Riset, Pendidikan Tinggi, dan Buku

2
490

Ada kabar menggembirakan dari kabinet baru yang akan dibentuk pemerintahan Jokowi-JK. Sebuah kementerian hasil perluasan dan penggabungan dibentuk yaitu Kementerian Riset-Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti). Alasan munculnya kementerian ini guna mendorong kemandirian bangsa dalam soal ristek, sekaligus para sarjana memang benar-benar mampu menghasilkan karya inovatif untuk Indonesia.

Salah satu kepentingan menghasilkan karya adalah membukukan hasil-hasil riset dan ilmu-ilmu baru yang digagas peneliti ataupun akademisi di Indonesia. Publikasi ilmiah dalam bentuk tulisan, terutama buku, merupakan titik lemah para peneliti dan akademisi Indonesia. Di sinilah tampaknya peran Kemristekdikti ini akan sangat terasa.

Dalam soal tulis-menulis tentu kementerian baru ini akan lebih serius lagi menekankan pentingnya para akademisi dan para peneliti untuk memublikasikan hasil karyanya dan tidak sebatas “mati” pada tahap riset hingga pelaporan saja. Dikti selama ini telah memberikan peluang lewat penyediaan dana hibah dan insentif buku ajar dan buku teks untuk para dosen. Begitupun LIPI sebagai lembaga riset juga membuka peluang penerbitan tersebut kepada para penelitinya.

“Ancaman” bagi para peneliti ataupun akademisi yang tidak menulis publikasi dalam bentuk penundaan kenaikan pangkat ataupun pencabutan tunjangan tampaknya akan semakin bergema. Untuk itu, keterampilan menulis karya tulis ilmiah dan panduan standar penulisan ilmiah secara nasional tidak dapat ditawar-tawar lagi harus ditingkatkan dan disempurnakan.

Memang dalam soal tulis-menulis ini, terutama penerbitan jurnal terdapat dua akreditasi yaitu akreditasi Dikti dan akreditasi LIPI. Keduanya terkesan ada dikotomi sehingga bergabungnya dua lembaga ini di dalam satu kementerian setidaknya akan meretas dikotomi publikasi hasil riset dan keilmuan ini. Tentu kedua lembaga ini dapat diakomodasi menjadi satu akreditasi dan satu pemahaman tentang standar publikasi ilmiah, termasuk buku.

Saya sendiri sudah berkecimpung memberikan pelatihan dan konsultasi penerbitan publikasi ilmiah, terutama dalam bentuk buku di beberapa lembaga selama sepuluh tahun terakhir ini. Kondisi memang memperlihatkan lemahnya penguasaan teknik menulis dan pengembangan gagasan untuk membukukan tulisan. Hal utama terkait konversi atau penyaduran karya tulis ilmiah nonbuku menjadi buku. Banyak peneliti dan akademisi mengambil jalan pintas untuk soal ini asal bukunya terbit meskipun tak memenuhi standar penyajian yang baik.

Bersama Kepala LIPI Press dalam Pelatihan Penulisan Buku Ilmiah
Bersama Kepala LIPI Press dalam Pelatihan Penulisan Buku Ilmiah

Alhasil, banyak juga buku-buku hasil riset dan pengembangan keilmuan yang gagal berkomunikasi dengan pembaca sasarannya. Buku-buku itu sekadar terbit untuk “menyelamatkan” pangkat dan tunjangan saja. Jauh dari kesan keseriusan membagi ilmu. Belum lagi kasus-kasus plagiat yang terjadi.

Harapannya kementerian baru yang dibentuk akan memperhatikan juga persoalan-persoalan karya atau publikasi ilmiah ini. Paling tidak, kemudian ada data yang valid tentang penerbitan buku-buku ilmiah dan tradisi university press pun bisa berkembang di setiap perguruan tinggi. [BT]

©2014 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here