Tren Buku yang Abadi adalah Masalah

Manistebu.com | Banyak penulis, editor, atau bahkan penerbit yang berkonsentrasi pada tren buku, apalagi menjelang dilakukannya rapat tahunan untuk membahas judul-judul buku tahun berikutnya (front list). Bagi saya hal itu sederhana saja mengutip ungkapan No Pain, No Gain.

Tren buku yang abadi topiknya adalah MASALAH atau RASA SAKIT yang terutama dihadapi manusia. Di sinilah para penggagas buku perlu memikirkan masalah apa yang paling banyak dihadapi masyarakat dan paling diinginkan solusinya dalam konteks kini.

Mari kita lihat infografik berikut ini antara bilik masalah dan bilik solusi.

Jika saat ini muncul peristiwa sekaligus fenomena merebaknya pandemi Covid-19, Anda dapat melihat apa saja masalah di situ. Dari masalah muncul ide memberi solusi yang dapat dilakukan para penulis dengan latar belakang bidang tersebut.

Jadi, ada masalah yang aktual muncul dan ada masalah yang secara abadi akan terus muncul. Sebagai contoh masalah yang abadi adalah miskin, sakit, dosa, tidak bahagia, dan bodoh. Dari situ para pakar atau penulis menemukan solusi sebagai harapan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Ide-ide kreatif dan inovatif terus bermunculan menggantikan ide-ide usang; atau dapat juga ide-ide usang itu diperbarui.

Sebagai contoh buku Dale Carnegie berjudul How to Win Friends and Influence People masih “hidup” sampai sekarang, lalu diperbarui dengan judul How to Win Friends and Influence People in the Digital Age. Pada buku tertulis nama Dale Carnegie dan Associates. Artinya, ada tim yang dibentuk untuk merevisi buku tersebut karena Dale Carnegie sendiri sudah tiada beberapa tahun lalu.

Masalah apa yang diangkat Dale Carnegie? Apalagi kalau bukan masalah hubungan antarpersonal. Carnegie dapat melihat bahwa banyak orang menginginkan dirinya dapat diterima oleh seseorang/suatu kelompok, lalu bahkan mampu memengaruhi orang/kelompok itu. Buku ini penting bagi mereka yang mendambakan karier lebih tinggi dan kehidupan sosial yang sangat baik. Secara spesifik, buku ini penting bagi para pemimpin.

Nah, yang menjadi masalah apakah kita senantiasa dapat melihat masalah di balik begitu banyak masalah. Ingat bahwa masalah juga ada levelnya mulai tingkat yang sepele hingga yang sangat pelik. Begitupun sang pengurai masalah dan pemberi solusi alias si penulis juga dapat ditakar dari kedalamannya menyajikan ide dan mengurai masalah. Tidak jarang banyak penulis yang mengurai masalah dengan “obat” yang sama atau itu-itu saja. Lebih sering lagi menawarkan obat yang hanya menyembuhkan luka luar, bukan luka dalam.

Itu sebabnya kita pun dapat menemukan dua jenis buku, yaitu buku yang dangkal pembahasannya dan buku yang mendalam serta terbukti ampuh pembahasannya. Salah satu pengurai masalah dan pemberi solusi yang meyakinkan adalah mereka yang mengalami sendiri apa yang dituliskan atau melakukan riset serius untuk itu.

Mengapa buku-buku bagaimana menjadi orang kaya sangat laris? Anda pasti tahu jawabannya.

Lalu, mengapa kebanyakan buku menjadi orang kaya tidak membuat Anda kaya atau lebih kaya? Anda juga pasti tahu jawabannya. Adapun testimoni-testimoni hanya sebagai pemanis untuk mendongkrak penjualan buku. Tidak ada hal yang tidak dapat didesain dan diskenariokan untuk suatu buku yang laku.

Penulis, editor, dan penerbit akan terus dituntut menemukan masalah yang aktual dan kalau dapat, itu masalah yang abadi—alhasil buku bakal bertahan lama seperti karya Dale Carnegie tadi.

Buku-buku berisikan soal-soal ujian dan penyelesaiannya laku keras karena itu menjadi masalah yang setiap tahun ada bagi anak-anak sekolah yang hendak ujian. Jika saja ujian dihapuskan, buku-buku soal itu alamat tamat riwayatnya.

Akhirnya, selamat berburu dan memikirkan masalah di dalam hidup ini. Anda jangan membawa-bawa masalah aliens ke sini, kecuali menulis fiksi. Berikanlah kepada pembaca solusi yang benar-benar teruji; dijamin buku Anda akan mengalami cetak ulang berkali-kali sampai orang tidak lagi merasa itu masalah karena sudah dibahas oleh Anda.

Karena itu, tanggapi saja dengan positif kalimat ini: “Emang masalah buat elo?” Loh, bukankah kita penulis yang sedang mencari-cari masalah?[]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.