Night Bus: Malam Panjang dan Siang Pendek di TIM

0
359

Manistebu.com |Night Bus • Produser: Darius Sinathrya • Sutradara: Emil Heradi • Pemeran: Teuku Rifnu Wikana, Toro Margens, Donny Alamsyah, Lukman Sardi, Alex Abbad, Yayu Unru, Tino Saroengallo, Laksmi Notokusumo, dll.

Kalau tidak ditanya Mas Zaim Uchrowi apakah saya sudah menonton Night Bus, mungkin saya tidak tergerak untuk menonton. Meski Mas Zaim bertanya kepada saya seminggu lalu, film ini ternyata tetap bertahan di TIM.

Ahad, 10 Desember 2017 saya niatkan untuk menonton. Minggu ini saya tidak kembali ke Bandung. Dan TIM adalah tempat favorit saya untuk menonton yang justru menjadi salah satu bioskop yang menayangkan kembali film ini.

Di bioskop saat masuk sudah ada sekira dua puluhan orang penonton yang lambat, tetapi pasti terus bertambah. Film dibuka dengan senandung ala PM TOH (Agus Nur Amal) yang berperan sebagai tunanetra.

Suasana terminal bus mengingatkan saya pada masa 1990-an kerap menumpang bus dengan kernet bus Medan yang selalu berkata, “Ligat! Ligat!” yang artinya cepat. Pun ini mengingatkan saya saat mudik menggunakan bus ALS menikmati perjalanan panjang Bandung-Medan selama 3 hari 3 malam.

Tentang Night Bus sudah saya dengar dan baca beritanya. Film ini mengisahkan konflik bersaudara yang langsung membawa kita pada memori kelam di Aceh. Sebuah bus membawa para penumpang melintasi daerah konflik menuju Sampar pada malam hari. Dari sinilah cerita dibangun di antara penumpang bus.

Kisah Night Bus diangkat dari cerpen karya Teuku Rifnu berjudul “Selamat” yang dipublikasikan tahun 2009. Rifnu mengakui cerpen itu terinspirasi dari pengalaman pribadinya ketika menumpang bus ke Sampar–sebuah kota yang disebut kaya sumber daya alam dan berada di Pulau Santani. Rahabi Mandra dan Teuku Rifnu Wikana (pemeran utama pria) mengadaptasi cerpen itu menjadi skenario Night Bus.

Ketika kali pertama ditayangkan, film ini tidak terlalu banyak mendapatkan sambutan penonton. Maklum, penonton kita mungkin lagi kesengsem pada film komedi dan kembali pada film horor.

Namun, nasib berkata lain, film ini mampu mengungguli film komedi, biopic, dan tentu saja horor Pengabdi Setan dalam FFI 2017. Sebanyak enam Piala Citra diborong film ini, termasuk anugerah aktor terbaik untuk Rifnu.

Setelah menghabiskan siang yang pendek di TIM menikmati film ini, saya menyatakan poin 8 untuk film Indonesia ini dan memang layak memenangi Piala Citra dalam FFI 2017. Akting Teuku Rifnu Wikana, sang penulis cerpen juga patut mendapat nilai 9 sebagai kernet yang bergaya khas Medan.

Film ini dari sisi mencekamnya masih terasa kurang membangkitkan ketegangan. Namun, dari sisi mengaduk emosinya sangat kena, termasuk juga artistik film yang menampilkan suasana muram. Ada juga beberapa kali saya tersenyum dan tertawa kecil karena komedi situasi yang terbangun apik.

Efek visual oke, bahkan pada saat pembuka ada helikopter yang jelas memang efek visual belaka. Satu hal yang tidak logis adalah ketika ada informasi  di check point bahwa perjalanan ke Sampar tidak diizinkan, justru ada dua helikopter terbang di atas bus. Bus bernama Babad itu tidak dihentikan. Lha, helikopter itu buat apa?

Pada beberapa bagian dialog bagi saya tidak jelas terdengar. Saya justru terbantu oleh subtitle berbahasa Inggris.

Walaupun begitu, pesan kengerian akibat konflik bersaudara ini tersampaikan dengan baik. Benarlah tagline film ini bahwa konflik tidak mengenal siapa korbannya, apakah itu orang biasa, orang tua, calon dokter yang sedang mengabdi, anak-anak, ataupun tentara.

Ada adegan menarik ketika bus dihadang oleh segerombolan perampok yang mengambil keuntungan dari kedua belah pihak yang berkonflik. Sang bos yang bengis (Tino Saruengallo) menaiki bus. Mula-mula ia berkata dengan bahasa Melayu Deli. Pada tiap penumpang dari daerah berbeda, ia mengubah logat bahasanya: Melayu, Manado, Jakarta, hingga Jawa. Ini memberi pesan tentang keragaman suku di Indonesia meskipun disampaikan orang yang menjadi salah satunya menjadi biang perpecahan.

Bos perampok bernama Basir itu dapat dilumpuhkan. Lagi saya agak kecewa karena adegan melumpuhkan ini tidak begitu jelas di dalam bus yang remang-remang. Terutama, ketika si Bagudung (Tengku Rifnu) langsung duduk di balik kemudi dan melarikan bus.

Seperti yang dinyatakan Darius Sinathrya bahwa film ini membawa pesan yang mendalam tentang keterbelahan. Bibit konflik pada bangsa kita mulai terasa walaupun masih sebatas sengit di media sosial atau meja debat. Namun, bibit ini tidak boleh dipupuk. Lihatlah bagaimana konflik dalam skala kecil sungguh sangat menyiksa.

Secara keseluruhan film ini menarik, menghibur, dan sarat pesan. Sangat direkomendasikan untuk yang suka drama-thriller.[]

Bambang Trim adalah Pendiri dan Direktur Institut Penulis Indonesia. Ia telah berpengalaman lebih dari 20 tahun di dunia penulisan-penerbitan serta telah menulis lebih dari 180 judul buku. Ia juga menjadi Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia dan pernah menjadi anggota Tim Pendamping Ahli penyusunan RUU Sistem Perbukuan di Komisi X DPR-RI.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here