Literasi Visual

0
554

Manistebu.com | Ketika Anda berada di tempat yang sama sekali baru, katakanlah itu sebuah kota, apa yang Anda andalkan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain? Pastilah Anda memerlukan petunjuk terlebih dahulu dan biasanya itu tersedia dalam bentuk tulisan serta visualisasi seperti peta atau denah.

Memang Anda dapat saja mengandalkan cara “klasik” yaitu langsung bertanya kepada orang yang lewat ataupun yang ditemui di jalan. Namun, cara ini tidak sepenuhnya juga berhasil atau dapat dipercaya. Karena itu, di kota-kota yang sudah maju, umumnya terdapat berbagai petunjuk untuk para turis. Namun, sebuah petunjuk yang disajikan secara visual juga memerlukan kecerdasan literasi visual bagi para pelancong yang hendak memanfaatkannya.

Kemampuan seseorang untuk mencerap, menafsirkan, dan memaknai secara benar informasi berbentuk visual (gambar) atau menyajikan sebuah informasi secara visual yang dapat segera dipahami orang itulah yang dinamakan literasi visual. Sebuah gambar sejatinya dapat dibaca sebagaimana sederetan kata-kata atau tulisan. Perhatikan gambar rambu lalu lintas berikut ini. Apakah Anda dapat mencerap, menafsirkan, dan memaknainya?

Literasi visual di dalam literasi informasi digolongkan atau terhubung pada dua daya literasi lainnnya yaitu literasi media dan literasi teknologi. Di dalam teknologi komputer seperti saat ini, literasi visual banyak diwakili oleh simbol dan ikon sehingga seorang pengguna teknologi dapat cepat memahami sebuah perintah ataupun informasi.

Lalu, berkembang juga visualisasi informasi yang disebut infografis sehingga sebuah informasi yang tadinya disampaikan dalam beberapa halaman tulisan, kini cukup ditampilkan dalam satu halaman tulisan. Presentasi-presentasi melalui Powerpoint kini juga banyak menggunakan teknik penyajian secara infografis dan tentu memerlukan keterampilan khusus bagi si pembuatnya.

Walaupun literasi visual dimasukkan ke dalam ranah literasi media dan literasi teknologi, pada dasarkan daya literasi visual bermula dari literasi dasar yaitu menggambar (drawing). Di sekolah dasar Anda tentu ingat ada pelajaran bagaimana menggambar denah misalnya dari rumah Anda ke sekolah. Anda juga sering diminta guru untuk menggambarkan pemandangan ataupun gambar berdasarkan hasil pengamatan. Semua itu adalah langkah-langkah menanamkan daya literasi visual kepada diri Anda, bukan semata untuk menjadikan Anda sebagai seorang ilustrator ataupun pelukis.

Visualisasi menggunakan banyak elemen, seperti titik, garis, bentuk, bingkai, ikon, dan warna. Jika Anda mengunjungi sebuah stasiun kereta api di negara-negara maju, katakanlah itu Jepang, Anda akan menemukan sebuah peta jalan kereta api yang sangat rumit. Namun, jika dicermati dengan saksama, Anda akan mudah memahaminya karena Anda terbantu dengan garis, warna, dan simbol-simbol, misalnya di mana saja kereta yang hendak Anda naiki akan berhenti.

Di Jakarta, stasiun kereta atau commuter line pun telah dilengkapi dengan petunjuk dan peta, termasuk di dalam commuter line yang selalu terletak di atas pintu. Para penumpang yang baru kali pertama naik commuter line semestinya akan terbantu meskipun kebanyakan orang lebih suka bertanya saja daripada membaca visualisasi peta yang menurut mereka memakan waktu atau tidak benar-benar dapat meyakini mereka. Namun, dibandingkan di luar negeri, petunjuk-petunjuk visual di stasiun kereta Indonesia memang masih sangat kurang.

Visualisasi juga berhubungan dengan citarasa seni dan dapat mempercantik wajah sebuah kota. Contohnya baru-baru ini yang menghebohkan di Bandung adalah desain zebra cross unik buah pemikiran wali kota Bandung yang memang kreatif, Ridwan Kamil. Seperti gambar berikut adalah desain yang dibuat mirip ular tangga. Jelas ini visualisasi yang menarik dan merupakan karya mereka yang memiliki daya literasi visual tinggi meskipun ide mempercantik visual zebra cross ini telah dilakukan di beberapa kota belahan dunia lainnya.

Sumber: Instagram @DudiSugandi

Kecerdasan literasi visual seperti halnya kecedasan literasi lainnya bermula dari banyak membaca dan banyak pula mempraktikkan atau melatihkannya. Literasi visual melahirkan banyak ungkapan kreatif baru, seperti logo, novel grafis, tanda, simbol, termasuk ikon-ikon yang kini kita kenal. Mereka yang daya literasi visualnya rendah, dapat saja salah mengartikan atau menggunakan simbol.

Contohnya karena simbol tidak jelas, seorang pria dapat saja memasuki toilet untuk wanita atau mungkin juga ia terlewat membaca simbol atau tidak mengerti makna simbol. Atau contoh yang juga sering terjadi adalah kesalahan menggunakan emoticon saat berkomunikasi dengan ponsel pintar atau ngerumpi (chat) dengan media sosial. Kesalahan penggunaan emoticon bahkan dapat menimbulkan miskomunikasi.

Jadi, literasi visual itu memang penting dikuasai. Selain kata-kata, hidup kita kini juga “dikepung” oleh gambar yang memiliki makna.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here