Perlukah Buku Anak Diberi Daftar Pustaka

2
155
Foto: Bambang Trim

Manistebu.com | Tidak dimungkiri ketika menulis buku anak, seorang penulis juga melakukan riset dan menggunakan sumber-sumber faktual. Hal ini berlaku untuk karya fiksi dan nonfiksi bahwa apa yang disajikan penulis kepada pembaca kecilnya harus sesuai dengan fakta atau mengandung kebenaran. Penulis buku anak semestinya sangat berhati-hati dalam menyampaikan suatu materi.

Lalu, bagaimana menguji kebenaran tersebut? Senarai sumber bacaan dan rujukan di daftar pustaka dalam konteks penulisan ilmiah (nonfiksi) telah lazim menjadi bentuk pertanggungjawaban penulis terhadap isi dan juga terhadap pembaca bukunya. Daftar pustaka (bibliografi) juga berguna membantu pembaca menelusuri sumber-sumber yang digunakan penulis untuk mengecek kebenaran dan juga untuk mendorong pengkajian lebih lanjut.

Muncul pertanyaan, apakah daftar pustaka relevan digunakan di dalam buku anak-anak yang notabene pembacanya adalah anak-anak? Saya tergerak untuk menulis materi ini setelah ada kasus moderasi di dalam penilaian buku anak untuk pembaca sasaran anak PAUD/TK. Pada kegiatan ini saya adalah anggota Panitia Penilaian Buku Nonteks Pelajaran (BNTP) 2020 yang dikelola oleh Puskurbuk, Kemendikbud.

Sebuah buku fiksi anak memuat materi tentang pohon tengkawang yang berasal dari Kalimantan. Salah seorang penilai mewajibkan sumber materi ini disebut di dalam daftar pustaka. Artinya, buku fiksi anak ini harus menyertakan daftar pustaka karena mengandung materi yang bersifat informatif dan ilmiah.

Di dalam instrumen penilaian yang disusun oleh tim, sudah diberi keterangan pada rubrik bahwa sebuah buku fiksi tidak memerlukan daftar pustaka, apalagi fiksi anak-anak. Apabila penulis mencantumkan daftar pustaka pada buku fiksi, tentu untuk alasan pertanggungjawaban, misalnya dalam fiksi berbasis sejarah.

Fiksi Berbibliografi

Saya ambilkan satu contoh kasus yang tidak lazim yaitu novel serial Nagabumi yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Novel tersebut menggunakan rujukan catatan akhir (end notes) dan daftar pustaka yang dijuduli “Sekadar Bacaan”. Tentu pencantuman ini menunjukkan Seno sangat serius melakukan riset sejarah terhadap penulisan novelnya meskipun tokoh utama novel adalah seorang fiktif belaka yang disebut Pendekar Tanpa Nama.

Julie Bosman dalam artikelnya berjudul “Literature: Do novels really need bibliographies?” di International Herald Tribune sempat mengungkap juga kasus novel The Castle in the Forest karya Norman Mailer yang memuat bibliografi setelah halaman ucapan terima kasih. Beberapa kritikus sastra seperti John Wood dan Purist berpendapat pencantuman itu tidak diperlukan meskipun diketahui bahwa penulis melakukan riset serius untuk naskahnya.

Novelis pun membela diri bahwa pencantuman daftar pustaka atau catatan di dalam buku mereka untuk menunjukkan bahwa mereka telah menghabiskan berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun meneliti untuk sebuah novel sejarah, daftar sumber adalah bukti kerja dan keahlian. Hal itu juga mungkin melindungi mereka dari tuduhan mengutip sumber secara ceroboh dalam iklim yang dipicu oleh tuntutan hukum dan tuduhan plagiarisme.

Faulks dalam novel terbarunya Human Traces menyertakan daftar pustaka di edisi hardcover.

“Saya tidak berpikir bahwa novel harus mengandung bibliografi,” tulis Faulks di dalamnya, “karena membuat daftar buku pada akhir karya fiksi biasanya merupakan upaya untuk menopang teks yang tipis–seolah-olah semua seni menginginkan kondisi yang kerap terdapat di esai seorang pelajar. “

Faulks menambahkan disclaimer bahwa novel Human Traces begitu panjang dan rumit sehingga ia berpikir pembaca membutuhkan bantuan ekstra. Namun, hal itu tidak dilakukannya pada edisi paperback yang terbit di Inggris dengan alasan bagian sumber itu terlihat panjang, sombong, dan berat. Di AS, justru daftar pustaka yang dihapusnya pada edisi paperback ini dikeluhkan pembaca. Ternyata ada pembaca yang juga menuntut sebuah rujukan meskipun itu karya fiksi.

