Perancang Buku

0
781
Pruf akhir kemudian dicetak dan ditata letak oleh seorang layouter dengan cara menempel.

Manistebu.com | Pakar pemasaran, Hermawan Kartajaya, pernah mengungkapkan bahwa konten adalah syarat untuk menang dalam pertandingan, tetapi konteks adalah tiket untuk dapat ikut dalam pertandingan. Pengertian konteks di sini disamakan dengan kemasan.

Ketika membicarakan produk bernama buku, konteks adalah desain atau perwajahan buku yang mencakup perwajahan dalam dan perwajahan luar–sering juga diistilahkan dengan desain interior dan desain eksterior. Perwajahan dalam adalah tata letak isi buku yang terdiri atas teks dan gambar serta ornamen-ornamen pendukungnya. Adapun perwajahan luar adalah kover depan, kover belakang, judul punggung, lidah (flap), dan terkadang juga jaket buku.

Dalam soal konteks buku ini ada beberapa profesi yang berperan, yaitu perancang kover, pengatak, dan ilustrator sehingga disiplin ilmu yang digunakan adalah desain grafis (sekarang disebut desain komunikasi visual), desain produk, dan seni rupa. Anda yang mengikuti istilah-istilah dalam perancangan buku ini akan dibuat bingung dengan munculnya berbagai istilah yang digunakan kalangan industri penerbitan.

Saya coba menguraikan beberapa istilah yang muncul dalam kasus perancangan buku agar nantinya para pelaku industri penerbitan, khususnya penerbit, dapat menetapkan sebutan yang paling tepat dan juga kriteria untuk perekrutan bagian perancangan buku ini.

Perwajahan dan Perancangan

Bentuk kata ‘perwajahan’ muncul pada entri KBBI dengan arti perihal pemberian corak dan motif pada kulit buku, halaman muka, dsb. Artinya, perwajahan mengandung makna proses, bukan hasil dari pengemasan desain buku. Kemudian, berkembang juga isitlah ‘perwajahan sampul’ di KBBI dengan arti sebagai berikut:

  1. penataan bentuk, rupa, warna, ukuran, dsb dari sampul; dan
  2. bagian sampul yang terdiri atas halaman sampul bagian luar yang dibuat menarik serta selaras dengan isinya dan halaman lain.

Sampul adalah istilah lain untuk menyebut kover buku atau pelindung buku yang biasanya dicetak pada kertas lebih tebal daripada kertas isi buku–tidak seperti majalah. Istilah ‘cover’ dalam bahasa Inggris telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘kover’ sehingga lebih disarankan penggunaan istilah ‘kover buku’ daripada ‘sampul buku’. Hal ini karena ada pengertian sampul buku yang lain yaitu pelindung dari kertas atau plastik untuk buku.

Kembali soal perwajahan, istilah ‘perwajahan’ mendapat saingan dengan istilah ‘perancangan’. Namun, subjek atau pelaku pekerjaan tersebut hanya ada kata ‘perancang’ atau ‘desainer’ dan tidak ditemukan kata ‘pewajah’ meskipun beberapa penerbit sempat menggunakan istlah ‘pewajah isi’ dan ‘pewajah sampul’.

Perwajahan Isi dan Perancangan Isi

Saya ingin bercerita sedikit tentang sejarah perwajahan atau perancangan isi buku ini. Pada masa masih digunakannya alat susun huruf seperti IBM composer maka berkembang istilah setter untuk para pekerja susun huruf (setting). Kata ‘setting’ masih dapat kita temukan sehari-hari di beberapa UKM bidang pencetakan ataupun desain. Setter sangat identik dengan tukang tik yang tidak memerlukan ilmu khusus, tetapi hanya keterampilan mengetik sepuluh jari dan tentunya mengoperasikan mesin susun huruf elektrik yang merupakan pengembangan dari mesin tik manual.

Hasil setting kemudian akan disusun kembali oleh pekerja yang disebut ‘layouter’ atau ‘penata letak’. Pekerjaan menata letak dilakukan secara manual yaitu dengan sistem tempel (paste-up) dan juga dilakukan penyusunan halaman yang disebut imposisi.

Lebih jelas saya tampilkan foto-foto berikut karya Dan Wybrant yang dimuat di dalam http://commfaculty.fullerton.edu.

Pengetikan (typesetting) dilakukan oleh seorang typesetter atau setter.
Pengetikan (typesetting) dilakukan oleh seorang typesetter atau setter (Foto: Dan Wynbrart).
Hasil setting huruf kemudian dicetak.
Hasil setting huruf kemudian dicetak sebagai cetak coba (galley proof) (Foto: Dan Wybrant).
Hasil setting kemudian dikoreksi oleh korektor (proof reader).
Hasil setting yaitu pruf kemudian dikoreksi oleh korektor (proof reader) (Foto: Dan Wybrant).
Pruf akhir kemudian dicetak dan ditata letak oleh seorang layouter dengan cara menempel.
Pruf akhir kemudian dicetak dan ditata letak oleh seorang layouter dengan cara menempel (Foto: Dan Wybrant).

