Masa Depan Penerbitan Buku Setelah COVID-19

0
514
Canva Pro

Saya bukanlah futuris yang memiliki kemampuan mirip ahli nujum–dapat meramalkan apa yang terjadi pada masa depan. Namun, buku Jason Schenker bertajuk The Future After Covid mendorong saya menulis esai ringkas ini tentang apa yang mungkin terjadi pada dunia penerbitan buku.

Buku Schenker terdiri atas esai-esai pendek tentang prediksi apa yang terjadi di berbagai bidang pasca-COVID-19. Namun, Schenker tak menyentuh soal penerbitan buku. Biarlah ini menjadi urusan saya sebagai tukang buku keliling.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pandemi corona atau oleh WHO disebut secara resmi COVID-19 telah mengharu biru (mengacaubalaukan) berbagai tatanan kehidupan, tidak terkecuali dunia usaha dan dunia industri. Penerbitan buku juga terkena imbas ketika penjualan buku cetak (baca: buku kertas) secara langsung di saluran penjualan mandek sejak Februari 2020 hingga kini (September 2020).

Penerbit buku pendidikan yang seharusnya menuai laba pada tahun ajaran baru, tahun ini berdarah-darah. Sekolah dan perguruan tinggi tiba-tiba harus mengubah pemelajaran tatap muka menjadi pemelajaran jarak jauh (PJJ). Buku teks tak lagi dapat digunakan secara normal, digantikan oleh modul-modul mandiri yang dikembangkan oleh guru atau dosen dalam situasi darurat. Pemerintah pun memaklumkan kurikulum darurat yang “memutilasi” kompetensi dasar sehingga buku teks berbasis K-13 kurang relevan digunakan pada masa pandemi.

Demikian pula penerbit buku religi Islam yang biasanya memanen fulus pada saat menjelang Ramadan dan musim haji, juga harus menerima takdir terhempas. Ramadan saat COVID-19 adalah Ramadan yang benar-benar sunyi dan syahdu, termasuk dari penjualan buku. Begitupun program umrah dan haji dihentikan yang turut menghempaskan usaha perjalanan umrah dan haji.

Penerbit buku umum yang biasa berjaya dengan tema baru dan tren, otomatis juga mati kutu karena kutu-kutu buku juga berpuasa membeli buku. Pameran dan bazar buku yang biasa menyemarakkan bulan-bulan kehidupan kita, kini digantikan dengan pameran daring yang bagi sebagian kutu buku dianggap garing. Dua pameran buku terbesar di Ibu Kota yakni Pesta Buku Jakarta dan Indonesia International Book Fair harus diselenggarakan secara daring melalui kerja sama dengan pemilik lokapasar (marketplace).

Saya masih ingat ketika krisis 1998 terjadi dan saya masih bekerja di sebuah penerbit buku pendidikan, manajemen saat itu mengambil kebijakan pengetatan karena daya beli masyarakat yang menurun. Meskipun begitu, kami masih bebas bergerak dan bergerilya menerbitkan serta memasarkan buku tanpa takut terancam jiwa dan raga. Akan tetapi, krisis akibat COVID-19 sungguh berbeda. Ketakutan benar-benar melanda banyak orang karena bertaruh nyawa.

Pemerintah gamang, apalagi masyarakat awam yang turut tergagap-gagap. Saya pribadi terkena dampak juga sebagai tukang buku keliling. Tiga kelas tatap muka yang sudah dijadwalkan di tiga kota, berantakan dan akhirnya batal. Namun, tetap ada hikmah, terutama bagi orang Indonesia. Saya menggeber kelas daring penulisan-penerbitan via Zoom hingga berlangsung puluhan kelas dalam beberapa bulan.

Dari sisi kreativitas, bekerja di/dari rumah membuat saya mampu menyelesaikan beberapa buku, termasuk buku cepat saji yang saya terbitkan secara elektronik dan dibagikan gratis. Buah dari terkunci sementara di rumah.

Apakah Kini Saatnya Buku Elektronik?

Buku elektronik dianggap sebagai buku masa depan. Namun, apakah buku elektronik adalah buku masa depan untuk kasus COVID-19? Saya kira buku elektronik sudah berjalan sesuai dengan agendanya. Apakah COVID-19 mempercepat agenda buku elektronik diwujudkan secara besar-besaran, terutama di Indonesia? Sebagai sebuah solusi, ia pantas dipikirkan dan dijalankan.

