Writing Toolbox

0
502

“Pak Hernowo, apa yang membuat Pak Hernowo nyaman, mudah, dan lancar dalam menulis?”

“Saya memiliki kotak perkakas menulis (writing toolbox),” jawab saya cepat.

Kotak perkakas menulis milik saya ini tidak nyata. Kotak tersebut tersimpan di dalam benak saya. Secara naluriah, kotak perkakas menulis tersebut otomatis membuka apabila saya berhadapan dengan hambatan dan problem menulis. Hambatan dan problem menulis tersebut, di dunia tulis-menulis, biasanya disebut sebagai writer’s block.

Ya, kotak perkakas menulis ini memang sangat membantu begitu saya berhadapan dengan writer’s block. Salah satu writer’s block yang sangat menyiksa adalah ketika saya menulis, tetapi dengan perasaan hampa, kosong, atau hambar. Tentu saja ada banyak sekali jenis writer’s block. Hanya, kali ini, saya ingin menjelaskan saja tentang writing toolbox untuk mengatasi writer’s block.

Gagasan memiliki writing toolbox kemudian mengisi writing toolbox dengan beberapa perkakas menulis itu saya peroleh dari novelis kondang, Stephen King. Saya membaca karya nonfiksinya, Stephen King: On Writing (Qanita, 2005). King adalah penulis fiksi—tepatnya penulis novel thriller—yang sangat produktif dan unik.

Kotak perkakas menulis itu saya baca di halaman 143 buku nonfiksinya itu. King mendapat inspirasi menciptakan kotak perkakas menulis dari pamannya, Paman Oren yang berprofesi sebagai tukang kayu. “Kotak perkakas Paman Oren kami namakan big ‘un. Kotak itu terdiri dari tiga tingkat, dua yang di atas bisa dilepas, dan ketiganya punya laci-laci yang bagus seperti kotak-kotak Cina. Tentu saja kotak-kotak itu buatan tangan,” tulis King.

Apa isi kotak perkakas Paman Oren? Ada palu, gergaji, tang, kunci baut berbagai ukuran yang bisa disetel, bor (mata bornya dengan berbagai ukuran), dan dua obeng. Dalam bayangan King, seorang penulis juga perlu memiliki kotak perkakas yang berisi berbagai macam “perkakas” menulis yang akan membantunya dalam menulis. Salah satu perkakas yang diusulkan oleh King dan harus ada di setiap kotak perkakas seorang penulis adalah bahasa.

Tanpa berpikir panjang, saya pun mengikuti anjuran King. Kotak perkakas bernama bahasa itu saya letakkan di bagian paling atas dan paling penting dalam writing toolbox milik saya. Setelah bahasa, saya menamakan perkakas kedua sebagai mengikat makna. Ada lima perkakas penting yang saya simpan di writing toolbox milik saya. Setelah bahasa dan mengikat makna, tiga perkakas lainnya adalah free writing, mind mapping, dan AMBAK.

Saya akan menjelaskan satu per satu kelima perkakas menulis saya itu—dan bagaimana mengoperasikannya—di tulisan-tulisan saya mendatang. Semoga bermanfaat.[]

 

Hernowo—di dunia maya dikenal dengan nama “Hernowo Hasim”—adalah penulis 24 buku dalam 4 tahun. Dia punya konsep membaca-menulis bernama “mengikat makna”. Ia mulai menekuni dunia menulis di usia lewat 40 tahun. Buku pertamanya, Mengikat Makna (Kaifa 2001) terbit saat usianya mencapai 44 tahun. Kini sudah 37 buku diciptakannya. Buku ke-37-nya berjudul “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Kini Hernowo sedang mempersiapkan buku tentang “free writing”, bagaimana membuat buku, dan aplikasi “mengikat makna”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here