Jadi, munculnya penulis fiksi yang kini cenderung menyertakan daftar pustaka di dalam novelnya telah menimbulkan juga perdebatan, terutama antara novelis dan kritikus sastra. Lalu, bagaimana dengan fiksi anak?

Bibliografi pada Fiksi dan Nonfiksi Anak

Secara logis tentu pembaca dari kalangan anak-anak PAUD/TK yang disebut kelompok prabaca (belum dapat membaca) tentulah tidak tahu apa fungsi bibliografi di dalam buku. Begitu pun anak-anak dalam kelompok pembaca dini (baru dapat membaca) yakni siswa kelas I SD atau usia 7 tahun. Mereka meskipun sudah dapat membaca, juga tentu tidak paham konsep sumber materi di dalam daftar pustaka yang dijadikan rujukan penulis.

Buku pedoman gaya selingkung, seperti APA, MLA, atau Chicago Manual of Style tidak mengatur soal perujukan (citation) di dalam buku anak-anak karena memang pedoman tersebut ditujukan untuk pembaca orang dewasa atau di dalam pedoman perjenjangan buku disebut pembaca kritis. Dengan demikian, pencantuman daftar pustaka di dalam buku anak-anak (prabaca dan pembaca dini) tidak memiliki fungsi bagi pembaca anak-anak. Tanggung jawab kebenaran terhadap isi adalah tanggung jawab penulis dan editor penerbit yang memeriksanya.

Penilai buku anak-anak yang “curiga” terhadap kebenaran data dan fakta di dalam buku dapat langsung mengeceknya secara cepat pada mesin pencari di internet atau merujuk pada buku-buku sumber. Itulah yang menjadi tanggung jawab penilai menggunakan academic judgement atau professional judgement dalam menilai buku anak-anak yang memang tidak lazim menggunakan daftar pustaka, apalagi buku fiksi.

Tuntutan pemuatan daftar pustaka pada buku fiksi anak-anak justru dapat menjadikan buku anak-anak kita bakal berbeda sendiri dengan buku anak-anak di dunia. Ilustrasi perdebatan pada fiksi orang dewasa yang saya sampaikan sebelumnya cukup menjelaskan apakah memang perlu daftar pustaka juga dimuat di dalam buku fiksi anak?

Lalu, bagaimana dengan buku nonfiksi anak? Jika mengambil contoh buku nonfiksi anak-anak yang terbit di Eropa dan Amerika, umumnya juga tidak mencantumkan daftar pustaka. Bagian akhir buku yang kerap muncul di dalam buku nonfiksi anak-anak adalah glosarium dan indeks.

Fakta dan kelaziman tersebut juga menjadi perhatian saya dalam menyempurnakan instrumen penilaian. Namun, tentu harus ada dasar yang digunakan untuk pemberlakuan ketentuan. Agak sulit memang mencari sumber “pembenaran” terhadap hal ini secara tertulis, termasuk di sumber internet, kecuali alasan-alasan logis dan kelaziman seperti yang sudah saya uraikan.

Kasus tidak semestinya terjadi pada buku-buku terjemahan asing (nonfiksi anak) yang tidak menyertakan daftar pustaka, haruskah buku itu dalam bahasa Indonesia “dipaksakan” menjadi memiliki daftar pustaka? Hal ini memang isu yang menjadi tantangan bagi panitia penilaian buku nonteks (pengayaan) dan juga penilai buku nonteks.

Salah satu alasan yang mengemuka mengapa ada tuntutan wajib ada daftar pustaka di buku-buku nonfiksi anak karena keliterasian yang rendah. Boleh dikatakan panitia mengantisipasi penulis dan editor yang rendah keliterasiannya sehingga tidak benar-benar melakukan riset terhadap buku yang ditulisnya, terutama buku pengetahuan dan keterampilan. Penggunaan materi keilmuan yang asal comot bukan sekali-dua kali ditemukan sehingga menunjukkan kecerobohan penulis dan editor buku.

Memang penulis dan editor di Indonesia tidak dapat dibandingkan dengan kebanyakan penulis dan editor dari negara-negara maju di dunia yang lebih literat. Banyak penulis buku anak dan editor buku anak “jadi-jadian” di Indonesia tanpa memiliki kompetensi menulis dan menyunting buku anak. Hal inilah yang memantik keraguan sehingga daftar pustaka diwajibkan. Namun, siapa pula yang bakal menelusuri jejak daftar pustaka tersebut, apakah benar-benar digunakan atau sekadar asal comot?