Perubahan perilaku orang membaca buku cetak menjadi buku elektronik karena COVID-19 tampaknya tidak signifikan dihitung sebagai dampak potensial. Akan tetapi, fakta bahwa orang-orang akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu dan berkegiatan di rumah dengan membaca buku adalah keniscayaan. Jika sebagian orang lebih senang membeli buku, lalu tetap menyimpannya tanpa membuka plastik pelindung, kini mereka mulai melirik buku-buku itu dan membacanya. Hal tersebut juga terjadi pada diri saya yang gemar membeli buku, tetapi tak punya waktu membaca.

Jadi, saya sebagai generasi X tetap mendambakan buku cetak dan perjumpaan fisik dengannya. Setelah masa PSBB di Kota Bandung–tempat saya bermukim–usai, saya mulai berkunjung ke toko buku. Lebih dari enam bulan saya tidak berjumpa buku baru secara fisik. Di sebuah jejaring toko buku besar, tampak hal yang sedikit berbeda. Buku-buku baru tak banyak dan toko itu menggunakan penerangan yang nyaris temaram tanpa semangat. Namun, saya tetap menemukan buku baru, salah satunya buku Jason Schenker yang telah diterjemahkan Penerbit Alvabet.

Memang tidak terbayangkan jika COVID-19 terjadi sebelum teknologi digital begitu masif seperti saat ini. Tentu tidak ada yang namanya “daring-daring” itu. Alhasil, sebagian besar harapan kini digantungkan pada internet. Penerbitan buku jelas sebagai produk dan jasa yang dapat dikendalikan dari jarak jauh–sudah terjadi jauh-jauh hari sebelum adanya pandemi.

Kembali pada soal buku elektronik, agenda pengonversian buku fisik menjadi buku elektronik saat COVID-19 atau setelah COVID-19 tetap berlangsung dengan atau tanpa akselerasi. Hal yang nyata terjadi adalah pembalikan proses ketika buku-buku elektronik lebih dulu diterbitkan daripada buku fisik. Buku-buku elektronik menjadi pilihan sekaligus harapan memberitakan buku baru kepada masyarakat pembaca dengan cara yang sangat masuk akal, baik dari segi biaya maupun kecepatan. Apakah buku elektronik akan menjadi andalan pascapandemi? Jawabnya YA dengan sebuah konsep baru pengembangan buku elektronik tentunya.

Toko buku elektronik menjadi penting saat pandemi ataupun pascapandemi. Namun, beberapa toko buku elektronik di Indonesia sudah rontok terlebih dahulu alias layu sebelum berkembang, termasuk milik dua perusahaan besar: Qbaca (PT Telkom) dan Cipika Bookmate (Indosat Ooredoo). Saatnya toko buku elektronik dibangun kembali.

Menggegas Toko Buku Daring

Perjumpaan fisik tak dapat diprediksi bakal kembali normal. Alih-alih normal, kita memasuki era normal baru yang sama sekali berbeda dengan protokol kesehatan ketat. WHO sudah menyatakan bahwa kita akan hidup bersama COVID-19. Salah satu harapan adalah vaksin yang dapat segera direalisasikan untuk mengadang virus.

Karena itu, toko buku fisik mungkin tinggal kenangan untuk sementara. Meskipun dibuka, orang masih takut keluar rumah. Saat awal COVID-19 terjadi menjelang lebaran, seorang kenalan saya di penerbit mengeluhkan tentang bisnisnya yang terhempas karena pembayaran dari toko-toko buku fisik terhenti juga. Hal itu seperti memotong urat nadi penerbit yang dibiarkan kehabisan darah.

Apa pun situasinya, buku-buku di gudang harus tersalurkan dan terutama terjual. Lokapasar adalah salah satu harapan meskipun di lokapasar itu penerbit harus bertarung dengan pelapak-pelapak mandiri yang juga memenuhi lapaknya dengan buku bajakan.