Perwajahan isi tempo dulu ini berkembang pada tahun 1970-an hingga akhir 1980-an, namun di Indonesia masih ditemukan cara ini pada periode 1990-an. Cara perwajahan isi manual ini kemudian digantikan dengan perwajahan melalui komputer menggunakan perangkat lunak dan perangkat keras yang keseluruhannya disebut dengan istilah penerbitan destop (desktop publishing).

Pada masa 1990-an penggunaan aplikasi seperti Ventura Publisher dan Aldus Pagemaker mulai berkembang. Perwajahan isi yang tadinya memerlukan beberapa pekerja alhasil hanya memerlukan satu pekerja yang merangkap pekerjaan ‘setter’ dan ‘layouter’.

Di Indonesia kemudian ditemukan istilah ‘penata letak’ dari ‘tata letak’ dan kini ada istilah baru yaitu ‘pengatak’ dari kata ‘atak’ yang berarti ‘layout’. Pertanyaannya kemudian apakah pekerjaan pengatak halaman isi berbeda dengan perancang kover?

Pada praktiknya memang terjadi demikian. Para pengatak halaman tidak selalu menjadi perancang kover, demikian pula sebaliknya. Pengatak halaman diharapkan memiliki keterampilan dalam hal pengetikan sepuluh jari (pengetikan cepat) dan penggunaan aplikasi perwajahan seperti Adobe In-Design saat ini. Adapun perancang kover diharapkan memiliki keterampilan penggunaan aplikasi desain seperti Corel Draw, Adobe Illustrator, dan juga Adobe Photoshop dengan keterampilan tambahan di bidang fotografi dan ilustrasi. Selain itu, keterampilan lain yang dikuasai adalah tipografi yaitu cara memilih dan menggunakan fonta.

Sebenarnya dua pekerjaan yaitu perwajahan isi dan perwajahan kover saling mengisi dan memerlukan pengetahuan desain komunikasi visual dan keterampilan komputer penerbitan destop secara terpadu. Ke depan tampaknya akan hanya ada satu sebutan dan satu profesi yaitu ‘perancang buku’ atau ‘desainer buku’.

Perancang Buku

Di dalam RUU Sistem Perbukuan yang tengah digodok oleh DPR dan Pemerintah terdapat istilah Perancang Grafis dan Perancang Tata Letak. Dua istilah ini juga akan membingungkan karena tata letak termasuk juga dalam ranah grafis. Tampaknya RUU Sisbuk hendak memisahkan seperti yang lazim terjadi antara ‘perancang grafis’ sebagai perancang kover dan ‘perancang tata letak’ sebagai perancang isi.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya ke depan idealnya profesi perancang buku ini tidak lagi dipisahkan pekerjaannya sesuai dengan anatomi buku yaitu adanya kover dan isi buku. Pekerjaan perancangan akan mencakup keseluruhan fisik buku yang terdiri atas

  1. perancangan bagian luar (kover) buku;
  2. perancangan bagian isi buku;
  3. perancangan bentuk dan spesifikasi buku.

Hal yang terakhir (nomor 3) masuk ke dalam perancangan buku sehingga seorang perancang buku juga harus memahami desain produk buku yang meliputi ukuran, ketebalan, warna, jenis kertas, dan jenis jilid. Di dalam ilmu desain dikenal 3F sebagai dasar pembuatan desain yaitu format, function, dan frame.

Alhasil, profesi perancang buku ke depan menjadi profesi yang multitugas sekaligus multi kemampuan dengan induk ilmunya desain komunikasi visual. Perancang buku yang menguasai banyak keterampilan tentu menjadi lebih berdaya saing dan semakin dicari karena kebutuhan yang juga terus meningkat.

***

Saat belajar di Prodi D3 Editing, Fakultas Sastra, Unpad, saya mendapatkan mata kuliah di bidang perancangan buku ini yaitu tipografi dan perwajahan. Mata kuliah desktop publishing ‘penerbitan destop’ baru ada kemudian ketika saya sudah lulus. Perlu waktu lama bagi saya untuk memahami seluk beluk perancangan buku ini, terutama setelah melakoni diri sebagai editor sekaligus sebagai layouter.

Mengapa editor perlu tahu juga soal perancangan buku ini? Hal ini karena terkadang editor juga diposisikan sebagai art director dalam perancangan buku bekerja sama dengan seorang perancang buku. Dalam dunia editing dikenal posisi editor pengembang ‘development editoryang lingkup pekerjaannya termasuk menentukan rancangan buku.

Ya, demikianlah sebenarnya pekerjaan di dalam industri buku sangatlah kompleks dan melibatkan orang-orang dengan multi kemampuan. Saat ini berkembang juga buku-buku elektronik yang memerlukan keahlian seorang pengembang konten ‘content developer’. Pada tulisan lain saya akan membahas soal ini.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here