Beberapa pengetahuan dan keterampilan yang dicantumkan di dalam buku anak-anak sebenarnya masuk kategori pengetahuan dan keterampilan yang sudah umum atau jamak serta teruji kebenarannya. Contoh pengetahuan umum: Masyarakat Indonesia lebih banyak mengonsumsi nasi (beras) sebagai makanan pokok. Pernyataan tersebut tidak perlu dicari sumbernya dari mana.

Demikian pula pernyataan tentang pohon tengkawang sebagai tumbuhan endemik di Kalimantan serta morfologi tumbuhan tersebut, sumber tersebut juga dapat dirujuk secara cepat di internet untuk memastikan kebenarannya sebagai informasi umum. Berbeda halnya jika penulis menyertakan informasi: Buah pohon tengkawang dapat diolah menjadi antivirus Corona. Pernyataan seperti ini sudah masuk ke ranah informasi yang memerlukan sumber rujukan dan bukti.

Atas dasar informasi, pengetahuan, dan keterampilan yang sudah umum dan dapat ditelusuri kebenarannya, daftar pustaka tidak muncul pada buku-buku anak terbitan Eropa atau Amerika, bahkan juga tidak ada model rujukan/referensi catatan di dalam teks. Memang akan aneh jika muncul catatan di dalam teks (in-note, foot note, end note) di dalam buku anak-anak karena anak-anak yang membaca juga pasti tidak paham maksudnya.

***

Penggunaan rujukan/referensi atau daftar pustaka di dalam buku anak menjadi salah satu pelik-pelik menulis dan menilai buku anak. Saya cenderung mendukung sikap “tradisional” untuk tidak mencantumkan daftar pustaka jika tidak ada kepentingannya di dalam buku anak, apalagi jika saya sebagai penulis atau editor dapat menjamin kebenaran penggunaan sumber di dalam buku. Tidak ada kepentingan yang dimaksud di sini juga sejauh mana anak-anak dapat memahami daftar pustaka dan menggunakannya untuk sebuah penelusuran.

Saya kurang tahu apakah di jenjang pendidikan dasar atau pendidikan menengah, guru juga menjelaskan soal penyusunan bibliografi/daftar pustaka dan kegunaannya? Kemungkinan hal ini dijelaskan di jenjang SMP atau SMA ketika seorang pelajar sudah menulis kertas kerja (paper) atau laporan yang memerlukan rujukan sumber. Dengan kata lain, siswa mulai paham penggunaan daftar pustaka/bibliografi saat SMP atau SMA, atau mungkin juga di SD pada tingkat paling tinggi (kelas V dan VI).[]

Bambang Trim adalah Pendiri dan Direktur Institut Penulis Indonesia. Ia telah berpengalaman lebih dari 25 tahun di dunia penulisan-penerbitan serta telah menulis lebih dari 200 buku. Ia juga menjadi Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia dan penggagas sertifikasi penulis dan editor di Indonesia.

2 KOMENTAR

  1. Daftar Pustaka untuk beberapa kelompok buku seperti buku anak bisa ada (jika memang diperlukan) tetapi tidak harus selalu dicantumkan dalam buku. Saya usul, di bagian akhir buku cukup dicantumkan Barcode atau QR Code yg terhubung ke alamat website tertentu yg mencantumkan daftar lengkap Daftar Pustaka lengkap dari buku tersebut. Selain barcode dan QR Code, bisa juga dicantumkan alamat website atau link-nya secara langsung. Selain untuk Daftar Pustaka, hal yg sama juga bisa dilakukan terhadap Informasi Pelaku Perbukuan dan beberapa informasi lain yg wajib dicantumkan dalam buku-buku pelajaran yang dinilaikan di Puskurbuk. Tentu hal ini akan mengurangi “halaman tak penting untuk siswa tetapi penting untuk Puskurbuk”.

    • Penggunaan barcode/QR code belum diatur dalam hal pencantuman sumber dan hal ini juga menjadi kendala teknis tersendiri apabila pembaca tidak memiliki akses ke sumber tersebut. Dengan demikian, pencantuman daftar pustaka mutlak dilakukan pada versi cetakan atau versi elektronik secara langsung. Berbeda kasusnya dengan bahan pengayaan yang dapat mencantumkan barkod/QR code sebagai tautan tambahan yang bersifat opsional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.