Saya membaca status dari orang buku yang mumpuni, Antonius Riyanto, salah seorang pemilik Grup Agromedia. Bang Anton memperlihatkan foto gudang toko buku daring yang dipersiapkan Agromedia–bedakan antara toko buku daring (online book store) dan toko buku elektronik (e-book store). Ya, tentu penerbit sebesar Agromedia tidak dapat sekadar menunggu dan melihat situasi yang terjadi tanpa berbuat apa-apa. Kolega Bang Anton, Kang Hikmat Kurnia yang juga Ketua Ikapi DKI pada beberapa status Facebook-nya mengungkapkan langkah-langkah darurat yang harus dilakukan penerbit buku, termasuk kemampuan untuk bertahan.

Saya membayangkan asosiasi penerbit sebesar dan sekelas Ikapi dapat membangun lokapasar buku tersendiri pada masa pandemi ini. Sebenarnya Ikapi sudah membangun toko buku daring sendiri sebelum pandemi bernama Ikapi Store. Namun, kiprahnya belum terlihat sebagai toko buku daring yang memajang buku-buku para penerbit. Hanya ada sekilas informasi di situs web Ikapi.

Memang dalam situasi seperti saat ini gerak cepat harus dilakukan untuk menghimpun kekuatan penerbit buku yang masih tersisa. Tambahan lagi, kreativitas harus ditunjukkan dalam situasi darurat dengan mempertimbangkan cara-cara yang paling mungkin, paling tidak untuk sekadar bertahan. Sudah dapat dipastikan banyak penerbit anggota Ikapi maupun non-Ikapi yang kolaps dalam masa pandemi ini.

Alih Wahana Sebagai Masa Depan Perbukuan

Istilah ‘alih wahana’ belum semua orang akrab dengannya. Makna yang termuat di KBBI dapat dijadikan rujukan: peralihan suatu karya sastra atau seni ke media lain, seperti karya sastra ke film dan sebagainya; ekranisasi; pelayarputihan; filmisasi. Sebuah buku karya Sapardi Djoko Damono (alm.) bertajuk Alih Wahana cukup menjelaskan perihal ini karena beliau sendiri mengalaminya.

Puisi “Hujan Bulan Juni” dialihwahanakan menjadi film. Dari film dialihwahanakan menjadi novel. Alih wahana menunjukkan potensi sebuah konten dalam wujud buku, misalnya, beralih ke bentuk lain yang memungkinkan adanya penghasilan lain bagi penerbit, tentu juga bagi penciptanya.

Alih wahana ini sudah dilakukan oleh Penerbit Mizan pada karya-karya Dee Lestari beberapa tahun lalu. Grup Mizan pun mendirikan perusahaan rumah produksi sendiri (Mizan Production). Namun, apakah semua film produksi Mizan dari alih wahana novel itu berhasil? Tentu saja tidak.

Dalam obrolan nonformal bersama Mas Hernowo (alm.), beliau mengungkapkan juga bagaimana beberapa film yang berasal dari alih wahana novel tidak mencapai jumlah penonton yang diharapkan. Film Laskar Pelangi mungkin salah satu contoh yang paling sukses dalam alih wahana novel ke film.

Pertanyaannya apakah alih wahana menjadi salah satu masa depan perbukuan pasca-COVID-19? Saya menyatakan hal ini sama saja dengan buku elektronik bahwa alih wahana sudah menjadi agenda yang berjalan di beberapa penerbit, terutama penerbit novel seperti Bentang Pustaka (Grup Mizan). Ia bukan sesuatu yang baru atau dapat diakselerasi pada masa pandemi. Kenyataannya industri perfilman, termasuk bioskop juga terdampak serius akibat COVID-19.

Namun, tunggu dulu, alih wahana bukan sekadar novel (buku) menjadi film, boleh juga sebaliknya. Boleh juga novel menjadi gim digital. Saya kira masalah ini bakal terjawab pada acara bertajuk “Alih Wahana Sebagai Masa Depan Penerbitan” meskipun ini tidak selalu dapat dikaitkan dengan masa depan pasca-COVID-19. Acara itu digelar oleh Jakarta Book City sebagai bagian dari ambisi Jakarta menjadi UNESCO World Book Capital bersamaan dengan perhelatan Kongres Penerbit Sedunia (IPA) tahun 2022 di Jakarta.

