VHF dan Pidato Sang Wapres

3
389

Tanggal 8-9 November 2013 lalu saya berkesempatan berbagi tentang business writing skill di Consumer Banking Division, Bank Syariah Mandiri (BSM). Salah satu bahasan saya adalah tentang kekuatan penulisan bisnis yang disebut VHF. V adalah visualization, H adalah hearing, dan F adalah feeling. Artinya, sebuah tulisan bisnis memang harus memengarui potensi insani seseorang, yaitu pelihatan, pendengaran, dan perasaan.

visualization-brainstorming

Tulisan yang berhasil salah satu cirinya adalah tulisan yang mampu menggambarkan (memvisualisasikan) maksud penulis/pengarang secara jelas. Bahkan, mampu membawa pembaca terhanyut pada gambaran yang disajikan seorang penulis seolah gambaran itu nyata dilihatnya. Dalam editing tulisan, unsur ini disebut legibility ‘kejelahan’ yaitu makna tulisan yang dapat dengan mudah ditangkap pembaca karena disajikan secara jernih.

Selain kuat memvisualisasikan, tulisan juga perlu jernih dalam nadanya. Jadi, sebuah tulisan akan “kedengaran” santun atau tidak terlihat dari nada yang digunakan penulis. Nada dapat muncul dari penggunaan tanda baca serta pilihan kata, bahkan juga penggunaan jenis dan tipe font tertentu. Anda mungkin akan merasa terganggu jika ada seseorang yang mengirim pesan kepada Anda dengan huruf kapital semua. Huruf kapital semua menandakan nada yang minta perhatian atau nada marah.

Terakhir bahwa tulisan harus membawa pesan dengan nilai rasa tertentu yang mampu menyentuh perasaan pembacanya. Unsur feeling digunakan untuk mengikat perhatian, menghasilkan keputusan, dan membuat pembaca senang atau lega dengan sebuah informasi.

Karena itu, penulis bisnis yang baik dan terlatih adalah mereka yang mampu menggunakan unsur VHF ini. VHF yang tumpul dapat mengakibatkan kebuntuan kreativitas dalam menciptakan produk-produk tertulis untuk bisnis, seperti surat, proposal, presentasi, hingga pidato.

Coba Anda pikirkan bagaimana seorang Wapres Boediono, “dikerjai” ghost writer pidatonya sehingga pidato yang beliau sampaikan dalam acara Indonesia Investment Summit 2013 hampir tidak ada bedanya dengan pidato tahun lalu dalam acara yang sama. Rupa-rupanya, sang penulis pidato merasa bahwa audiens yang hadir akan berbeda, sedangkan suasana yang dibangun dari pertemuan itu ya sama saja. Jadi, pidato hanya perlu diperbarui beberapa kata dan data, sedangkan isinya dibiarkan sama.

Tentulah unsur VHF sudah tidak dipertimbangkan lagi yang penting sebuah naskah jadi. Proses menulis itu sendiri pun sudah tidak diperlukan lagi, seperti halnya proses standar prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Jadi, sang penulis pun tidak menikmati penggunaan VHF dalam penulisannya. Pada beberapa kasus, hal ini memang dapat menjadi fatal. [BT]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

3 KOMENTAR

  1. Terima kasih Pak atas ilmu yang sangat bermanfaat.
    Sungguh menggetirkan, orang yang harusnya cerdas, kritis & intelektual menggunakan pola ‘copy paste’ dalam naskah yang sifatnya internasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here