Menunjukkan Kualitas Pikiran

0
548

“Menurut Pak Hernowo, apa kegiatan-pokok dalam membuat buku?”

“Menunjukkan kualitas pikiran,” jawab saya.

Jawaban saya itu merujuk kepada pendapat Rene Descartes. Descartes yang terkenal dengan kredo, aku berpikir maka aku ada itu mengatakan, membaca buku bagaikan sedang berinteraksi dengan pikiran terbaik milik seorang penulis. “Ya, setiap penulis yang berhasil membuat buku,” tegas Descartes, “tentulah ingin menampilkan perkembangan terbaik pemikirannya lewat buku yang dibuatnya.”

Dalam empat tulisan sebelum tulisan kelima ini, saya sudah menunjukkan kegiatan yang paling menyulitkan hingga paling memudahkan dalam membuat buku. Kegiatan paling menyulitkan bernama mengorganisasi pikiran. Kegiatan paling memudahkan ialah kita mampu menguasai anatomi buku. Jika seorang penulis buku mampu memahami bagian-bagian buku—dan bagaimana mengisi bagian-bagian tersebut—tentulah proses pembuatan buku akan menjadi lebih mudah.

Saya juga sudah menjelaskan cara-cara mengisi outline. Outline ini hanya kerangka atau “peta” tentang sebuah buku. Outline sebuah buku juga dapat mengembang menjadi kompleks atau malah menyusut. Bukan outline-nya sih yang berubah, tetapi pikiran si penulis buku yang berubah menjadi membesar atau mengecil. Membesar atau mengecilnya pikiran—gara-gara dipakai untuk membuat buku—akan mengubah outline.

Kemudian hal penting lain dalam kelompok pertama tulisan tentang cara membuat buku ini terkait mindmapping. Anatomi buku, outline, dan mindmapping ialah alat-alat (tools) penting dalam membuat buku. Ketiga alat pembuat buku itu berkaitan dengan pikiran—tepatnya tampilan kualitas pikiran si penulis buku.

Membuat buku sejatinya memang seni menunjukkan—merujuk ke Descartes—kualitas pikiran. Lewat riset dan membaca banyak referensi, pikiran seorang penulis buku dikembangkan hingga batas-batas terjauh. Pikiran tersebut kemudian bersentuhan dengan pikiran lain para penulis (lewat buku yang dibaca para penulis) dan juga dengan fakta-fakta atau pengalaman yang ditemuinya. Bagaimana menunjukkan kualitas pikiran sehingga seorang pembaca buku menjadi mudah memahami sebuah lanskap pemikiran seorang penulis?

Pertama, kita harus sudi memperkaya diri kita dengan membaca. Merujuk ke ahli linguistik, Dr. Stephen D. Krashen—dalam bukunya, The Power of Reading—membaca akan membantu seseorang untuk memasukkan dan mengoleksi kata-kata. Semakin beragam dan bergizi kata-kata yang dimasukkan ke dalam pikiran, pikiran pun akan berkembang dalam bentuk yang dahsyat.

Kedua, kita harus rajin dan sesering mungkin menuliskan (mengungkapkan) pikiran kita. Hal kedua ini merujuk ke pendapat Rhenald Kasali lewat bukunya, Self-Driving. Dalam buku tersebut, penulis produktif Rhenald Kasali mengisahkan pengalamannya dalam membuat buku. Menurutnya, pikiran yang berkali-kali diungkapkan akan menjadi mudah disusun dan ditata menjadi sebuah buku.

Ketiga, berusaha keras untuk memiliki ide atau gagasan. Saya akan mengeksplorasi ihwal gagasan atau ide ini di kelompok tulisan selanjutnya. Gagasan adalah segugus pikiran yang sudah matang dan menunjukkan kualitasnya. Gagasan juga mewakili keunikan pikiran seseorang. Setiap penulis yang menyadari dirinya unik, tentulah memiliki gagasan.[]

Hernowo—di dunia maya dikenal dengan nama “Hernowo Hasim”—adalah penulis 24 buku dalam 4 tahun. Dia punya konsep membaca-menulis bernama “mengikat makna”. Ia mulai menekuni dunia menulis di usia lewat 40 tahun. Buku pertamanya, Mengikat Makna (Kaifa 2001) terbit saat usianya mencapai 44 tahun. Kini sudah 37 buku diciptakannya. Buku ke-37-nya berjudul “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Kini Hernowo sedang mempersiapkan buku tentang “free writing”, bagaimana membuat buku, dan aplikasi “mengikat makna”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here