Melukis Cita-Cita

Manistebu.com | Sungguh saya tak pernah membayangkan jalan hidup diri saya setelah lulus SMA sehingga memilih menjadi editor dan penulis. Saya pun tidak membayangkan apa yang terjadi pada putri saya, Valya, sampai kemudian ia saya lihat sebagai pembaca buku yang selektif.

Saat meminjam novel yang dibelinya Laut Bercerita, saya takjub melihat novel itu diberi sorot warna pada banyak halaman teks dan catatan-catatan. Ia kagum sekali dengan buah karya Leila S. Chudori itu sampai menuliskan: best ever historical novel. Saat saya bawakan edisi 20 tahun Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan, matanya berbinar.

Saya kira Valya akan jadi novelis karena sempat mengetahui ia menulis cerita bergenre thriller di Wattpad. Tapi, ternyata sedikit meleset.

Sampai kemudian ia menghasilkan beberapa karya lukisan cat air dan sketsa karya arsitektur, seperti Menara Eiffel dan London Bridge. Minatnya condong ke seni lukis. Saya senang saja karena masih terhubung dengan pekerjaan saya. Terbayang kami berduet ayah dan anak untuk membuat buku cerita anak bergambar.

Valya pun saya masukkan ke kursus Vila Merah yang legendaris di Bandung. Ia ingin memasuki kampus impiannya melalui jalur SNBP, bertarung dengan portofolio karya bersama peminat lainnya.

Dugaan saya, Valya akan memilih jurusan DKV sesuai dengan cita-citanya masuk FSRD ITB. Tapi, di luar dugaan ia lebh tertarik ke Seni Murni daripada DKV

Alasannya, ia tak suka dengan ilustrasi berbasis komputer. Ia lebih suka dengan gambar dan warna yang natural dengan cat air dan cat minyak. Okelah kalau begitu. Saya bukan tipe orang tua yang saklek mengarahkan anaknya untuk memilih jurusan tertentu. Seperti dulu saya juga tidak dilarang oleh orang tua saya kala memilih D-3 Editing di Unpad menjadi tukang editor alih-alih tukang insinyur.

***

Pilihan Valya memantik saya menuis novel anak Rahasia Onthel Pak Guru dengan latar kisah pelukis. Saya memilih tokoh utama, Jono, seorang guru honorer mata pelajaran seni rupa. Jono belajar menggambar sejak kecil kepada seorang pelukis perempuan. Ia berhasil masuk PTN jurusan pendidikan seni rupa lalu menjadi guru dan pelukis jalanan di daerah Braga Bandung.

Menuliskan cerita anak ini juga mengingatkan saya berinteraksi dengan para ilustrator dalam penulisan buku, baik yang sudah kawakan maupun yang masih muda-muda. Saat mendampingi penulisan buku cerita anak berbasis Perjenjangan Buku akhir 2022 lalu, saya terkagum-kagum dengan karya para ilustrator muda Indonesia. Saya menaruh takzim dengan sosok ilustrator buku yang saya kenal, seperti Pak Itok Isdianto dan Pak Gerdi Wirata Kusuma—sang legendaris ilustrator Bobo.

Untuk merancang kover buku ini, saya gunakan Canva Pro, dengan pikir dan rasa desainer dadakan/amatiran, hahaha. Saya ingat dulu semasa SMP dan SMA masih piawai menggambar, tetapi sekarang kemampuan itu lenyap tak berbekas. Mungkin seperti teori mielin, keterampilan itu lenyap karena ditimpa keterampilan baru dan juga karena tidak pernah dilatihkan lagi. Kecerdasan otot menggambar saya pun meredup.

Ingat dengan salah satu unsur di dalam penerbitan fiksi, saya menerapkan unsur parateks dengan menampilkan goresan warna dan gambar sepeda onthel. Semua saya ambil dari Canv sebagai gabungan elemen. Inilah buah teknologi karena dulu saya masih kepayahan mendesain kover menggunakan Adobe Ilustrator dan Photoshop.

Dan sangatlah “mudah” menulis novel anak kini dibandingkan ketika kali pertama saya menulis tahun 1995. Mudah karena riset dapat dilakukan sangat cepat mengandalkan pencarian pada mesin peramban. Saya meriset soal sepeda onthel dan juga para pelukis.

Dari hasil pencarian, saya ketahui pelukis perempuan luar biasa bernama Christine Ay Tjoe, beraliran ekspresionisme. Ia kelahiran 1973, lulusan Seni Murni, FSRD ITB. Lukisannya terjual miliaran rupiah. Saya sisipkan tentang pelukis ini dalam dialog cerita.

Tak lupa saya sisipkan juga biografi ringkas tokoh Pak Tino Sidin yang seperti saya, lahir di Tebing Tinggi Deli, Sumatra Utara. Pak Tino Sidin, seniman gambar yang populer tahun 1970-an hingga akhir 1980-an karena tampil di TVRI. Ucapan khasnya ‘bagus’ selalu teringat di kepala meskipun saat itu saya tak sempat mengirimkan karya gambar saya ke TVRI.

***

Novel anak ini walau mengangkat konflik sedikit kompleks, tetaplah sebuah novel anak yang harus saya pertahankan kesederhanaannya. Ia menjadi novel awal (first novel) sebagai bacaan peralihan anak-anak menuju novel remaja.

Kali ini saya menyajikan tokoh orang dewasa, Pak Jono, sebagai pak guru yang mengajar seni rupa di SD. Tetap ada tokoh anak-anak dan menyajikan alam kehidupan anak-anak.

Novel ini dapat dipesan di https://penulispro.id/item/rahasia-onthel-pak-guru/ dan akan tersedia akhir Januari atau awal Februari 2023. Novel anak ini ber-ISBN 978-623-09-1808-7, karya perdana saya dari ranah sastra anak.***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: