10 Hal tentang Kover Buku yang Harus Anda Ketahui

0
1651

Manistebu.com | Baru-baru ini Toko Gramedia membuat aturan tentang kover buku yang membuat para penerbit bereaksi. Dengan mengacu pada UU No. 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan (Sisbuk), Toko Gramedia menyampaikan edaran bagaimana tampilan sebuah kover belakang buku.

Sifatnya wajib sehingga penerbit yang hendak menjual bukunya di Toko Gramedia, harus memenuhi ketentuan ini. Ketentuan yang sedikit atau malah banyak bakal merepotkan penerbit.

Ada hal baru yang menjadi wajib yaitu pencantuman kategori buku (bidang/jenis/genre) sesuai dengan klasifikasi Toko Gramedia. Selain itu, pencantuman peruntukan buku (usia pembaca sasaran) dan harga buku pada kover belakang.

Meskipun tampak sepele, ini menjadi isu serius bagi penerbit karena banyak penerbit tidak menerapkan semua elemen lengkap pada sebuah kover buku karena sebelumnya memang bukan merupakan keharusan. Bahkan, penerbit Kelompok Gramedia sendiri tidak menerapkan semua itu.

Berikut ini 10 hal yang perlu diperhatikan dalam merancang kover buku, terutama untuk mengantisipasi regulasi pemerintah ke depan.

  1. Anatomi Kover Buku: Kover buku umumnya terdiri atas kover depan (front cover) dan kover belakang (back cover). Apabila buku lebih dari 100 halaman, biasanya diadakan punggung buku (spine). Pada punggung buku juga termuat nama penulis, judul, dan logo penerbit. Penempatannya dapat dibaca dari atas ke bawah (bukan sebaliknya).
  2. Kover Depan: Bagian ini merupakan “etalase” awal bagi sebuah buku. Ketertarikan seorang calon pembaca terhadap buku bermula dari apa yang terlihat pada kover. Mereka dapat saja tertarik dengan desain kover, baik tipografi maupun gambar. Ada juga yang tertarik karena judulnya atau nama penulisnya. Di kover depan elemen yang sering muncul adalah judul (induk judul dan anak judul), nama penulis, dan logo/nama penerbit. Ada juga penerbit yang tidak mencantumkan logo di kover depan.
  3. Kover Belakang: Bagian ini penting untuk lebih meyakinkan calon pembaca membeli buku. Di bagian ini terdapat beberapa elemen yang bersifat informatif. Elemen utama adalah blurb (wara)–pelaku perbukuan sering menyebutnya sinopsis. Wara/sinopsis merupakan ringkasan atau ikhtisar isi buku yang paling “menjual” dan menarik bagi calon pembaca. Penulis wara biasanya adalah editor penerbit. Panjang wara tidak lebih dari 100 kata. Bagian-bagian kover belakang lainnya akan dijelaskan selanjutnya.
  4. Kategori/Bidang: Elemen ini merupakan informasi untuk menegaskan buku memuat konten pada bidang atau jenis apa. Misalnya, Novel Anak/Misteri, Bisnis/Keuangan, dan Sastra/Antologi Puisi. Keterangan pertama yang disebut adalah induk bidang/jenis. Lalu, lebih spesifik lagi berupa bidang/genre. Sering terjadi kover yang tidak mencantumkan kategori maka buku diletakkan pada rak yang salah oleh petugas toko buku.
  5. Peruntukan Buku: Peruntukan buku terkait dengan usia yang biasanya terdapat pada buku anak-anak. Pemerintah dalam hal ini Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) akan mengeluarkan regulasi pada 2018 bernama Perjenjangan Buku yaitu klasifikasi buku berdasarkan kemampuan membaca dan usia pembaca. Hal ini ada hubungannya dengan peruntukan buku. Elemen ini juga wajib dicantumkan pada buku sesuai dengan UU No. 3/2017 tentang Sisbuk untuk menghindarkan buku dibaca oleh pembaca sasaran yang tidak tepat.
  6. Testimoni: Selain wara/sinopsis, pada kover belakang juga dapat dicantumkan testimoni atau endorsement yaitu berupa komentar dari para tokoh terhadap buku. Di kover belakang biasanya hanya terdapat 1-2 testimoni yang paling berpengaruh, kecuali wara/sinopsis ditiadakan untuk memuat banyak testimoni.
  7. Biodata Penulis: Elemen ini juga berbagi kapling dengan wara/sinopsis yang menunjukkan serbasingkat siapa penulis buku. Informasi yang diberikan biasanya berhubungan dengan reputasi penulis. Penempatannya tepat di bawah dan sejajar dengan wara/sinopsis.
  8. Logo dan Alamat Penerbit: Elemen ini terdapat pada bagian sisi kiri bawah buku. Kalau logo sudah termuat di kover depan, di kover belakang hanya ada nama penerbit dan alamat lengkap (termasuk nomor telepon, pos-el, dan alamat situs web).
  9. ISBN: Elemen ini selalu diletakkan pada bagian sisi kanan bawah buku di kover belakang berupa barkod. Tidak ada ISBN diletakkan di kover depan atau di bagian atas kover belakang. ISBN atau International Standard Book Number menjadi elemen wajib pada sebuah buku sesuai dengan UU No. 3/2017.
  10. Harga Buku: Elemen harga buku kini wajib dicantumkan berdasarkan UU No. 3/2017 berada di bawah nomor ISBN. Toko Gramedia memberi arahan untuk mencantumkan harga buku di Pulau Jawa. Pencantuman harga ini sebenarnya dalam konteks dunia penerbitan bersifat opsional (boleh ada boleh tidak). Di beberapa negara ada penerbit yang mencantumkan harga dan ada yang tidak. Namun, harga pasti terdapat pada label yang dibuat toko buku berikut barkod.

Itulah 10 hal tentang kover buku yang kini wajib diketahui para pelaku perbukuan, terutama para penerbit. Banyaknya elemen yang harus dicantumkan sangat memerlukan ketelitian dalam penyuntingan karena mungkin saja desainer melakukan aksi copy paste dan lupa mengubah sesuai dengan yang seharusnya.

Contohnya, kesalahan pencatuman harga akan berakibat fatal atau kerugian jika harus mencetak kover lagi. Penentuan harga sendiri harus benar-benar cermat karena tidak mungkin diubah “di tengah jalan”. Kalaupun diubah dengan menaikkan harga, urusan bakal menjadi lebih ribet.[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here