Mengisi Outline

0
558

“Pak Hernowo, saya sudah membuat outline untuk calon buku saya. Apa yang selanjutnya saya lakukan?”

“Mengisi outline,” jawab saya.

Secara sederhana, outline adalah kerangka atau garis besar susunan materi sebuah buku. Ia bisa dikatakan juga sebagai rancangan penulisan buku yang akan dijadikan sebagai panduan dalam membuat buku. Saya suka mengartikan outline sebagai “peta”. Peta yang dapat mengarahkan seorang penulis untuk mengembangkan dan mengorganisasi pikirannya agar tersusun menjadi sebuah buku.

Apabila Anda memang sudah memiliki outline untuk calon buku yang akan Anda buat, isilah outline itu dengan bahan-bahan yang sudah Anda siapkan. Saya punya tiga cara untuk mengisi outline. Cara pertama dengan free writing atau menulis bebas. Kedua, mengikat makna—saya membaca dan saya “mengikat” (menuliskan) hal-hal penting yang saya baca. Ketiga, memadukan cara pertama dengan cara kedua. Maksud saya, hasil free writing saya padukan dengan hasil mengikat makna. Cara ketiga ini bisa disebut juga menata pikiran atau—mengikuti tulisan saya sebelum ini—mengorganisasi pikiran. Barusan saja terbetik di pikiran saya, bisa disebut juga dengan mengalokasikan pikiran. Ada proses pengaitan, penguatan, dan penegasan.

Cara pertama, free writing, membuat saya dapat mengisi outline tanpa disertai ketegangan dan tekanan. Meskipun tetap merujuk ke panduan (outline), saya bebas untuk mengisi outline dari mana pun. Misalnya dari Bab Penutup (Kesimpulan) atau dari tengah. Ketika mulai menulis bebas juga dengan cara mencicil, menggunakan alarm—sekitar 15 hingga 30 menit setiap hari.

Cara kedua, mengikat makna, membantu saya untuk mengembangkan dan mengaitkan pikiran dengan banyak hal. Kegiatan utama mengikat makna ini adalah membaca teks (artikel atau buku). Sehabis membaca, saya  mengikat hal-hal penting setelah membaca. Apa yang saya baca? Kadang buku apa saja dan kadang pula buku yang sesuai dengan peta atau outline.

Saya akan memberikan contoh penggunaan tiga cara tersebut ketika membuat buku ke-37, Flow di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Ada tiga materi penting yang saya free writing-kan: pengalaman saya mengatasi rasa gagap dan gugup dalam berkomunikasi, pengalaman saya mengajarkan mengikat makna di dua sekolah tinggi, dan dasar-dasar ilmu komunikasi.

Ketika menjalankan mengikat makna, saya lebih banyak membaca-ulang buku-buku yang membicarakan komunikasi yang pernah saya baca. Dalam pikiran saya, sudah terbayang pentingnya active listening atau mendengar secara empatik. Active listening ini akan membuat sebuah komunikasi dapat dijalankan secara sangat efektif.

Buku Stephen Covey, The 7 Habits of Highly Effective People jadi bacaan utama. Begitu pula buku Thomas Gordon, Teacher Effectiveness Training. Lantas saya teringat dengan gagasan Daniel Goleman dan Steve Jobs serta Psikologi Komunikasi-nya Jalaluddin Rakhmat. Ada materi menarik dari buku Thomas Gordon tentang pengkodean (coding-decoding) dan inti komunikasi itu sesungguhnya ada pada komunikasi-batin (komunikasi yang tidak langsung dapat dipahami).

Karena terlalu teknis, materi dari Thomas Gordon ini saya singkirkan. Saya kemudian menggantinya dengan praktik komunikasi yang mengintegrasikan reading-speaking-listening-writing. Praktik pengintegrasian ini sesuai dengan konsep mengikat makna saya. Sebelum menggantinya, saya sudah membaca terlebih dahulu konsep reading aloud-nya Jim Trelease. Jadi klop.

Ketika mulai menerapkan cara ketiga—memadukan cara pertama dengan cara kedua—ada usulan penerbit agar mengaitkan buku saya dengan komunikasi di era digital, tepatnya era media sosial. Saya pun membaca kembali artikel atau buku tentang komunikasi di era media sosial. Ketemulah saya dengan gagasan tentang pikiran yang terkerangkeng. Ini membawa saya ke menulis yang flow.

Konsep menulis yang mengalir itu berpijak pada gagasan menulis opening up (blakblakan) ala Dr. James W. Pennebaker. Menulis yang blakblakan tentu bukan menulis di ruang publik, tetapi di ruang privat. Ini semacam latihan menulis bebas untuk membongkar atau menghancurkan berbagai hambatan menulis (writer’s block). Menulis blakblakan ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengalirkan pikiran orisinal.

Pikiran orisinal adalah lawan dari pikiran jiplakan atau copy-paste. Setelah semua tertata, tahap terakhir yang sangat menentukan adalah mencari referensi untuk konsep flow. Saya teringat buku The Creative Spirit karya Daniel Goleman, Paul Kaufman, dan Michael Ray sebagai referensi. Saya pun meminjam gagasan psikolog Mihaly Csikzentmihalyi tentang flow—yang dibahas secara menarik di The Creative Spirit—untuk membuka dan menutup buku saya.[]

Hernowo—di dunia maya dikenal dengan nama “Hernowo Hasim”—adalah penulis 24 buku dalam 4 tahun. Dia punya konsep membaca-menulis bernama “mengikat makna”. Ia mulai menekuni dunia menulis di usia lewat 40 tahun. Buku pertamanya, Mengikat Makna (Kaifa 2001) terbit saat usianya mencapai 44 tahun. Kini sudah 37 buku diciptakannya. Buku ke-37-nya berjudul “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Kini Hernowo sedang mempersiapkan buku tentang “free writing”, bagaimana membuat buku, dan aplikasi “mengikat makna”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here