7 Tips Menulis Buku Kumpulan Artikel

7
906

Banyak di antara penulis memulai debut sebagai penulis artikel atau esai yang memang dari segi panjang tulisan ringkas sekali (biasa dalam ukuran 300 s.d. 2.000 kata). Bahkan, kini media massa ataupun majalah dan jurnal ilmiah menyediakan kapling yang sangat terbatas bagi sebuah tulisan bentuk artikel ini. Contohnya, Kompas yang menetapkan kapling hanya 700 kata setara dengan 3,5 halaman kuarto. Tentulah kondisi ini menuntut kepiawaian seorang penulis menyampaikan opini berikut pemikiran pendukungnya seringkas mungkin.

Lalu, bagaimana jika artikel atau esai itu hendak dibukukan? Ya, ini sering disebut dengan republishing articles yang dilakukan penulis atau penerbit. Outline buku pun merupakan outline butiran–berbeda dengan buku sejati yang beroutline tahapan. Untuk mengonversi tulisan-tulisan tersebut menjadi buku, Anda perlu memperhatikan tujuh tips berikut ini.

  1. Pastikan kumpulan artikel Anda merupakan kumpulan tulisan dengan topik yang sama, contohnya topik pengasuhan anak (parenting) atau topik wanita wirausaha. Anda sebaiknya tidak mencampur aneka tulisan beragam topik dan berharap pembaca akan bisa menikmati semua tulisan Anda tanpa kebingungan. Karena itu, jika hendak merencanakan artikel/esai menjadi buku, sebaiknya Anda konsisten menulis dalam satu topik yang seragam. Jadi, jangan sampai Anda menulis segala hal; ada politik, ada parenting, ada kesehatan, bahkan ada kesenian.
  2. Pikirkan untuk menyusun tulisan Anda dengan urutan yang baik. Contohnya, Anda menempatkan tulisan yang menarik pada awal, tengah, dan akhir. Dengan demikian, ritme kemenarikan tulisan terjaga dan pembaca mendapatkan kejutan tulisan ataupun tulisan yang terbaik di awal, tengah, dan akhir. Jadi, jangan menyusun urutan tulisan misalnya, berdasarkan tanggal terbit. Syukur-syukur tulisan Anda memang memiliki daya pikat semuanya.
  3. Pilih tulisan yang aktualitasnya masih terjaga atau masih relevan disajikan sebagai bahan bacaan penambah wawasan, pengetahuan, dan hiburan. Karena itu, tulisan-tulisan opini yang sifatnya tidak terikat momentum akan lebih relevan untuk disajikan. Jika Anda menyajikan tulisan tentang pileg atau pilpres kembali menjadi buku, tentu kontennya sudah “basi” karena momentumnya sudah lewat.
  4. Kembangkan tulisan lebih dalam. Ingat bahwa di media Anda dibatasi kapling. Bayangkan, apa yang bisa Anda sampaikan hanya dalam dua halaman? Karena itu, dalam buku Anda masih bisa “menarik napas lebih panjang”. Begitupun pembaca buku menginginkan kedalaman yang lebih daripada sekadar artikel pendek di media massa. Untuk itu, Anda dapat merevisi atau mengembangkan artikel Anda sendiri secara lebih lengkap dan tuntas.
  5. Jangan lupa menyebutkan media dan tanggal saat artikel/esai pernah dimuat sebagai kode etik penerbitan ulang. Dalam buku, Anda juga dapat menyajikan tulisan-tulisan yang belum pernah dipublikasikan atau tulisan baru sebagai daya tarik untuk pembaca.
  6. Tambahkan visualisasi yang akan memperkuat tulisan Anda, seperti foto, ilustrasi tangan, infografik, grafik, skema/bagan, dan tabel. Di dalam buku sekali lagi Anda dapat lebih memperjelas isi tulisan Anda dengan alat bantu visual tersebut.
  7. Jika ada lebih dari 30 tulisan yang hendak Anda sajikan, Anda dapat membagi kelompok tulisan berdasarkan subtopik menjadi 2-3 bagian dan pada tiap-tiap bagian termuat beberapa tulisan. Pembaca akan lebih mudah menandai subtopik yang Anda bagi-bagi tersebut.

Demikian tujuh tips bagi Anda yang hendak membukukan kumpulan tulisannya. Semoga bermanfaat.

Copyright 2014 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

7 KOMENTAR

  1. Bermanfaat pak infonya. Ohya, pada satu kasus, banyak orang yang mengaku mudah dalam menulis artikel. Tapi, ketika disuruh menulis buku, mereka pun mengalami kesulitan. Entah karena mereka pikir menulis buku itu adalah sesuatu yang spesial, sehingga kadang mereka menuntut kesempurnaan, dan malah naskah bukunya pun tak kelar-kelar. Apakah ada tips dan triknya pak buat mereka itu? Hehe =)

    • Terima kasih Mas. Ya sebenarnya menulis buku yang mereka anggap sulit itu menulis buku sejatinya dengan outline tahapan. Republishing articles sebenarnya disebut juga “book is not a book” karena memang caranya gampang dengan mencicil tulisan pendek-pendek. Saya selalu menggunakan pendekatan proses prewriting-drafting-revising-editing-publishing untuk menyelesaikan sebuah buku.

  2. Terima kasih infonya mas.. kalau seandainya kebnyakan artikel atau bahkan semuanya yang ingin dibukukan itu belum pernah diterbitkan di media manapun kira2 bisa (cocok/pantas) gak ya?
    Terus kalau seandainya artikelnya bermacam2 jenis tapi intinya pada bidang filsafat bisa gak ya?

    • Artikel yang hendak dibukukan memang tidak harus sudah diterbitkan di media massa. Namun, penerbitan di media massa biasanya merupakan “saringan” atas kelayakan terbit artikel itu yang tentu sudah lolos dari penilaian Redaksi media. Artikel bermacam-macam jenis dalam satu tema sah-sah saja, tetapi kembali kita harus berempati kepada pembaca sasaran. Apakah pembaca tidak bingung diberikan begitu banyak topik dan satu topik itu tidak bisa terbahas tuntas dalam satu artikel? Nah, begitu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here