Daftar Rujukan vs Daftar Pustaka

0
2273

Sejenak dahi saya berkernyit ketika mendapat pertanyaan sekaligus pernyataan dari peserta “Pelatihan Penulisan Buku Ilmiah” di LIPI beberapa waktu lalu. Pasalnya, yang ditanyakan pertama adalah apa beda antara bibliografi dan daftar pustaka.

Saya pun menjawab, “Bibliography adalah istilah dalam bahasa Inggris yang diserap menjadi bibliografi atau daftar pustaka dalam bahasa Indonesia. Jadi, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Mungkin yang Ibu maksud perbedaan antara Daftar Rujukan dan Daftar Pustaka….”

Saya lalu menjelaskan lagi perbedaan mendasar daftar rujukan atau references dan daftar pustaka atau bibliography.

Daftar rujukan adalah daftar bahan-bahan yang dirujuk langsung di dalam teks (buku, makalah, majalah, surat kabar, atau media daring) dan tentu sudah pasti tersebut di dalam teks. Karena itu, daftar rujukan kerap digunakan dalam karya-karya akademis agar penguji atau dosen dapat meneliti langsung sumber referensi yang digunakan oleh penulis, contohnya dalam artikel ilmiah di jurnal, makalah, skripsi, disertasi, dan tesis. Daftar rujukan jelas lebih disukai pada karya akademis karena sifatnya yang terbatas sehingga para penguji, penyunting, ataupun dosen dapat melakukan verifikasi silang antara teks dan sumber yang dirujuk. Rujukan dalam teks dapat berupa catatan perut (in-notes), catatan kaki (foot notes), dan catatan akhir (end notes). Di dalam daftar rujukan biasanya juga tercantum nomor halaman dari sumber bacaan yang dirujuk langsung.

Daftar Pustaka adalah daftar bacaan yang memperkaya tulisan sehingga tetap dicantumkan penulis dengan atau tanpa dirujuk langsung di dalam teks. Daftar pustaka alhasil memuat semua daftar bacaan sang penulis yang disusun berdasarkan alfabetis, sama halnya dengan daftar rujukan (references), tanpa memuat nomor halaman dari bagian sumber yang dirujuk.

Jadi, itu perbedaan mendasarnya. Nah, saya goyah ketika salah seorang peserta lain menimpali bahwa yang mereka acu selama ini adalah kebalikannya. Lantas, ia pun balik bertanya dari mana saya mendapatkan sumber pengertian sedemikian. Tampaknya mereka begitu yakin bahwa acuannyalah yang benar selama ini yaitu justru dalam daftar rujukan semua bahan yang digunakan didaftar meskipun tidak dirujuk langsung, tetapi hanya dibaca. Apakah saya yang keliru?

Saya mengatakan bahwa banyak hal dalam penerbitan buku merupakan konvensi. Namun, rujukan yang saya gunakan adalah buku-buku gaya selingkung (house style book) seperti Modern Language Association Handbook (MLA), The Australian Editing Handbook, atau The Chicago Manual of Style. Dalam buku gaya selingkung itu tersurat perbedaan antara references dan bibliography karena hal ini pun di luar negeri sering menimbulkan kerancuan.

Sebuah situs yang memuat banyak hal tentang perbedaan yaitu http://www.differencebetween.net juga mengungkap perbedaan mendasar antara daftar rujukan dan daftar pustaka.

Bibliography is listing all the materials that have been consulted while writing an essay or a book. References, on the other hand, are those that have been referenced in your article or book.

Dalam The Australian Handbook (1996: 76), bahkan disebutkan bahwa di dalam bibliografi (daftar pustaka) dapat dibedakan karya yang dikutip langsung (references) dan daftar bacaan lanjutan (suggested further reading) dengan memberinya subbab khusus. Jadi, pengertian bibliografi pun tersirat sebagai daftar yang memuat lengkap sumber bacaan maupun sumber referensi langsung.

Jadi, dalam buku-buku umum populer, Anda justru akan menemukan lebih banyak penggunaan daftar pustaka dibandingkan daftar rujukan. Pada buku-buku umum populer itu memang banyak buku yang dijadikan sumber bacaan penulis, tetapi tidak dirujuk atau dikutip langsung di dalam teks–fungsinya hanya sebagai pengaya informasi.

Sebenarnya, dari penamaannya saja sudah tersirat perbedaannya. Daftar rujukan berarti daftar bahan-bahan yang dirujuk. Adapun daftar pustaka berarti daftar kepustakaan, apakah itu buku, majalah, surat kabar, atau media daring (online)–tidak ada kesan itu dirujuk.

***

Saya menganalogikan juga kerancuan yang sama terjadi ketika banyak akademisi maupun lembaga akademis kita tidak dapat membedakan antara pengantar (foreword) dan prakata (preface). Peserta yang sama pun bertanya dasar saya mengatakan hal itu dan kembali saya menyebut ini konvensi yang tercantum penjelasan serta perbedaannya di buku-buku gaya selingkung (house style book), baik pada selingkung negara maupun pada selingkung institusi/lembaga. Logikanya juga dapat berterima bahwa kata pengantar ditulis oleh orang lain (diantarkan) dan prakata ditulis oleh penulis sendiri; tentulah tidak dapat asal dipertukarkan atau dianggap sama saja.

Kata pengantar berisikan apresiasi tokoh (yang diminta memberi kata pengantar) terhadap buku dan juga terhadap penulisnya. Jika pun ada kritik, sifatnya tetap menghargai. Adapun prakata berisikan uraian tujuan mengapa penulis menulis karya tersebut dan untuk siapa (pembaca sasaran) karya itu dituliskannya. Biasanya di dalam prakata, penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantunya. Namun, jika yang diucapi terima kasih banyak atau ingin dikhususkan, tempatnya bernama “ucapan terima kasih” atau “acknowledgement”.

Nah, kalau selama ini kita memahami yang keliru, lalu disebarkan, kekeliruan itulah yang terus kita bawa dan kita yakini. Sama halnya dengan yang terjadi pada pengertian “modul”. Dalam praktiknya modul yang dibuat itu semestinya bernama “diktat” atau “buku ajar” karena digunakan dalam pembelajaran bersama guru, dosen, tutor, atau widyaiswara.[BT]

Catatan: Saya mendapatkan mata kuliah Bibliografi selama dua semester yang bobot 2 SKS masing-masing di Prodi Editing Unpad. Terima kasih kepada dosen saya, Ibu Lanny, dari ITB yang banyak memberikan pencerahan soal seluk-beluk kepustakaan, termasuk juga klasifikasi karya pustaka (Sistem Dewey), apa itu ISBN, hingga apa itu Katalog Dalam Terbitan (KDT).

©2013 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here