Nulis Kok Cuma Kulitnya

2
300

KrJogja.com|SEBUAH status di akun Facebook kenalan saya, Surya Kresnanda, seorang trainer yang sudah menulis buku, menarik saya untuk berkomentar. Saya kutipkan statusnya:

“Kalau Trainer nulis buku isinya lengkap dan mendalam, ga ada yang ikut training saya dong?! Karena semua sudah tersampaikan di buku… “

Kawan, tak perlu khawatir bahwa menulis isi buku lengkap dan dalam akan membuat orang gak ikut trainingnya. Karena tetap ada banyak aspek yang tak bisa dipenuhi buku tapi didapat di trainingnya. Apa itu? BERLATIH …. 

Memang tidak dimungkiri ada gejala para pemilik ilmu, terutama para trainer ataupun motivator, menulis buku yang isinya hanya “kulit”, sedangkan “daging”-nya disimpan agar mendorong orang untuk mengikuti seminar, pelatihan, ataupun sanggar kerja yang akan diselenggarakannya. Buku-buku seperti ini terkadang diembel-embeli bonus voucer seminar atau pelatihan yang harganya melebihi harga buku itu berkali-kali lipat. Ya, pantas saja demikian.

Soalnya para pembaca tidak mendapatkan apa pun dari buku itu selain hanya pemaparan seadanya dan contoh-contoh yang tidak jelas bagaimana mengaplikasikannya. Pembaca hanya dijejali lagi-lagi nasihat dan motivasi.
Saya pernah juga membeli dan membaca buku seperti itu dan terus terang merasa terkecoh karena si penulis mengajak pembaca untuk tertarik, percaya, tetapi kemudian tidak membukakan rahasianya.

Padahal, jelas-jelas judulnya ada embel-embel rahasia. Saya rasa penulisnya memang sedang bercanda. Rupa-rupanya ia hanya ingin mengabarkan ada rahasia di sana, tetapi soal mengungkapnya, ntar dulu deh ….

Saya mengomentari status Surya tadi dengan menganalogikan buku superlaris bertajuk 7th Habits for Highly Effective People karya Stephen Covey. Tidak ada yang membantah buku tersebut begitu lengkap, sekaligus mendalam yang membahas bagaimana seseorang dapat secara efektif meraih sukses dengan mempraktikkan tujuh kebiasaan. Bahkan, Covey menemukan satu kebiasaan lagi yang kemudian dilanjutkan dengan buku 8th Habits.

Lantas apakah orang tidak mengikuti seminar dan pelatihan yang digelar Covey? Justru kebalikannya, orang berbondong-bondong ingin mendapatkan langsung ilmu tersebut dari pencetusnya. Lisensi pelatihan Covey bahkan diberikan juga ke berbagai negara, termasuk Indonesia yang sampai sekarang masih menyelenggarakan seminar dan pelatihan berbasis 7th Habits tersebut.

Begitu juga dengan Dale Carnegie—penulis buku-buku motivasi dan kepribadian yang lebih dulu muncul sebelum Covey. Pemegang lisensi atas pelatihannya juga ada di Indonesia dan pelatihan-pelatihan itu berbasis buku-buku yang telah ditulis oleh Carnegie.

Jika menyebutkan yang asli Indonesia, ada buku ESQ karya Ary Ginanjar yang lengkap dan tebal membahas tentang kecerdasan emosi-spiritual. Buku Ary ini dilecut oleh karya megabest seller Daniel Goleman bertajuk Emotional Quotient serta juga karya Danah Johar dan Ian Marshall bertajuk SQ: Connecting with Our Spiritual Intelligence—keduanya buku yang ditulis sangat serius berbasis riset. Justru karena buku ESQ itu diterbitkan maka begitu banyak orang di Indonesia yang mengikuti training ESQ.

Selain Ary, ada nama lain yaitu Arvan Pradiansyah yang menulis buku 7 Laws of Happiness dengan sangat lengkap dan mendalam membahas tentang kebahagiaan. Kemudian, buku itu menjadi basis penyelenggaraan seminar dan pelatihan yang diampu oleh Arvan.

Seorang pemilik ilmu sekaligus pendidik, apakah ia disebut guru, dosen, widyaiswara, trainer, atau motivator sejatinya harus total dalam menuliskan ilmu, pengetahuan, dan pengalaman yang dimilikinya di dalam karya tulis seperti buku.

Hal itu justru akan menunjukkan kapabilitas, kredibilitas, dan reputasinya di suatu bidang. Jika ia hanya memancing calon pembaca dengan kemasan kulit yang menggoda, ia sama saja dengan tukang jual obat di kaki lima.

Buku-buku yang ditulis dengan hanya memberi “kulit” seperti yang tadi saya sebutkan memang banyak beredar di Indonesia. Isi buku-buku itu bahkan setali tiga uang dengan artikel-artikel gratis yang dapat dengan mudah ditemukan melalui mesin pencari di internet. Hanya sedikit buku yang ditulis trainer atau motivator dapat dikatakan sebagai buku bermutu karena bahasannya lengkap dan mendalam, sekaligus memberi solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Satu hal yang saya tengarai dari fenomena ini bahwa para trainer dan motivator itu justru enggan belajar bagaimana cara menulis yang baik dan benar. Mungkin, ya ini mungkin. Mereka beranggapan menulis itu mudah dan karena mereka adalah “orang yang berilmu sehingga dapat cepat belajar dengan cara amati, tiru, dan modifikasi.

Alhasil, banyak dari mereka yang sekadar hanya mampu menulis buku kumpulan artikel. Buku ini saya sebut dengan istilah buku ‘butiran’. Adapun karya yang lebih serius saya sebut dengan istilah buku ‘tahapan’ yaitu buku yang mengandung metode atau pembahasan secara bertahap antarbagian atau antarbab.

Memang tidak semua buku kumpulan artikel itu identik dengan “buku kacangan”. Beberapa buku kumpulan artikel justru menyajikan artikel yang sangat menarik sekaligus detail. Sebut saja contohnya karya-karya Malcolm Gladwell yang merupakan buku kumpulan esainya. Di Indonesia buku kumpulan esai karya Emha Ainun Nadjib dapat menjadi salah satu contoh buku kumpulan tulisan yang bermutu.

Intinya menulis serius itu tidak gampang, perlu waktu, konsentrasi, konsistensi, dan komitmen dari penulisnya. Komitmen untuk mencerdaskan pembaca adalah dengan cara mengeluarkan apa yang diketahui oleh penulis seluruhnya sehingga dengan cara itulah seorang penulis berkontribusi pada kemajuan bangsanya, bahkan umat manusia.

Jadi, kalau hanya menulis sekadar “kulit”, lalu berharap orang rela mengeluarkan uang lagi agar mendapatkan “daging”nya, sungguh itu terlalu dan membuat penulis akan terlena. Tinggal tunggu saja akibatnya, penulis itu tidak akan pernah besar sebagai seorang penulis buku meskipun karyanya atau dia sendiri menganggapnyabest seller. Meminjam geraman Bung Karno: Sontoloyo![]

SUMBERBambang Trim
Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

  1. Ulasan yang menarik pak..
    Memberikan ilmu baru dan pemahaman untuk menuliskan buku secara mendalam. Bagi saya yang sedang belajar menulis “buku butiran”, artikel ini sangat mencerahkan dan menginspirasi untuk menulis butiran-butiran yang bermutu.
    Terimakasih banyak.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here