Mengapa Orang Terkenal dan Tidak Terkenal Menulis Buku

0
445
Foto: Luca Bravo

Manistebu.com | Saat meluncur ide untuk menuliskan esai ini setelah membaca buku terbaru Arif Rahman (Creator.INC) yang saya habiskan sepanjang tiga jam perjalanan kereta Jakarta-Bandung, tiba-tiba yang terlintas adalah sosok Ajip Rosidi dan Nani Widjaja. Dua orang itu adalah sosok pesohor di negeri ini dan pernikahan mereka dalam berita memang sedikit menghebohkan. Cinta tak mengenal usia.

Sosok Ajip Rosidi mewakili sosok populer di dunia sastra dan perbukuan, sedangkan Nani Widjaja mewakali sosok populer di dunia akting. Kedua-duanya adalah maestro di bidang industri kreatif. Yang pertama sudah menulis begitu banyak judul buku dan yang kedua belum menulis buku (setelah saya googling belum ada informasi). Tapi, karena sudah bersatu dalam cinta, boleh jadi yang pertama akan menulis buku untuk atau tentang yang kedua. Cinta diungkapkan ke dalam buku.

Orang-orang terkenal pada puncak kariernya akan menemukan pertanyaan: Apa setelah ini? Sebuah buku kerap menjadi jawaban di ujung pertanyaan itu. Bukulah yang menjadi perekam atas apa yang mereka perjuangkan dan lakukan dengan perantara kekuatan kata-kata. Orang yang telah mengenal mereka akan semakin mengenal mereka melalui buku dan mengetahui bagaimana mereka memperjuangkan kebahagiaan dalam karier atau kehidupannya secara tidak mudah.

Orang-orang belum terkenal juga sangat berminat menulis buku atau berusaha untuk menulis buku karena buku menjadi jalan bagi mereka untuk dikenal. Namun, tidak semua orang yang belum terkenal menulis buku karena ingin populer. Ya contohnya seperti saya ini–meskipun kemudian saya jadi terkenal juga, paling tidak di kalangan orang-orang perbukuan. Hehehe.

Buku itu budaya yang sudah tua seiring dengan ditemukannya tulisan dan media untuk menulis yaitu kertas. Sejak Guttenberg menemukan mesin cetak, buku kemudian dapat diproduksi secara massal. Buku bahkan telah menjadi gengsi berabad-abad sebagai lambang intelektualitas dan kejayaan suatu masa. Para raja zaman dahulu umumnya merekrut para penulis untuk menghasilkan buku-buku, baik tentang ilmu pengetahuan maupun tentang sejarah.

Orang terkenal maupun orang tidak terkenal sama-sama merasa harus menulis buku karena buku meniscayakan sosok dan segala perjuangan maupun pemikiran mereka mencuat ke permukaan dan tetap hidup sepanjang masa. Jadi, salah satu pilihan hidup yang penting bagi seorang manusia adalah apakah ia menulis buku atau tidak menulis buku.

Orang Terkenal Menulis Buku

Tentulah banyak yang menjadi pertimbangan orang terkenal menulis buku, terutama ketika ia ingin menancapkan eksistensi keterkenalannya. Namun, ada juga karena desakan banyak orang yang ingin mengetahui kisah suksesnya. Para trainer ataupun motivator sangat berkepentingan dengan penulisan buku karena sangatlah berbeda antara trainer/motivator yang sudah menulis buku dan yang tidak menulis buku.

Begitupun dari kalangan pengusaha atau profesional, buku itu seperti kartu nama supercanggih bagi mereka. Jika kartu nama itu diklik, muncul berbagai informasi tentang mereka. Itu kartu nama era Iron Man saya kira kelak memang seperti itu. Untuk sekarang, sebuah buku sudah cukup menjadi media supercanggih untuk membedah siapa si pengusaha atau profesional itu.

Kalangan pesohor lain seperti artis telah juga paham tren menulis buku ini. Boleh jadi buku itu berbuah kontroversi sehingga makin melambungkan sosok mereka atau mengejutkan publik seperti terjadi pada biografi Krisdayanti ataupun Arnold Schwarzenegger.

Dari kalangan akademis ada ungkapan terkenal Publish or perish! Terbitkan (buku) atau minggirlah. Di Amerika dosen yang tidak menulis buku kurang diakui reputasinya. Menulis buku bagi mereka adalah segalanya.

Orang Tidak Terkenal Menulis Buku

Memang tidak ada larangan menulis buku itu harus terkenal dulu. Justru sebaliknya, jika mau terkenal, ya menulis buku. Kasus orang jadi terkenal gara-gara menulis buku sudah banyak terjadi. Karena itu, banyak sekali orang tidak terkenal ingin menulis buku.

Penerbit pun tidak kaku seperti dulu. Kalau Anda tidak terkenal, ya jangan coba-coba menulis buku. Memangnya Anda siapa? Itu dulu. Tapi sekarang penerbit lebih melihat konten dan kebutuhan pasar. Memang sih latar belakang penulis tetap jadi pertimbangan, tetapi bukan keterkenalannya.

Buku akhirnya bagi orang tidak terkenal ibarat skate board yaitu untuk meluncur dan meloncat dengan kecepatan tinggi. Masalahnya memang tidak semua orang tidak terkenal ataupun orang terkenal mampu menulis buku. Di situlah yang namanya ghost writer atau co-writer bakal diperlukan.

Boleh juga cara yang agak lama yaitu orang yang belum mampu menulis buku harus berlatih menulis buku dahulu. Jika ada renjana (passion), pasti mampu. Apalagi momentum kemajuan teknologi saat ini sangat membantu banyak orang untuk menulis buku.

***

Informasi dari gerbong kereta ekonomi AC menyadarkan saya untuk bergegas dan berkemas, lalu turun di Stasiun Cimahi. Buku Creator.INC membantu lecutan ide saya untuk mengembangkan Institut Penulis Indonesia tahun ini. Usia saya sudah berkepala empat, buku yang ditulis pun sudah 160 judul lebih, tapi saya masih bersemangat untuk berkiprah di dunia kreatif–bukan untuk terkenal, tetapi untuk dikenal dan dikenang.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here