Tentang Judul yang Mirip

0
237

Manistebu.com | Apakah seorang penulis buku tidak boleh menjuduli bukunya dengan judul yang sama dengan buku lain? Pertanyaan ini saya modifikasi dari pertanyaan seorang peserta kursus daring.

Jadi begini, perbendaharaan kata yang ada di benak kita ataupun yang ada di dalam kamus sejatinya tidak ada pemiliknya. Karena itu, seorang penulis buku bebas saja memilih kata-kata di antara ribuan kata meskipun secara kebetulan atau secara tidak sengaja mirip dengan judul buku yang sudah terbit. Kemungkinan kesamaan judul ini tidaklah terhindarkan karena orang-orang yang berpikiran sama juga tidak terhindarkan.

Untuk mengantisipasi judul buku yang mirip dan kesalahan pengiriman oleh penjual buku maka diadakanlah penomoran khas untuk buku. Itulah yang kita kenal dengan ISBN (International Standard Book Number). Pencantuman nomor ISBN di dalam order pembelian yang kemudian diproses oleh komputer dapat menghindarkan kesalahan pengiriman buku.

Jadi, coba Anda googling buku berjudul Pengantar Ekonomi Makro. Ada berapa buku dapat Anda temukan dengan judul seperti itu? Saya mencatat beberapa buku yang judulnya mirip.

– Pengantar Ekonomi Makro
– Pengantar Makroekonomi
– Makroekonomi: Teori dan Pengantar
– Pengantar Ilmu Ekonomi Makro

Lantas apakah Perpusnas (lembaga yang mengeluarkan ISBN) akan menolak judul buku yang sama? Tentu saja tidak karena itu bukan urusan Perpusnas. Judul sama dari penulis dan penerbit yang berbeda dapat dimaklumi. Namun, judul sama dari penulis yang sama dengan penerbit yang berbeda akan menjadi masalah jika tidak ada keterangan terjadinya alih hak cipta/hak ekonomi dari satu penerbit ke penerbit lain.

Peniruan Judul

Peniruan judul memang fenomena yang juga terjadi di samping judul yang kebetulan sama. Hal ini terjadi pada buku-buku yang sangat laris. Maka dari itu, ada penulis yang memirip-miripkan bukunya dengan judul buku laris meskipun hanya mengambil 1-2 kata. Tentu maksudnya agar pembaca sedikit “terkecoh”.

Kolega saya Mas Dodi Mawardi menulis buku laris berjudul Belajar Goblok dari Bob Sadino, lalu muncul epigon buku ini dengan judul Bob Sadino: Goblok Pangkal Kaya.

Beberapa buku asing juga dicomot kata-katanya untuk buku dalam bahasa Indonesia seperti terjadi pada Chicken Soup dan La Tahzan. Maka dari itu, muncul buku-buku dengan judul campuran Asing-Indonesia atau benar-benar asing, tetapi asli Indonesia.

Pendaftaran Judul

Beberapa penulis menganggap kata-kata yang dirangkainya menjadi judul itu sangat khas/unik. Karena itu, ia merasa harus “diamankan”.

Benar bahwa ada judul yang didaftarkan sebagai merek dengan logo R atau TM menyertainya. Contohnya, judul Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu atau Percepatan Rezeki karya Ippho Santosa yang diikuti lambang R yang bermakna merek dagang telah didaftarkan. 

Kalau sebuah judul buku sudah didaftarkan HKI-nya, tentu Anda harus berhati-hati menggunakannya sebagai judul buku karena dapat menimbulkan tuntutan dari pemegang lisensi. Walaupun begitu, judul buku memang sangat jarang didaftarkan sebagai merek dagang.

Mengapa sebuah judul buku didaftarkan sebagai merek dagang? Biasanya hal ini terkait dengan produk turunan dari buku seperti pelatihan/seminar/lokakarya yang menggunakan judul yang sama. Selain itu, sangat mungkin judul tersebut mengandung konsep, teori, atau formula tertentu yang khas dari penciptanya.

Judul buku memang susah-susah gampang memilihnya dari sekian kata yang tersedia. Bahkan, urusan judul ini sering mengundang campur tangan editor. Judul yang diajukan penulis dianggap “kurang menjual” atau “kurang impresif” sehingga editor menawarkan judul lain.

Ketika saya bekerja di penerbit, saya termasuk editor yang “senang” mengganti judul dari penulis. Sampai sekarang pun banyak penulis yang meminta judul atau mendiskusikan judul bukunya dengan saya. Mungkin nanti saya akan membuka jasa “pemberian judul buku”.

Judul memang menjadi pertaruhan untuk sukses sebuah buku meskipun kontribusinya hanya sekian persen. Akan tetapi, judul yang memikat akan mendorong orang melihat, lalu meneliti isi buku. Jika mengena di hati orang tersebut, ia pun akan membelinya.[]

Bambang Trim adalah Pendiri dan Direktur Institut Penulis Indonesia. Ia telah berpengalaman lebih dari 25 tahun di dunia penulisan-penerbitan serta telah menulis lebih dari 200 buku. Ia juga menjadi Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia dan penggagas sertifikasi penulis dan editor di Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.