Menulis ‘Buku Duo’ atau ‘Buku Trio’: Jalan Penulisan Kolaboratif

0
415

Manistebu.com | Menulis, apalagi menulis buku tidak harus dilakukan sendiri seperti bersolo karier. Jadi, istilah ‘buku solo’ itu tidak harus mendekam secara tunggal di benak Anda. Perlu ditambahkan temannya yaitu ‘buku duo’ dan ‘buku trio’.

Anda tahu bahwa ada orang yang memosisikan dirinya sebagai co-author atau co-writer. Kita menyebutnya satu istilah saja yakni ‘penulis pendamping’.

Istilah co-author dan co-writer memperlihatkan perbedaan kontribusi keduanya. Co-author berkontribusi terhadap pengembangan gagasan dan terkadang sekaligus penulisan. Ia ikut terlibat membantu pengarang (author) menstrukturkan gagasan dan (mungkin) menambahi materi.

Adapun co-writer sebatas membantu penulisan tanpa ikut terlibat di dalam gagasan. Ia membuat gagasan itu berwujud tulisan sekaligus memang enak dibaca dan perlu.

Jika Anda seorang pengarang (author), apa yang membuat Anda memerlukan pendamping? Tentu tidak ada hubungan dengan status Anda yang jomlo. Hubungannya dengan kebutuhan atau kepentingan terkait penerbitan. Ada karena keterbatasan Anda dan ada pula karena keinginan Anda melaksanakan mentoring.

Kolaborasi dari Sisi Pengarang (Author)

Alasan utama seorang pengarang perlu melakukan kolaborasi ialah keterbatasan. Apa saja keterbatasan itu?

  1. Keterbatasan Waktu: Hal ini sering menjadi alasan utama ketika antara tenggat (batas waktu) penerbitan dan waktu yang tersedia tidak mencukupi. Biasanya pengarang memiliki kesibukan lain yang membuat ia tidak akan mampu menyelesaikan naskah tepat waktu.
  2. Keterbatasan Pengetahuan: Materi naskah luas dan kompleks sehingga memerlukan kajian dari bidang lain atau memerlukan riset mendalam. Dengan keterbatasan tersebut, pengarang mengajak pengarang lain sebagai pendamping untuk memperkuat materi naskah.
  3. Keterbatasan Keterampilan: Keterampilan di sini adalah keterampilan dengan baik. Beberapa pengarang, bahkan mungkin banyak yang memang tidak terampil menulis, terutama menguasai bahasa tulis atau laras bahasa tertentu. Karena itu, pengarang memerlukan orang lain untuk dapat mengalirkan gagasannya secara bernas sekaligus mudah dipahami.

Alasan kolaborasi lain yang mungkin dilakukan pengarang adalah alasan mentoring. Beberapa pengarang senior sebagai mentor sering kali mengajak juniornya menulis bersama untuk menguatkan kemampuan mereka dalam publikasi atau diseminasi gagasan, baik hasil penelitian maupun hasil pemikiran.

Kolaborasi dari Sisi Penulis (Writer)

Seorang penulis (writer) dapat menjual keterampilannya sebagai bisnis penulisan kategori pendampingan. Mereka tahu banyak orang yang memiliki gagasan brilian, tetapi tidak mampu menuliskannya. Karena itu, mereka menawarkan posisi sebagai pendamping atau companion dalam penulisan.

Seorang penulis yang menawarkan jasa ini harus memahami posisi mereka, sebagai co-author atau co-writer? Ia harus fleksibel dalam memberikan pendampingan. Satu hal yang harus dipahami bahwa ketika mereka diminta menjadi co-author, mereka harus memiliki wawasan pengetahuan tentang bidang yang akan ditulis—walaupun latar belakang pendidikannya tidak linear dengan bidang yang akan ditulis.

Kesepakatan memang menjadi dasar pendampingan ini. Nama penulis sebagai co-author atau co-writer dicantumkan sebagai nama kedua setelah pengarang (author).

Lalu, apakah penulisan bayangan termasuk ke dalam kolaborasi? Ya, itu juga kolaborasi hanya kolaborasi takkentara karena nama penulis (ghost writer) tidak dicantumkan di dalam publikasi. Penulisan bayangan hanya relevan untuk karya-karya tertentu, seperti memoar, autobiografi, biografi, dan karya pemikiran.

Berduo atau Bertrio

Bagaimana jika posisi Anda dan mitra Anda sama-sama tidak dapat menulis? Artinya, co-author Anda juga memiliki keterbatasan keterampilan menulis. Tentu Anda berdua memerlukan “orang ketiga” yang sudah pasti ialah co-writer.

Saya sering memberi contoh buku berjudul Execution: Seni Menyelesaikan Pekerjaan karya Larry Bossidy dan Ram Charan. Dua orang itu sama-sama berposisi sebagai author dan Ram Charan ialah co-author. Muncul orang ketiga bernama Charles Buck.

Charles Buck memiliki pengalaman sebagai penulis dan editor. Ia disebut-sebut telah sering bekerja sama dengan Ram Charan di sejumlah buku. Ia juga pernah menjadi salah satu redaktur di majalah Fortune.

Jadi, Anda sah-sah saja menulis “berduo” atau “bertrio”, it’s okay!

Berbeda dengan Penyuntingan

Penulisan pendampingan tidak sama dengan kerja penyuntingan. Perbedaannya jelas dari sisi objek yang dikerjasamakan. Penulis pendamping bekerja dari gagasan atau ragangan (outline)—naskahnya belum ada. Adapun editor atau penyunting bekerja dari draf naskah yang sudah selesai.

Bagaimana jika status editor naik menjadi penulis pendamping? Hal ini mungkin terjadi pada objek naskah yang dirombak total alias dilakukan penyuntingan substantif. Sering kali dari sisi pengarang (author) mengajukan penawaran memuat juga nama editor sebagai penulis pendamping.

Boleh jadi juga editor yang akhirnya mengajukan penawaran namanya disebutkan sebagai penulis pendamping karena ia merasa telah ikut berkontribusi terhadap konten naskah secara keseluruhan. Hal ini memang merupakan kasus-kasus yang mungkin terjadi dari aktivitas penyuntingan.

***

Ingin mengetahui lebih detail seluk-beluk penulisan kolaboratif? Webinar ini menyajikan materi tersebut dengan narasumber saya sendiri, Bambang Trim. Silakan mendaftar pada tautan berikut ini: s.id/WebPPro

Bambang Trim adalah Pendiri dan Direktur Institut Penulis Indonesia. Ia telah berpengalaman lebih dari 25 tahun di dunia penulisan-penerbitan serta telah menulis lebih dari 200 buku. Ia juga menjadi Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia dan penggagas sertifikasi penulis dan editor di Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.