Buku Bukan Sekadar Kartu Nama Anda

0
579
Foto: Freddie Marriage

Manistebu.com | Ada yang mengatakan “buku adalah kartu nama”. Tidak salah karena itu ungkapan sederhana bahwa sebuah karya buku dapat mengenalkan sosok seseorang. Namun, sejatinya buku lebih dahsyat dari kartu nama. Ia adalah representasi kekayaan pengalaman, perasaan, dan pikiran seseorang.

Bagaimana jika seseorang yang miskin pengalaman, perasaan, dan pikiran (memaksa) menulis buku? Percayalah, pembaca tidak dapat dibohongi. Kelemahan tetap dapat dirasakan oleh pembacanya. Ada tanda-tanda yang mengindikasikan sebuah buku itu buruk, baik dalam materi, penyajian, maupun bahasanya.

Mengapa ada orang yang begitu pe-de sehingga memaksakan diri menulis buku, padahal ia belum mampu? Banyak alasan untuk hal ini. Ke-pede-an dapat didorong hasrat yang menggebu untuk tampil sebagai penulis buku karena itu adalah sebuah gengsi.

Boleh jadi juga karena seseorang terpaksa harus menulis. Umumnya, para penulis pemula adalah autodidak yang juga sekonyong-konyong belajar atau berlatih menulis seadanya–tanpa guru ataupun tanpa media belajar yang memadai.

Buku sebagai karya tulis–seperti yang pernah saya ulas juga–ibarat maraton dalam pengerjaannya karena memerlukan napas panjang. Adapun artikel media massa itu ibarat lari cepat (sprint). Karena itu, sangat berbeda mengerjakan buku yang merupakan kumpulan tulisan pendek (artikel) dan buku yang benar-benar merupakan tahapan demi tahapan.

Kesejatian penulis buku diuji dengan buku tahapan dari bab ke bab; dari bab ke subbab; dan seterusnya. Dari buku semacam ini akan tergambar utuh pengalaman, perasaan, dan pikiran seorang penulis sehingga pembaca akan mengenalinya dengan baik.

Jadi, menulis buku yang sebenar-benar buku adalah sebuah proses yang harus dilalui oleh seorang penulis. Proses yang melibatkan pengalaman, perasaan, dan pikirannya sehingga menjelma menjadi karya yang memiliki daya gugah, daya ubah, dan daya pikat tentunya.

Buku bukan sekadar kartu nama, melainkan lebih dari itu yang merepresentasikan kita dalam format Adiksimba (apa-di mana-siapa-mengapa-bagaimana). Karena itu, seriuslah dalam menulis buku tanpa harus menulis buku dengan materi yang serius.[]

 

Bambang Trim adalah Pendiri dan Direktur Institut Penulis Indonesia. Ia telah berpengalaman lebih dari 20 tahun di dunia penulisan-penerbitan serta telah menulis lebih dari 180 judul buku. Ia juga menjadi Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia dan pernah menjadi anggota Tim Pendamping Ahli penyusunan RUU Sistem Perbukuan di Komisi X DPR-RI.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here