca secuil informasi pun, tentu juga akan sulit menulis. Orang yang mengabaikan kebiasaan untuk berlatih dalam menulis, tentu juga akan sulit menulis. Meskipun ia setiap hari diberondong motivasi untuk menulis, kerap yang dipikirkannya adalah ujungnya sukses menjadi penulis. Adapun prosesnya, enggan ia lalui dengan saksama.

Jadi, bagaimana menuangkan ide ke dalam tulisan? Tulis saja dulu, nggak usah merumitkan pikiran tentang tata bahasa atau tulisannya bagus apa tidak. Sementara ini, tulis saja dulu dan biasakan mendengarkan apa yang bergema di hati serta pikiran, tuliskan saja. Model ini adalah cara ampuh melatihkan kebiasaan menulis sebelum Anda benar-benar menulis seperti layaknya para penulis. [BT]

©2013 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

  1. ini mah komentar terhadap fotonya saja (kalau isi teksnya mah setuju). Sang “pengemis” kayaknya bukan golongan miskin, itu hanya penampakkan atau di skenariokan begitu. Tapi kalau dilihat teliti, bajunya terlihat relatif bersih, kulitnya pun mulus tidak menunjukkan identitas ‘miskin’ 🙂

    • Hehehe nah itu Mas, sengaja saya memancing “imajinasi” penulis untuk meneliti banyak hal dari foto. Foto tersebut diambil di Malang. Jadi, kalimat untuk memulai ide ini bisa jadi lain daripada yang lain. 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here