Mengapa ‘Author’ Lebih Keren daripada ‘Writer’

0
1326
Foto: Andrew Neel dalam Unsplash

Manistebu.com | Ada dua istilah yang dikenal dalam dunia penulisan yaitu author dan writer.¬† Kata author berasal dari kata authority untuk menyebut seorang pencipta karya tulis yang memiliki otoritas (dalam KBBI tidak dieja autoritas) terhadap gagasan dan karyanya. Adapun kata writer jelas merupakan sebutan untuk orang yang melakukan (kegiatan) writing ‘menulis’.

Dalam bahasa Indonesia dikenal juga istilah ‘pengarang’ dan ‘penulis’. Salah satu pembeda yang dapat disebutkan bahwa pengarang lebih dekat pada pengungkapan imajinasi, sedangkan penulis lebih dekat pada (pekerjaan) mekanis. Karena itu, pencipta novel lebih sering disebut pengarang daripada penulis. Namun, pencipta buku teks, lebih sering disebut penulis atau penyusun–jarang atau bahkan tidak pernah disebut pengarang buku teks.

Dalam artikel saya di bambangtrim.com berjudul “Ini Beda Mengarang dan Menulis”, mengutip¬†archangelink.com, dijelaskan perbedaan antara author dan writer. Author (pengarang) berorientasi pada diri sendiri (self-oriented), sedangkan penulis (writer) berorientasi pada layanan (service-oriented).

Jika Anda adalah seseorang yang sangat percaya diri untuk menuliskan sesuatu karena Anda menyenangi apa yang Anda tulis, Anda tipikal seorang pengarang. Namun, jika Anda adalah seseorang yang menulis apa pun sebagai pekerjaan, Anda tipikal seorang penulis.

Nah, mungkin saja ada seorang author yang tidak dapat menulis, tetapi memiliki gagasan yang kaya untuk dituangkan ke dalam tulisan. Seorang author yang tidak dapat menulis biasanya akan memerlukan jasa co-writer atau penulis pendamping. Pendamping di sini juga dapat berposisi sebagai co-author manakala ia turut serta dalam pengembangan gagasan, tidak sekadar menulis.

Jadi, mengapa sebutan author atau co-author itu terkesan lebih keren? Itu karena mencerminkan seseorang adalah pemilik gagasan/ide, bahkan mungkin penemu sebuah konsep. Beda dengan writer atau penulis yang hanya mengerjakan tulisan pesanan, baik dari penerbit (media atau buku) atau dari orang lain.

Namun, dalam konteks Indonesia sering tidak ada bedanya antara sebutan pengarang dan penulis. Berbeda halnya kalau di kartu nama atau dalam menuliskan jenama (merek) diri seseorang menggunakan istilah bahasa Inggris. Sebutan author akan dimaklumi lebih tinggi “kasta”-nya daripada writer.

Saya sendiri melakoni keduanya. Ya sebagai author dan sebagai writer. Meminjam istilah Guy Kawasaki, saya juga melakoni APE yaitu author-publisher-entrepreneur. Pokoknya semua diborong dan sah-sah saja karena kemajuan teknologi dengan segala kemudahan yang ditawarkan kini sangat memungkinkan seseorang untuk mendalami dunia penulisan-penerbitan A-Z.[]

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here