Gerilya Para Penerbit Mandiri

Sebagaimana terjadi pada krisis 1998, penopang ekonomi bangsa ternyata adalah para pelaku UMKM. Mereka masih dapat menggerakkan ekonomi meski tertatih. Dalam konteks perbukuan, penerbit UMKM, terutama penerbit mandiri (self-publisher) juga banyak sekali di Indonesia. Mereka adalah para penulis yang menulis dan menerbitkan bukunya sendiri, lalu menjualnya juga dengan usaha pemasaran gerilya.

Pada masa pandemi, gerak para penerbit mandiri ini tetap terdeteksi. Saya sendiri sejak menyelenggarakan kelas daring penerbitan mandiri dan menggagas Forum Wirausaha Aksara Indonesia (FWAI) pada masa pandemi mendapati beberapa teman telah mendirikan CV dan menggerakkan usaha penerbitan mandirinya alih-alih juga menjadi usaha jasa penerbitan.

Buku-buku penerbit mandiri dicetak dalam skala kecil, mungkin hanya 50 sampai dengan 200 eksemplar dengan pencetakan manasuka (print on demand). Mereka menjualnya secara bebas melalui media sosial dan lokapasar tentunya, termasuk penjualan langsung lewat suatu acara. Selain buku cetak, mereka tentu juga menerbitkan buku secara elektronik dan menaruhnya di toko-toko buku elektronik. Mereka adalah penopang dahaga perbukuan pada masa pandemi dan pasca-pandemi meskipun dengan judul-judul buku yang terbatas. Itu sebabnya mereka memerlukan pembinaan, terutama dari pemerintah.

Sebuah Optimisme Perbukuan

Sekali lagi, saya bukanlah seorang futuris. Akan tetapi, saya memiliki tabiat seorang futuris dengan sikap optimistis terhadap masa depan. Peran buku takkan tergantikan oleh media lain walaupun ada yang beranggapan kita dapat belajar dari berbagai media selain buku. Buku tetaplah buku apa pun bentuknya, cetak atau elektronik yang memiliki kekhasan tersendiri sebagai himpunan informasi, pengetahuan, dan hiburan yang terstruktur dan berjenjang.

Jason Schenker menyatakan bahwa masa depan pendidikan adalah daring. Perbukuan termasuk oksigen dan energi bagi dunia pendidikan. Akselerasi digitalisasi dalam dunia perbukuan, baik konten maupun pemasaran, adalah sebuah keniscayaan untuk dapat sekadar bertahan atau memulakan normal yang baru dalam bidang perbukuan. Konten adalah “nyawa” dari perbukuan sehingga peran para pencipta dan pengemas konten tidak dapat dikesampingkan.

Pengembang buku elektronik, sebuah profesi yang dimasukkan ke dalam UU Sistem Perbukuan bakal menjadi profesi yang paling dicari oleh penerbit. Ia bukan sekadar orang yang mengerti ilmu TIK atau desain. Ia adalah seseorang yang memahami konten dan bagaimana konten itu dapat dikreasikan sebagai buku elektronik yang menggugah, mengubah, dan mengandung daya pikat.

Para artisan dunia perbukuan sudah dapat beradaptasi dengan kerja secara jarak jauh tanpa harus ke kantor. Ini adalah sebuah pilihan paling logis di tengah pandemi dan menjadi sebuah normal baru pascapandemi. Pertemuan virtual dapat dilaksanakan via aplikasi konferensi video. Demikian pula pemantauan pekerjaan dapat dilakukan melalui aplikasi semacam Google Document. Penerbit masa depan adalah penerbit yang tak lagi memerlukan banyak orang berkumpul di redaksi. Pekerjaan penerbitan buku sebagai jasa akan semakin berkembang dan menemukan momentumnya.

Oleh karena itu, diperlukan pemimpin-pemimpin baru dalam bidang perbukuan yang visioner dalam melihat pandemi dan pasca-pandemi sebagai peluang untuk berkembang, terutama dalam konteks industri kreatif berbasis konten. Kita yang menjadi pemimpin kini juga diuji untuk menggagas sekaligus menggegas perubahan dalam lanskap perbukuan.

Bambang Trim adalah Pendiri dan Direktur Institut Penulis Indonesia. Ia telah berpengalaman lebih dari 25 tahun di dunia penulisan-penerbitan serta telah menulis lebih dari 200 buku. Ia juga menjadi Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia dan penggagas sertifikasi penulis dan editor di Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.