Kelirunya “Alah Bisa karena Biasa”

0
2055
Foto: Aaron Burden

Manistebu.com | Hari ini saya menghabiskan waktu bersama dr. Stefanus, seorang coach yang inspiratif. Obrolan kami dari berbagai hal tentang coaching akhirnya sampai pada soal peribahasa yang merupakan salah satu kearifan lokal bangsa Indonesia.

Saya mengisahkan kepadanya saat pulang dari rumah Pak Syaiful Bachri, master coach NLP, pikiran saya terus terkait dengan kata ‘bisa’. Pak Syaiful menasihati saya untuk menghilangkan kata ‘bisa’ dalam berkomunikasi karena kata itu bermakna ‘racun’ (hewan).

Saya jadi ingat dengan negara jiran Malaysia yang menggunakan kata ‘boleh’ untuk menyebut ‘bisa’. Jika kita menyebut ‘bisa’ kepada orang Malaysia, mereka akan langsung mengartikannya racun hewan, seperti ular.

Lalu, mengapa ada peribahasa Alah bisa karena biasa? Bukankah peribahasa itu tercipta pada masa lampau yang mungkin berabad-abad yang lalu? Berarti kata ‘bisa’ itu digunakan juga–sementara saya belum mengetahui makna kata ‘bisa’ dalam peribahasa itu.

Kepenasaran saya akhirnya terkoneksi pada dua buku. Begitu sampai di rumah saya langsung mengambilnya dari rak. Pertama, buku Kamus Peribahasa susunan Pak Jus Badudu yang diterbitkan Gramedia. Kedua, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Tidak lupa saya juga membuka tesaurus susunan Mas Eko Endarmoko yang edisi barunya diberi judul Tesamoko.

Kata ‘bisa’ menjadi lema pertama dalam KBBI yang bermakna dapat, mampu, kuasa, atau di tesaurus tertulis juga becus (ragam cakapan) dan larat (arkais). Pada lema kedua baru terdapat makna racun hewan.

Setelah menyelisik kamus peribahasa Pak Badudu, pahamlah saya bahwa kata ‘bisa’ dalam peribahasa itu bermakna ‘racun’, sedangkan kata ‘alah’ adalah bentuk singkat dari ‘kalah’. Jadi, racun pun akan kalah atau kehilangan daya ketika seseorang sudah terbiasa memakannya. Mula-mula orang itu makan sedikit, lalu dosisnya ditambah sehingga lama-lama ia menjadi kebal terhadap racun itu.

Peribahasa tersebut bermakna kurang baik yaitu perbuatan buruk itu ibarat racun atau bisa yang jika sedikit-sedikit dilakukan, lama-lama membesar sehingga menjadi kebiasaan. Seseorang menjadi imun terhadap rasa bersalah dan rasa berdosa. Perumpamaannya persis dengan mereka yang menggunakan narkoba.

Nah, terkejutlah saya ketika membaca penjelasannya di KBBI. Kamus susunan Badan Bahasa ini ternyata mengartikan peribahasa secara berbeda. Keterangannya diambil dari lema pertama yang berarti dapat (bisa = mampu = dapat). Alah bisa oleh (krn) biasa bermakna perbuatan yang sukar, kalau sudah biasa dikerjakan, tidak terasa sukar lagi; kalah kepandaian oleh latihan.

Duh, saya harus percaya kepada Pak Jus Badudu atau kepada Badan Bahasa? Apakah pada peribahasa yang diciptakan pada masa lampau juga mengalami pergeseran makna layaknya kata? Apakah hal itu terjadi (versi Badan Bahasa) karena keliru mengira ‘bisa’ pada peribahasa itu adalah ‘bisa’ bermakna ‘dapat’ atau ‘mampu’ seperti yang terjadi pada kebanyakan orang?

Apakah kata ‘bisa’ yang berarti ‘dapat’ itu bersamaan munculnya dengan kata ‘bisa’ yang berarti racun hewan? Saya rasa tidak jika akar katanya dari bahasa Melayu. Jiran kita, rakyat Malaysia, tidak menggunakannya sebagai sinonim ‘dapat’ atau ‘mampu’ sampai kini.

Namun, jujur saya lebih percaya kepada Pak Badudu karena beliau memang menyusun kamus peribahasa tentu tidak asal menyusun. Pasti beliau menggunakan referensi, pengetahuan, serta wawasan kebahasaan yang tinggi. Banyak kata di dalam peribahasa adalah kata-kata arkais (kuno), contohnya kata ‘lancung’ pada peribahasa sekali lancung keujian, seumur hidup orang tak percaya.

Apa arti ‘lancung’? Lancung sama dengan ‘palsu’. Vaksin lancung sama dengan vaksin palsu. Ya, tentu kita yang tidak pernah memahami makna itu akan bertanya-tanya atau menebak-nebak apa itu ‘lancung’.

Peribahasa adalah contoh kekayaan dan keandalan literasi bangsa Indonesia. Sayangnya seperti ditengarai Pak Badudu, di antara kita makin banyak yang tidak memahami arti sebenarnya. Akhirnya, keliru menggunakan.

Namun, tak perlulah kita mencari lantai terjungkat alias mencari-cari kesalahan orang. Tunjuk saja diri sendiri: saya memang tak kenal lagi peribahasa, yang saya kenal peri gigi. 😀

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here