Tidak Ada yang Lebih Hebat antara Fiksi, Nonfiksi, dan Faksi

0
845

Saya sudah melakoni semua genre penulisan, dari fiksi, nonfiksi, hingga faksi (biografi/autobiografi). Saya merasakan keasyikan menulis dalam ketiga genre itu dan saya justru tidak merasakan ada perbedaan kehebatan di antara ketiganya..

Ya artinya saya tidak setuju kalau ada orang yang beranggapan menulis nonfiksi itu “kastanya” lebih tinggi daripada menulis fiksi, apalagi cerita anak-anak. Seorang sastrawan besar bernama Romo Mangun pernah mengatakan bahwa “dalam ranah tulis-menulis yang paling sulit adalah menulis cerita anak dan yang paling mudah–di ujung ekstremnya–adalah menulis skripsi”. Ungkapan Romo Mangun ini boleh dibuktikan dengan coba menulis cerita anak yang memang benar-benar disukai anak.

Tentu kita tidak dapat saling melecehkan juga bahwa yang menulis fiksi itu hidup dalam imajinasi dan sulit berpijak pada realitas. Atau kita mencibir orang-orang yang menulis nonfiksi sebagai orang yang terlalu serius menghadapi hidup dan selalu diukur dengan data serta fakta, apalagi buku yang ngilmiah. Begitu juga mereka yang menulis faksi dianggap sebagai orang yang tidak memiliki kisah hidupnya sendiri yang menarik untuk dikisahkan.

Semua penulis punya jalannya masing-masing untuk berproses kreatif. Begitu pula saya yang memilih bermain pada banyak ranah. Fiksi bagi saya sama menantangnya dengan nonfiksi atau faksi. Pada fiksi juga dilakukan riset dan harus menyampaikan data dan fakta yang valid jika yang dikisahkan adalah realitas keseharian. Bahkan, fiksi sains juga harus berpijak pada deskripsi sains yang masuk akal.

Kemarin, dalam perjalanan panjang Jakarta-Frankfurt, saya sempat menonton film fiksi sains berjudul Selfless yang menceritakan seorang pengusaha kaya yang sekarat karena penyakit kanker. Lewat sebuah teknologi pemindahan ruh ke jasad orang lain yang lebih muda maka si pengusaha kaya itu bisa sembuh dan hidup kembali dengan tubuh orang lain. Saya melihat unsur sainsnya oleh penulis dibuat sederhana sehingga penonton tidak fokus pada logika sains tersebut, tetapi pada jalan cerita yang dibangun lewat konflik dan emosi yang menarik.

Ya, sebagai hiburan sah-sah saja penulis berkhayal tentang teknologi “awet muda” seperti itu untuk mencegah kematian. Bahkan, pemecahannya bisa ditemukan dengan googling. Namun, tetap saja ia memerlukan riset bagaimana proses itu bisa terjadi.

Di pihak lain, demikian pula saat seseorang menulis nonfiksi. Jika ia menulis nonfiksi tanpa memulakannya dengan kisah (kisah nyata), biasanya paparannya menjadi tidak menarik dan kering. Lihatlah buku-buku nonfiksi yang ditulis penulis Barat, umumnya mereka memulai dengan kisah. Inilah yang disebut dengan komunikasi naratif karena pada dasarnya manusia sangat tertarik dengan kisah.

Jadi, teknik penulisan fiksi, nonfiksi, dan faksi saling terkait dan mengayakan untuk digunakan. Karena itu, mereka yang belum pernah menulis fiksi, layak mencobanya sebelum berkomentar. Begitu pula mereka yang belum pernah menulis nonfiksi, layak mencobanya untuk memahami betapa sulitnya menyajikan sebuah data dan fakta untuk mendukung tulisan.

Alhasil, semua genre penulisan itu hebat jika kita menekuninya dan menghasilkan karya yang memang memengaruhi pembaca sasaran. Apa yang terpenting adalah kegigihan dan konsistensi kita berkarya.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here