Perkakas #2 Mengikat Makna untuk Belajar Menulis

1
422

Sekali lagi, perkakas kedua yang harus tersedia dalam writing toolbox milik saya adalah mengikat makna. Mengikat makna merupakan sebuah konsep tentang membaca dan menulis yang disinergikan—dipraktikkan secara simultan untuk memperoleh efek 1+1=11 bukan sekadar 1+1=2. Kali ini saya akan menunjukkan bagaimana mengikat makna dapat membantu seorang penulis untuk menulis secara tertata dan baik.

Mengikat makna sangat mengutamakan membaca. Membaca yang disarankan oleh mengikat makna adalah membaca ngemil. Membaca ngemil berarti membaca yang tidak banyak. Ia membaca teks yang jumlahnya sedikit dan kemudian mencermati secara saksama teks yang dibaca. Jika membaca buku, teks yang dibaca cukup sekitar 5 hingga 7 halaman. Jika teks yang dibaca berupa artikel pendek, cukuplah sekitar 3.000 hingga 5.000 kata.

Sikap yang perlu ditunjukkan ketika membaca ngemil adalah membaca dengan penuh kepedulian. Artinya, diri yang membaca bernar-benar terlibat dan berusaha bukan hanya untuk memahami tetapi juga merasakan keadaan yang ingin dihadirkan oleh teks. Dengan membaca hanya sedikit kemudian berhenti untuk mencermati teks yang dibaca, si pembaca ngemil tentu dapat menemukan sesuatu yang penting dan berharga yang dikandung oleh teks tersebut.

Setelah membaca ngemil dan mencermatinya, si pelaku membaca kemudian menuliskan apa saja yang diperoleh dari membaca—baik yang dituliskan iu berupa pemahaman, pengalaman, atau pemeroleh gagasan. Terkait dengan writing toolbox, si pembaca teks dapat belajar banyak dari teks-teks yang dibacanya. Apalagi jika sebelum membaca, si pembaca berupaya memilih teks bergizi yang ditulis oleh para penulis yang sudah berpengalaman menulis dan menguasai topik yang ditulisnya.

Pertama, dari teks bergizi yang dibacanya, dia dapat belajar tentang struktur tulisan. Seorang penulis yang berpengalaman dan menguasai materi yang ditulisnya akan menyajikan tulisannya dengan sangat terstruktur. Bagaimana memulai dan mengakhiri tulisan secara menarik. Lalu apa saja argumentasi yang perlu dibangun di antara awal dan akhir tulisan tersebut. Keahlian membangun struktur teks ini akan menunjukkan ketertataan pikiran sekaligus kualitas gagasan yang dimilikinya.

Kedua, dengan membaca ngemil, si penulis juga dapat mencermati—sekaligus menghayati—tata bahasa atau penyajian teks seorang penulis. Merujuk ke saran Stephen King (lihat “Bahasa sebagai Perkakas #1 dalam Writing Toolbox”), si pembaca ngemil dapat mempelajari pembangunan paragraf atau bagaimana cara memilih kata (diksi) yang tepat dan akurat.

Ketiga, mengikat makna kemudian mendorong si pembaca ngemil untuk mengikat semua yang diperoleh dari pengamatan dan penjelajahan teksnya. Apabila poin pertama dan kedua dapat dibiasakan, membaca dapat dijadikan sebuah proses belajar menulis yang baik. Bukan dengan cara memahami susunan kalimat SPOK (subjek, predikat, objek, dan keterangan), tetapi dengan cara menangkap bangunan teks secara menyeluruh dan utuh.

Saya sendiri, lewat mengikat makna, kemudian dapat belajar membuat judul-judul yang “eye catching” dari buku-buku dan artikel Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Begitu pula dari buku-buku Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) yang banyak berisi tentang penyajian struktur dan, terutama, bagaimana menulis secara bercerita (bertutur). Sementara dari Ustaz Quraish (Muhammad Quraish Shihab), saya banyak belajar tentang memilih kata atau istilah yang bermakna.[]

Hernowo—di dunia maya dikenal dengan nama “Hernowo Hasim”—adalah penulis 24 buku dalam 4 tahun. Dia punya konsep membaca-menulis bernama “mengikat makna”. Ia mulai menekuni dunia menulis di usia lewat 40 tahun. Buku pertamanya, Mengikat Makna (Kaifa 2001) terbit saat usianya mencapai 44 tahun. Kini sudah 37 buku diciptakannya. Buku ke-37-nya berjudul “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Kini Hernowo sedang mempersiapkan buku tentang “free writing”, bagaimana membuat buku, dan aplikasi “mengikat makna”.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here